Gara-gara dalam salah satu obrolan melalui WhatsApp menyinggung tentang mens, jadi teringat cerita—yang entah fakta atau fiksi. Kabarnya mens adalah kutukan yang diberikan kepada Hawā gara-gara makan buah terlarang. Buah itu sendiri didapatkan olehnya setelah dipetikkan oleh Ādam.

Saya tak tahu cerita tentang kutukan itu benar-benar terjadi atau hanya sekadar hasil daya imajinasi. Saya juga tak tahu bagaimana rasanya mengalami mens. Tapi menurut 8 perempuan yang saya tanya dan mau menjawab, bilang kalau sedang mens itu sakit, apalagi pas pertama kali. Mungkin karena sakit itulah cerita bahwa mens merupakan kutukan untuk perempuan ada yang mengamini—dan mengimani.

Biasanya cerita tentang kutukan terjadi ketika sosok tertentu melakukan kesalahan. Misalnya kesalahan masyarakat Isrāel zaman Mūsā yang dikutuk menjadi kera. Kutukan tersebut diberikan karena mereka tidak mengagungkan hari Sabtu, yang waktu itu menjadi hari peribadatan kolektif laiknya salat Jumat. Atau Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu, karena enggan mengakui ibu kandungnya.

Masalahnya, apakah perilaku Hawā ketika meminta Ādam untuk mengetikkan buah terlarang—yang kemudian dituruti—itu merupakan kesalahan? Sebagian orang mungkin menjawab iya. Jawaban yang membuat mereka serta-merta menyebut Hawa adalah biang keladi terusirnya manusia dari surga dan terdampar di planet bumi.

Namun, kalau kronologi penciptaan manusia oleh Allōh dicermati, bukankah tujuan awal penciptaan manusia itu untuk menjadi kholīfah di Bumi, bukan anteng saja di Surga? Memang pada masa awal, Ādam sempat ditempatkan di Surga—kemudian karena merasa kesepian berharap diberi pasangan—tapi itu hanya sementara saja, bukan?

Kalau begitu, bukankah tanpa perbuatan tersebut Hawā tersebut, mungkin dia dan Ādam selamanya menjadi penghuni surga? Kalau berkelanjutan anteng di Surga hingga batal bertempat di planet Bumi, bukankah melanggar tujuan penciptaan? Padahal tujuan tersebut sempat disampaikan kepada para Malāikat, yang meski sempat menolak akhirnya sepakat juga.

Mengapa bisa muncul cerita bahwa mens adalah kutukan? Bukankah kalau perempuan bisa mens itu sebagai tanda punya sel telur yang berperan dalam sistem reproduksi? Tanpa adanya mekanisme reproduksi, apakah manusia bisa terus tetap menjadi kholīfah di planet Bumi? Bahkan, sebagian perempuan yang sudah pernah mens lalu berhenti, merasa cemas lantaran tak bisa lagi berkesempatan melahirkan keturunan.

Memang mens bukan faktor mutlak perempuan bisa melahirkan. Ada juga perempuan yang tak pernah mens tapi punya keturunan, seperti dialami oleh Fathīmah putri Muhammad _sholallōhu'alaihiwasallam_ —yang membuatnya diberi gelar az-Zahrā'. Fathīmah bahkan tercatat satu-satunya keturunan Muhammad yang bisa melestarikan keturunan the Prophet for our time.

Mungkin sulit untuk menerima anggapan kalau mens adalah kutukan untuk perempuan yang disebabkan memakan buah terlarang. Lalu, bagaimana kalau anggapan perempuan tak pernah (bisa di)salah(kan)? 'Kan perbuatan (meminta lalu dituruti kemudian) itu bisa dianggap kesalahan. 

Namun, kesalahan Hawa yang notabene perempuan pun punya nilai kebenaran—tepatnya sebagai proses pengembalian tujuan penciptaan manusia.