Pernah tidak kalian dianggap sok suci karena tidak mau memberi jawaban atau tidak mau menyontek saat ulangan? Atau hal-hal normal lainnya yang kemudian dianggap tidak benar oleh beberapa orang karena sebenarnya mereka tidak bisa melakukan hal tersebut. Mungkin kata “normal” terkesan relatif bagi setiap orang.

Bisa jadi bagi sebagian orang, menyontek saat ulangan adalah hal yang normal. Bisa jadi pula, sebagian orang berpikir bahwa memberi nasihat tentang agama kepada orang lain adalah hal yang kurang sopan karena dosa adalah urusan masing-masing makhluk dengan Tuhannya. Lantas, sampai kapan kita akan menganggap kesalahan tersebut menjadi hal yang wajar?

Tak jarang orang melakukan suatu yang benar akan dianggap salah karena kesalahan sudah dinormalisasi. Sebagai contoh Karin adalah pelajar SMA yang hari ini akan menghadapi ujian Matematika, di tengah ujian, Hayat, teman sekelas Karin bertanya salah satu soal kepada Karin. Karin sungkan untuk memberi jawaban kepada Hayat.

Selain karena melanggar peraturan, perbuatan tersebut dapat memposisikan diri Karin menjadi pelaku kecurangan saat ujian. Akhirnya, Karin tidak memberikan jawaban apapun kepada Hayat. Setelah selesai ujian, teman-teman Karin berkumpul di depan kelas membahas tentang ujian. Hayat, yang dikelilingi teman-temannya menatap sinis ke arah Karin dan menyalahkan perbuatan Karin yang benar itu.

Dari contoh tersebut, dapat kita lihat bagaimana orang yang benar malah dianggap salah karena kesalahan telah dinormalisasi. Tapi tunggu dulu, menormalisasi kesalahan tidak bisa sepenuhnya diartikan sebagai suatu yang negatif. Dalam beberapa konteks kehidupan, normalisasi kesalahan bisa merupakan hal yang positif.

Contoh simpelnya adalah ketika belajar suatu pelajaran, untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan pasti perlu proses yang tidak jarang akan menemui kesalahan-kesalahan terlebih dahulu. Kita sebagai pelajar ataupun guru dapat menormalisasi kesalahan-kesalahan tersebut dengan menganggapnya suatu proses untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Balik lagi tentang normalisasi kesalahan yang berdampak negatif. Kebiasaan menormalisasi hal yang salah, ujung-ujungnya bisa meluas ke segala aspek kehidupan. Bayangkan kalau kesalahan dari hal-hal sederhana saja sudah dinormalisasi, lambat laun kesalahan dari hal yang besar dan memiliki kontrol bagi khalayak banyak dapat dengan mudah disalahgunakan.

Jangan kaget kalau korupsi menjadi hal yang biasa, huft. Mengerjakan tugas, belajar yang rajin, tidak menyontek saat ujian, dan masih banyak lagi itu merupakan hal biasa. Jangan dibalik! Kalau dibalik ya repot, bakalan banyak orang yang ingin maju, ingin pintar, ingin jujur, dan berintegritas tinggi menjadi takut. Takut terhadap banyak hal, seperti takut tidak punya teman.

Di negara berpendidikan maju seperti Jepang dan Finlandia, pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga kepribadian. Di Jepang, test atau ulangan baru diadakan di kelas 4 SD. Sebelum itu, pelajar hanya fokus mendapat pelatihan bahasa, moral, dan kepribadian.  Memang benar apabila dikatakan akademik bukan segalanya. Untuk apa orang pintar tetapi moral tidak ada?

Keberadaan “sistem” yang masih salah dan terus-menerus diglorifikasi oleh banyak orang ini menjadikan Indonesia sulit berkembang. Kita harus bangun ulang sistem dan ekosistem yang supportif agar menghasilkan lebih banyak orang jujur dan Sumber Daya Manusia Indonesia yang lebih berkualitas.

Kita sudah terlalu lama berada pada “sistem” yang salah sehingga yang benar terasa aneh. Kalau kata orang, “the hardest pill to swallow is watching yourself become the system that your younger self will reject it”. Kadang tanpa disadari kita sudah menjadi bagian dari “sistem” itu. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mengubah “sistem” yang salah tersebut?

Miliki Integritas yang Tinggi

Tidak perlu peduli terhadap anggapan orang lain tentang hal benar yang kita lakukan. Selama hal itu benar dan memberikan dampak positif ya kenapa tidak dilakukan saja, sih? Jadilah teladan dan panutan bagi lingkungan tempat kita tinggal. Dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti berkata jujur.

Beranilah Menegur yang Salah

Beberapa kesalahan yang dinormalisasi bisa jadi karena faktor kurangnya teguran dan nasihat dari pihak yang paham akan suatu perkara tersebut. Peran kita disini adalah menjadi pribadi yang peka dan tidak mudah terhasut oleh banyaknya massa. Tegurlah pihak yang salah menggunakan bahasa yang sopan dan didasari argumen-argumen yang valid.

Lalu, tips agar dapat menegur tanpa ada “serangan” balik kepada diri kita adalah mempelajari hal-hal yang ingin diutarakan kepada publik. Mungkin dalam beberapa kasus, teguran sangat sulit dilakukan karena pihak yang salah memiliki banyak “backup-an”. Tidak perlu takut, selama teguran kita benar dan tepat sasaran, khalayak umum pasti dapat menerima.

Ubah Mindset yang Salah

Dari beberapa pengalaman pribadi, terkadang saya sendiri tidak suka terhadap orang yang hidupnya terlalu berprinsip dan tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan di awal masa SMA, saya bangga kalau saya pernah menyontek tanpa ketahuan. Mindset seperti itu harus diubah, pikirkan lagi esensi dalam mengikuti ujian. Ya, esensinya untuk mengukur kemampuan kita.

Kalau memang ditujukan untuk mengukur kemampuan dan kita menyontek. Lalu, bangga akan hasil contekan tersebut, berarti kita telah membohongi diri kita sendiri. Dengan mengubah mindset yang salah, sedikit demi sedikit kita dapat mengubah “sistem” yang salah pula.

Pada prinsipnya, janganlah kita menormalisasi kesalahan yang sudah pasti salah. Jangan takut untuk menegur dan jadilah bagian dari ekosistem yang sehat dengan saling mendukung untuk melakukan sesuatu yang benar. “Melawan arus yang salah emang berat, tapi makasih ya udah mau bertahan!! Kita berjuang bersama!” ungkap Jerome Polin Sijabat dalam akun Instagramnya.