Secara historis, perempuan selalu merasa bahwa menstruasi adalah sesuatu yang memalukan, perasaan yang masih lazim di masyarakat dan budaya populer hingga saat ini (Rosewarne, L. Periods in Pop Culture: Menstruation in Film and Television; Lexington Books: Lanham, MD, USA: 2012). Pikiran tabu inilah yang menjadi akar yang menyulitkan untuk berdiskusi soal alternatif yang lebih berkelanjutan mengenai dan soal menstruasi ini. 

Kritik feminis mengeklaim bahwa produk menstruasi sekali pakai sarat dengan ide-ide patriarki yang menyarankan menstruasi adalah masalah yang tidak higienis (kotor, jijik) dan harus disembunyikan (tak perlu dibicarakan berlebihan) ini pernah ditulis oleh Raftos, M, Jackson, D, Mannix, J, dalam Idealised versus tainted femininity: Discourses of the menstrual experience in Australian magazines that target young women: 1998.

Diskursus publik hari ini tentang menstruasi didominasi oleh model-model pikiran yang menekankan hampir secara eksklusif hubungan antara menstruasi dengan melahirkan anak oleh perempuan. Dengan demikian, ini makin memperkuat gagasan bahwa kebertubuhan perempuan (secara fungsional) hanya diartikan dalam lingkup reproduksi, utamanya untuk dan hanya boleh dieksploitasi oleh laki-laki. 

Konsekuensi akan pikiran itu, sewajarnya dari hal ini sebagaimana yang oleh Adrienne Rich (1980) dalam bukunya Compulsory Heterosexuality and Lesbian Existence disebut sebagai 'aturan wajib heteroseksualitas' atau ‘heteronormativitas' yang keberlakuannya harus ada. 

Sophie Laws berpendapat perlunya untuk mengembalikan kepercayaan dan ide-ide terhadap perempuan yang diedarkan di masyarakat untuk mengidentifikasi kembali praktik-praktik yang dijalani dan soal pengalaman kebertubuhan yang dialami oleh perempuan secara otentik (Issues of Blood: The Politics of Menstruation: 1990). 

Dia menyarankan bahwa temuannya menunjukkan perbedaan yang sangat jauh antara perspektif atau pandangan 'orang awam' atau yang disebutnya dengan laymen dan ahli tertentu bisa secara medis, ekonomis, politis yang ditulis oleh mereka punya kompetensi namun begitu maskulin soal menstruasi ini.

Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial Budaya

Dikutip dari Guardian dengan judul artikel Let’s make period poverty history, Di Inggris sendiri, kemiskinan itu juga sangat memengaruhi dan ada keterkaitannya dengan menstruasi. 

Sekitar £ 1,5 juta dari “dana pajak tampon” dijanjikan untuk proyek Brook untuk mengatasi kemiskinan di Inggris. Namun hal ini juga bukan kabar gembira yang mana alokasi dana pra-komitmen tersebut berasal dari ketidakadilan pemungutan PPN pada produk menstruasi itu sendiri. 

Pemerintah telah mengatakan bahwa kemiskinan dalam soal menstruasi ini adalah masalah yang mana sebetulnya sekolah bisa mengatasi itu sendiri. Namun tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam menjalani pendidikan mereka yang mana pendidikan itu diselenggarakan oleh negara melalui pemerintah tentu pemerintah tak bisa cuci tangan begitu saja. 

Lantas, bukan hanya sekolah atau guru yang secara individu bisa lakukan sendiri. Hak atas pendidikan adalah hak asasi manusia yang sangat fundamental yang seharusnya tidak terbebani oleh masalah biologis yang sangat harus diperhatikan, inilah masalah dari menstruasi itu.

Selain itu, mengenai tidak semua produk itu cocok dan dapat dikonsumsi atau dapat diakses semua orang meski ada beberapa produk yang katakanlah produk itu tersedia dan dianggap biayanya terjangkau. 

Bahkan produk yang paling murah sekalipun bisa menjadi mahal, sekitar 40% (mengacu pada artikel di Guardian tadi, lihat juga tanggalnya bisa jadi ada perubahan terhadap itu), anak yang hidup dalam garis kemiskinan, dan akibatnya satu di antara hal yang tidak bisa mereka beli adalah produk ya itu tadi, produk untuk menstruasi. Itu saja di Inggris, lalu bagaimana di Asia?

Dalam tulisan berjudul An Opportunity to Addres Menstrual Health and Gender Equity yang dikeluarkan oleh FSG. Mereka melakukan studi di Asia Selatan yang menemukan 33% dari anak perempuan yang masih bersekolah bahkan tidak pernah mendengar soal menstruasi sebelum mengalami menarche (menstruasi pertama), dan 98% anak perempuan tidak menyadari bahwa darah menstruasi berasal dari rahim. 

Diperkirakan bahwa lebih dari separuh perempuan dan anak perempuan di kelas bawah dan negara-negara berpenghasilan menengah; low-and middle-income countries  (LMICs) menggunakan bahan-bahan buatan sendiri sebagai metode primer atau sekunder untuk mengelola masa menstruasi mereka.

Di Ethiopia, penelitian menunjukkan bahwa 25% anak perempuan tidak menggunakan produk komersial apa pun untuk mengelola siklus datangnya menstruasi mereka dan mengisolasi diri selama masa haid. 

Dalam tulisannya FSG, juga mengatakan tantangan yang dihadapi oleh perempuan dan anak perempuan saat menstruasi melampaui manajemen praktis saja (dalam persoalaan medis ditambah dengan persoalaan kemiskinan saja) juga masalah yang mempengaruhi apa dan bagaimana peran perempuan dalam masyarakat (secara sosiologis). 

Menarche, gejala awal timbulnya menstruasi, sering menandakan perubahan mendadak pada anak perempuan ada proses ketika mereka beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa. 

Setelah menarche, harapan tentang kemurnian seksual dan kepatuhan sosial muncul untuk anak perempuan, sementara anak laki-laki yang menjalani pubertas akan dihadapkan pada tekanan baru (dalam bentu biologis tadi, lalu ke urusan sosiologis juga) untuk menunjukkan kejantanannya atau maskulinitas yang tersurplus dan kejantanan itu adalah jalan penaklukan seksual terhadap perempuan. 

Kesehatan menstruasi adalah istilah yang mencakup manajemen kebersihan menstruasi (menstrual hygiene management; MHM) seperti serta faktor sistemik yang lebih luas yang menghubungkan menstruasi dengan kesehatan, kesejahteraan, jenis kelamin, pendidikan, kesetaraan, pemberdayaan, dan hak-hak perempuan.

Produk Saniter dan Soal Lingkungan

Berkeley dalam tesisnya The Intimacy of Commodities: Social Control, Subjectivity and Feminine Hygiene menjelaskan meningkatnya penggunaan barang-barang ini (pembalut) berbading lurus dengan masuknya perempuan ke tempat kerja yang lebih didominasi laki-laki. 

Meskipun benar bahwa ini juga dapat dilihat sebagai pembebasan terhadap kebertubuhan perempuan, karena sejarah menstruasi akan menyarankan bahwa manajemen modern dari siklus mengatur alur menstruasi adalah pengalaman yang jauh lebih nyaman dan bersahabat bagi perempuan. 

Hanya saja, masalahnya lagi soal keinginan perusahaan (pelaku usaha) untuk menghasilkan laba yang begitu terkapitalistik mengapa pembalut sekali pakai menjadi lebih populer daripada yang dapat digunakan kembali. Mereka memiliki potensi komoditas yang lebih tinggi daripada yang dapat digunakan kembali karena konsumen diharuskan untuk membelinya kembali secara teratur.

Sedangkan menstrual cup (cangkir menstruasi) yang bahkan beredar rumor yang diedarkan akan menghilangnya keperawanan seseorang misalnya yang justru lebih dapat dipakai berkelanjutan dengan upaya-upaya tertentu, yaitu edukasi terhadap perempuan mengenai hal ini.

Kurangnya perhatian dari pemerintah ditambah stigmatisasi dari masyarakat soal menstruasi ini hingga tak mampunya membeli produk saniter, namun tidak sedikit pula perempuan yang menggunakan menstrual hygiene products (Produk Saniter) satu di antaranya ialah pembalut atau tampon yang sekali pakai. 

Meski masalah soal pendidikan kesehatan dan manajemen kebersihan mengenai menstruasi ini sedikit lebih baik walau tak meniadakan soal stigma tadi, yang jadi masalah baru ialah dalam hal pembuangannya (yang hampir sama seperti kebergunaan plastik). 

Menurut Franklin Associates di tahun 1998 (dikutip dari Mark Boyle, The Moneyless Man: 2010), sekitar 6,5 miliar tampon dan 13,5 miliar pembalut, termasuk kemasannya, berakhir di tempat pembuangan akhir atau sistem pembuangan lain. 

Mengutip dari lamannya Technology and Operations Management, yang berjudul The Ecological Impact of Feminine Hygiene Products, lebih dari 50% populasi dunia mengalami menstruasi (maksudnya mereka yang berjenis kelamin perempuan), namun pembicaraan tentang kebersihan wanita dan dampak ekologis dari pilihan produk yang dibuat wanita jarang bahkan tidak dibicarakan sama sekali. 

Faktanya, tabu di sekitar periode menstruasi menghambat perkembangan produk baru di ruang publik alias pasar dengan hanya sedikit atau tanpa inovasi selama lebih dari 80 tahun terakhir ini. Hampir 20 miliar pembalut wanita, tampon dan aplikator dibuang ke tempat pembuangan sampah Amerika Utara setiap tahun (Why Switch to Healthy, Reusable Menstrual Alternatives? | Lunapads.com: 2016). 

Saat dibungkus dengan kantong plastik, limbah higienis perempuan dapat memakan waktu berabad-abad untuk dapat terurai. Rata-rata wanita menggunakan lebih dari 11.000 tampon selama hidupnya, meninggalkan residu yang jauh melebihi umurnya (Cumulative Exposure And Feminine Care Products – Safe Cosmetics: 2016). Namun, beban limbah kolosal ini bukan satu-satunya dampak ekologis dari produk-produk higienis wanita sekali pakai. 

Penilaian siklus hidup tampon yang dilakukan oleh Royal Institute of Technology di Stockholm menemukan bahwa dampak terbesar pada pemanasan global disebabkan oleh pemrosesan LDPE, low-density polyethylene, a thermoplastic made from the monomer ethylene (polietilen densitas rendah, termoplastik yang dibuat dari monomer etilena) yang digunakan pada aplikator tampon yang ada di strip belakang plastik pembalut wanita yang membutuhkan energi bahan bakar fosil dalam jumlah yang besar. (Tanya Ha, Greeniology 2020: Greener Living Today, and in the Future: 2016.) Nilai satu tahun untuk produk higienis feminin pada umumnya meninggalkan jejak karbon sekitar 5,3 kg CO 2.

Soal Menstruasi di Indonesia

Lebih jauh lagi saat membicarakan soal bagaimana perempuan mengatasi menstruasi ini dan bagaimana untuk di Indonesia sendiri? Menstruasi perempuan masih sering menjadi masalah di sosial, budaya, dan bahkan di agama bukan tanpa sebab, yaitu kurangnya pendidikan soal manajemen kebersihan, kesehatan dan perawatan soal menstruasi dan atau reproduksi perempuan. 

Untuk di Indonesia sendiri, negara yang memiliki 16.056 pulau pada 2017. Jumlah ini berkurang 1.448 pulau dari sebelumnya sebanyak 17.504 pulau (Dikutip dari databoks katadata.co.id), tentu dengan wilayah yang sangat luas seperti ini bukan tak menjadi masalah satu di antaranya mengenai terlaksananya pemerataan hak atas kebertubuhan dasar yang harusnya negara jamin itu. 

Terutama di daerah pedesaan atau daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), anak perempuan tidak siap, ada yang sadar dan atau tidak sama sekali tentang menstruasi ini.

Lalu mari kita lihat lebih lanjut hasil penelitian Unicef (2015) di Indonesia sendiri memperlihatkan bahwa sebagian besar anak perempuan menggunakan pembalut sekali pakai saat menstruasi, yaitu lebih dari 99% responden di daerah urban dan lebih dari 97% responden di daerah rural yang menggunakan pembalut sekali pakai. Untuk pembalut cuci ulang yang terbuat dari kain, di daerah rural 9.6% dan urban 5.5% responden yang menggunakannya. 

Khusus anak perempuan di Sulawesi Selatan, hasil penelitian menunjukkan 14% menggunakan kain saat menstruasi terakhir dibandingan dengan anak perempuan di provinsi lain. Pembalut sekali pakai lebih disukai anak perempuan dalam mengatasi pendarahan saat menstruasi karena lebih menyerap daripada kain dan bahan lain, lebih mudah digunakan, dan mudah dibuang. Akan tetapi beberapa anak perempuan juga menyatakan pembalut tidak nyaman dan dapat menyebabkan iritasi dan gatal jika digunakan terlalu lama.

Beberapa anak perempuan miskonsepsi bahwa pembalut mengandung bahan pemutih dan bahan kimia lainnya yang dapat menyebabkan kanker dan iritasi. Hanya dua-pertiga anak perempuan di dareah perkotaan dan kurang dari setengah (41%) anak perempuan di daerah rural yang mengganti pembalut setidaknya setiap 4-8 jam sekali atau atau setiap kali kotor. Sisanya, 46% anak perempuan mengganti pembalut kurang dari dua kali sehari. 

Penggantian pembalut terendah terjadi di kalangan anak perempuan NTT: hanya 31% yang mengganti pembalut setiap 4-8 jam atau jika sudah kotor. Anak perempuan yang diwawancarai saat IDI dan FGDs menyatakan bahwa mereka hampir tidak pernah atau jarang mengganti pembalut di sekolah. 

Mereka yang memakai kain saat menstruasi terakhir, mayoritas telah mencuci kain dengan sabun dan air dan dikeringkan di bawah terik matahari. Di kalangan mereka di daerah urban, pembalut sekali pakai umumnya dibuang di tempat sampah atau (TPA) Tempat Pembuangan Akhir (78%). 

Meskipun demikian, hanya sekitar seperempat dari anak perempuan di daerah rural yang membuang sampah pembalut dengan cara ini: cara yang paling umum adalah dengan menguburnya (38%). Lebih dari seperempat dari anak perempuan di daerah rural membuang sampah pembalut di toilet siram (21%) atau lubang jamban (6%). 

Sangat sedikit dari anak perempuan urban dan rural yang membuang sampah pembalut dengan dibakar: meskipun demikian di NTT, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur mereka (anak perempuan) percaya bahwa membakarnya dapat menyebabkan bahaya dan konsekuensi kesehatan seperti kanker dan nyeri (Unicef, 2015).

Sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka mencuci alat kelamin setidaknya satu kali sehari, yaitu sebanyak 98,3% pada responden urban dan 95,1% pada responden rural. Lebih dari 90% anak perempuan mencuci tangan dengan sabun setelah mengganti pembalut, meski hanya 59% dari anak perempuan di daerah urban dan 48% di daerah rural yang mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut. 

Selain menurunnya partisipasi dalam sekolah dan kegiatan, praktik dan tantangan saat ini yang dihadapi anak perempuan di sekolah juga memiliki resiko kesehatan terkait infeksi, antara lain karena kurangnya kebiasaan mencuci tangan dan menggunakan kain yang tidak bersih (Unicef, 2015) dalam (Manajemen Kesehatan Menstruasi, 2017). 

Selain itu, dalam hal ini perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan kesadaran dan perubahan dalam mengola pikiran perempuan itu sendiri sangat diperlukan. Melalui penelitian ini maka dapat menemukan tertentu bahwa, persoalaan menstruasi bukan hanya persoalaan yang bisa diabaikan begitu saja, perempuan sepenuhnya memiliki kebebasan terhadap kebertubuhan untuk menentukan sikapnya. 

Setelah itu, edukasi mengenai kesehatan dan manajemen penanganan sangat perlu diproduksi setiap harinya terutama bagi sesama perempuan, juga mengenai masalah kelas, ada yang pakai pembalut dan ada yang tidak, ini juga tidak bisa diabaikan juga mengenai survei mereka yang menggunakan mengenai produk yang sekali pakai dan berkelanjutan bagi lingkungan.