2 tahun lalu · 127 view · 7 min baca · Keluarga 66827.jpg
https://www.facebook.com/mualimin.grard

Mensahabati Sekaligus Mengoreksi

Subjektivitas yang Mempengaruhi Kebenaran

Suatu dini hari, di depan Indomaret, Aku duduk termenung. Sepi, absurd, memandangi bajingan-bajingan knalpot lewat, menderu mengganggu bak tai yang menyerang pernafasan. Suara anjing menggonggong di kejauhan. Tanpa tahu dari mana datangnya, atau, dari rumah orang kaya yang sebelah mana ia menyalak.

Ku lihat, waktu menunjukkan pukul 02:30 WIB. Waktu yang tepat, bagi sebagian orang berdoa dalam biara-biara gelap. Jam-jam segitu, selalu lewat gerobak sampah. Ditarik seorang Bapak, didorong Wanita yang sepertinya istrinya. Di atas kaleng-kaleng, kardus dan botol bekas, seorang anak tidur. Tanpa bercerita pun, ketiga orang tersebut terlihat kelelahan.

Dalam pemandangan demikian, rasanya, ada wajah kehidupan yang menggambarkan betapa hidup hanya milik segelintir orang. Aku pikir, harus ada yang diubah dalam sistem perputaran kehidupan ini. Entah dengan kekerasan, atau perjuangan melalui ide.

Di kursi-kursi ini, meja bundarnya, asbak kristal, lalu-lalang anak zaman Penyembah kesenangan. Semua menjadi saksi pertemuan-pertemuan ribuan orang tiap bulannya. Kursi warna coklat, AC yang dingin, toilet yang tidak jorok. Segalanya membekas dan tetap terkenang meski Aku di kampung halaman.

Disini pulalah, dulu Saudara tuaku mengancam. Akibat dari ketololanku yang berujung polemik memalukan, Dia mengultimatum, akan menghapus namaku dari daftar Saudaranya. Sakit, keras, tegas. Dan Aku bersumpah tidak mau mendengar kalimat itu lagi.

Aku, cukup sering mengajak orang-orang bersendau-gurau di sini. Duduk berlama-lama, menunggui datangnya sepi, merindui belasan Pengamen sialan, menggunjing, membicarakan topik yang seringkali tidak jelas. Ya, memang itulah tujuannya. Tidak ada ide-ide besar, hanya kebersamaan yang coba ku rangkai, meski terkadang jenuh.

Aku meyakini, untuk seseorang menerima kebenaran, pertama-tama bukanlah kualitas ide itu sendiri, tapi kedekatan emosional. Orang boleh saja mempersiapkan kritik yang konstruktif dan spektakuler untuk diajukan ke suatu pimpinan. Tapi, selama dia asing dalam hati si Pendengar, maka ucapannya hanya akan menjadi angin lalu.

Banyak orang tidak menyadari, penolakan atas kebenaran sesungguhnya bukan karena kebenaran yang disampaikan berkualitas rendah dan meragukan. Justru, hambatan utama adalah ego si Penerima kritik. Ego cenderung rentan merasa terhina, direndahkan, dijelek-jelekan, diserang dan takut dianggap bodoh. Mestinya, Penyampai kebenaran harus sadar akan pentingnya basa-basi.

Dari situ, Aku berpikir, jalan emas dalam mendistribusikan kebenaran ide adalah harus melalui ikatan-ikatan emosional yang seringkali tampil dalam wajah rupa kebersamaan tanpa tujuan yang jelas. Banyak orang menyebut ikatan rasa tersebut dengan istilah ‘’persahabatan’’. Ketika seseorang mulai melenceng, harus yang paling dekat dengannya yang menasihati, bukan orang asing yang jauh.

Aku ingat-ingat kembali, sudah puluhan pertemuan, rapat, konsolidasi maupun adu gagasan yang ku selami. Payahnya, hampir semua orang dengan frontalnya mengadu ide yang satu dengan yang lain. Seolah gagasan adalah Gladiator yang sengaja dikeluarkan untuk dibentur-tabrakkan.

Dalam diskursus teori yang beraliran beda, debat adalah sangat perlu. Tapi, dalam kaitannya sharing gagasan antar seseorang dengan temannya, tidak sepantasnya digunakan cara-cara Pendebat. Seseorang yang dengan rendah hati ingin menguji kebenarannya, tidak perlu dibantai dengan arogan. Dibalik semua diskusi dan pertentangan ide, ada persahabatan yang harus dilindungi.

Hidup sebagai manusia biasa di muka bumi, tidak relevan bila menjadikan ide sebagai keutamaan tertinggi. Kebenaran bukan tujuan, tapi budak untuk kepentingan umat manusia. Seseorang yang menyembah kebenaran untuk kebenaran, maka dia akan tega membunuh manusia lain demi kebenaran dalam isi kepalanya. Seandainya manusia tercipta untuk sebuah ide, lalu ide tadi itu untuk apa/siapa?

Aku bisa saja mengunggulkan isi kepalaku, lalu menjauhi semua orang yang berbeda pandangan denganku. Tetapi, setelah itu apa? Apakah Aku akan hidup menyepi, sendiri bersama kebenaran yang ku yakini? Dengan berkumpul dengan manusia lain, sedari awal Aku berniat untuk melengkapi kebenaran yang ku semai.

Banyak orang berkerumun, berteriak, mengungkapkan aspirasi, meneriaki kelaliman Penguasa, menyampaikan ide-ide brilian untuk diadopsi menjadi kebijakan. Tapi, sejauh mana kebenaran yang disampaikan diakomodir? Tidak, problemnya bukan pada kualitas apa yang disampaikan, tapi yang menyampaikanlah yang dianggap ‘’Anda siapa?’’.

Seorang Presiden, akan sangat mudah mendengar dan mengakomodir pesan yang disampaikan istrinya. Kenapa? Karena kedekatan! Seorang Suami (meski pendapatnya berkualitas rendah), akan lebih didengar seorang Istri daripada saran dari tetangganya (padahal kualitas nasihatnya lebih bijak). Kenapa? Karena faktor kedekatan!

Faktor kedekatan, emosional, ikatan, keakraban, perkawanan, persahabatan dan kesamaan, sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu kebenaran. Cinta pun seperti itu, ia seringkali membunuh kebenaran karena dikuasai subjektivitas perasaan. Ini bukannya irasional, tapi sangat masuk akal bila dikaji lebih sungguh-sungguh.

Rumus asmara pun juga begitu. Kebanyakan, cinta seseorang ditolak bukan karena dia jelek, miskin, bodoh, tidak romantis atau berselimut kekurangan, tapi terlalu terburu-buru menyatakan cinta. Di dunia, betapa banyak pria jelek dan menggelikan, tapi berhasil memiliki kekasih yang cantik dan menggairahkan. Bisa jadi, karena lelaki tersebut lihai berbasa-basi dan ahli menciptakan kenyamanan.

Kunci utama yang perlu dikuasai adalah bukan kecerdasan, tapi keahlian mendekatkan diri dan memperkaya selera humor yang tidak basi. Bila orang sudah merasa nyaman, maka bibit kepercayaan akan tumbuh. Bila sudah percaya, pasti selangkah lagi menjadi teman. Teman yang intensitas komunikasinya ditingkatkan, perlahan bergerak naik level menjadi Sahabat.

Seorang yang sudah dianggap Sahabat, maka akan ditempatkan sebagai orang yang dianggap mau menampung suka-duka yang dialami. Karena persahabatan adalah proses yang dibangun dari kepercayaan, maka segalanya akan mengundang positive thinking. Seseorang yang berpikiran positif, bila melakukan kesalahan, lalu diingatkan (dikritik), Dia akan mendengarkan dan berterimakasih.

Begitu juga sebaliknya. Orang asing dan bukan Sahabat, cenderung dicurigai. Atau minimal belum dipercayai. Oleh karenanya, ketika Anda mengkritik seseorang yang tidak dekat dengan Anda, bisa jadi kritikan Anda dianggap sebagai serangan, padahal sebenarnya niat Anda sangat baik. Nah, disinilah diperlukan kelenturan sikap untuk mengubah metode penyampaian kebenaran.

Dasar pemikiran inilah, yang mendorong Aku untuk terus bagaimana caranya sebanyak mungkin menggaet Sahabat. Ini memang bukan prinsip sempurna. Beberapa orang, terasa dekat dalam pergaulan. Tapi, ketika dia berbuat salah, dan kita berusaha memberi teguran, saran, nasihat atau kritikan, serta-merta dia berubah laiknya ‘’beruang’’ yang kalap, lalu emosi dan mengamuk.

Kenyataan ini pulalah yang disadari Karl Marx dan Paulo Freire. Seorang Penindas dan Perampas, sangat mungkin tidak mau berubah meski diperingatkan dengan baik dan sopan. Ada banyak contoh di muka bumi, seseorang yang didekati terus-menerus dengan hikmah, tapi tidak pernah mau berubah. Manusia semacam itu, sesungguhnya sudah terkunci oleh egonya yang terlalu kuat dan besar.

Tidak peduli apakah pendekatan semacam ini berhasil atau tidak. Dibalik semua persahabatan yang ku tawarkan, sesungguhnya Aku hanya ingin mengembangkan kemanusiaan. Berharap, dari kebersamaan yang kita bangun, akan ada solidaritas yang muncul. Persoalan dunia ini terlalu banyak dan rumit, oleh karenanya, tidak mungkin diselesaikan secara sendiri-sendiri.

Tidak peduli gurauanku, basa-basiku, candaanku dan bujukanku terasa menjijikkan atau tidak. Aku butuh bantuan oranglain untuk menumpas kebodohan, kemiskinan, sistem yang menindas, Penguasa lalim dan egoisme yang keterlaluan. Cepat atau lambat, Aku akan segera mati. Disisa waktuku, Aku hanya ingin berbuat lebih bagi pengurangan masalah yang ada di dunia ini.

Aku percaya, tidak ada yang mampu mengubah seseorang kecuali dirinya sendiri. Bila jalan pengubahan gagal ku lakukan, bagaimana mungkin dunia terbebas dari kesengsaraan? Sebelum seorang Revolusioner menggerakkan pengikutnya untuk mengubah dunia, pertama-tama dia harus berhasil mendistribusikan kebenaran idenya kepada oranglain.

Tanpa perubahan, dunia tidak mungkin menjadi baik. Untuk seseorang berubah, harus ada dasar kebenaran yang diyakini. Bila kebenaran gagal ditransformasikan, maka seseorang tidak tahu ada kebenaran. Bahkan, dia tidak tahu selama ini apa yang dipikirkannya ternyata salah dan butuh koreksi. Mengoreksi diri butuh data pembanding dari oranglain yang disebut ‘’kebenaran’’.

Aku sadar akan ke-Akuanku, karena ada sesuatu yang lain yang bukan aku. Sesuatu dikatakan ‘’dingin’’, karena ada sesuatu lain yang disebut ‘’panas’’. Nah, berubahnya seseorang tidak cukup hanya diberi tahu tentang mana yang benar. Karena kebenaran bisa jadi masih dihadang oleh ego dan emosi. Maka, untuk melengkapinya, dibutuhkan unsur subjektivitas.

Subjektivitas sangat menentukan bagi tersampaikannya pesan, pengetahuan dan kritik. Pendapat seorang Kiai, akan lebih mudah diikuti oleh umat Islam ketimbang pendapat seorang Pastor. Itu bukan persoalan kualitas nasihatnya, tapi siapa yang beropini, agamanya apa, Dia siapa, dari kelompok mana, dan mempunyai kesamaan dengan kita atau tidak.

Aku tidak ingin berlagak laiknya seorang Penceramah. Yang sebentar-sebentar bertemu orang, main menasihati begitu saja. Bila itu dilakukan, orang akan muak dan menganggap kita berperilaku murahan. Dakwah dan menyampaikan ide tidak harus langsung ke intinya. Untuk menuju ke suatu kota, justru jalan yang menarik bukanlah yang lurus-lempeng, tapi yang berkelok dan meliuk-liuk.

Jadi, rintis saja dulu kenyamanan, tembak belakangan. Dekati saja dulu, nyatakan cinta akhiran. Intinya dahulukan mensahabati, baru mengkritisi. Toh menyampaikan kebenaran tujuannya juga bukan untuk kebenaran itu sendiri. Tapi untuk perbaikan. Di dunia ini, yang namanya perbaikan, muara akhirnya adalah untuk manusia itu sendiri.

Setajam apapun lidah kita menasihati Sahabat, toh tujuannya bukan untuk menghakimi dia bersalah atau tidak. Tapi, dari kesalahan tersebut, dia mau memperbaiki diri. Usai dia berubah menjadi lebih baik, toh juga demi kita agar sama-sama hidup dalam ikatan persahabatan yang dilandasi kebenaran dan kebaikan.

Jadi, mari nongkrong kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun. Tidak peduli anda seorang Pendosa, yang berbuat salah atau tidak. Aku hanya ingin bersahabat, lalu dari situ, Aku menunjukkan kepedulianku padamu dengan mengkritikmu ketika Kau salah. Bila kritikanku tidak Kau ikuti, itu terserah anda. Terpenting, persahabatan kita jangan sampai putus hanya karena perbedaan pendapat.

Aku percaya, kalaupun di dunia ini ada yang sakral, itu jelas bukan teori atau ide, tapi keberadaan manusia itu sendiri. Bagaimanapun pendapat yang dimiliki seseorang, selama tidak mengarah ke pencabutan nyawa manusia lain, maka biarkan saja. Tidak boleh ada paksaan dalam gagasan. Laa ikraha fiddiin. Tidak boleh ada paksaan dalam kebenaran-agama.

Artikel Terkait