Seorang esais, Zen RS, dalam sebuah esai pendek di blog pribadinya, menceritakan tentang pengalamannya mengunjungi sebuah taman di Kota Wina, Austria, bernama Taman Schiller. Nama taman tersebut diambil dari Friedrich Schiller, seorang pemikir Jerman, penyair, dan juga penulis lakon.

Zen menambahkan, yang ia sukai dari kota Wina dan kota-kota tua lain di Eropa adalah banyaknya ruang publik yang dinamai atau diperkaya dengan patung nama-nama pemikir, penulis, dan seniman penting.

Dengan begitu, warga yang mengunjungi ruang publik itu dapat mengenal jejak sejarah yang ditinggalkan oleh tokoh tersebut bagi kemanusiaan dan peradaban. Atau setidak-tidaknya, warga tahu pernah ada tokoh bernama Fredrich Schiller yang berjasa bagi kehidupan.

Zen kemudian membandingkan dengan Taman Jomblo di Kota Bandung yang dibangun pada tahun 2014 lalu oleh mantan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Menurut Zen, penamaan Taman Jomblo amat medioker dibandingkan Taman Schiller.

Adakah sumbangsih jomblo bagi kemanusiaan dan peradaban Kota Bandung? Masing-masing kita tentu bisa menjawab dengan mudah pertanyaan satire tersebut. 

Menurut Zen, penamaan Taman Jomblo menunjukkan kegagapan otoritas pemerintah dalam memaksimalkan ruang publik bagi tumbuh-kembangnya kebudayaan.

Kini tahun berganti dan Ridwan Kamil sudah naik pangkat menjadi Gubernur Jawa Barat. Ia kembali merencanakan pembuatan sebuah taman yang juga bernama medioker, Taman Dilan. 

Dilan adalah tokoh fiksi dalam novel trilogi Dilan 1990, Dilan 1991, dan Suara Dilan karya Pidi Baiq. Novel tersebut tahun lalu telah diadaptasi ke dalam sebuah film berjudul Dilan 1990. 

Seperti novelnya, film Dilan 1990 pun laku keras di pasaran. Tercatat sebanyak 6,3 juta penonton menonton film tersebut tahun lalu (Kompas). Angka tersebut menempatkan Dilan 1990 sebagai film Indonesia terlaris kedua sepanjang masa di bawah Warkop DKI Reborn Part I.

Bejibun-nya penggemar Dilan tersebut tampaknya menggoda nafsu politik kosmetik Ridwan Kamil untuk menjadikannya sebuah taman di sekitar GOR Saparua, Bandung. 

Hal itu ia kemukakan saat menerima para pemain film Dilan 1991 (film kedua) di rumah dinasnya, Gedung Pakuan, Bandung pada tanggal 10 Februari lalu (Kompas).

Ia mengungkapkan, rencana pembuatan Taman Dilan bertujuan untuk meningkatkan potensi pariwisata Kota Bandung dengan memanfaatkan budaya kontemporer. Nantinya, di taman tersebut akan ada mural, life size foto, dan quote dari Pidi Baiq selaku kreator Dilan.

Rencana Ridwan Kamil tersebut tampaknya akan mudah diwujudkan. Toh kendati ia di posisi Gubernur, bukan Wali Kota Bandung, pengelolaan GOR Saparua berada dalam kewenangan Pemprov. Artinya, ia punya otoritas untuk melakukan penataan terhadap aset yang dimiliki Pemprov.

Namun, yang jadi pertanyaan, laikkah Dilan diabadikan menjadi nama taman? Atau dalam istilah Zen RS, apa sumbangsih Dilan bagi kemanusiaan dan peradaban kota Bandung atau Jawa Barat?

Karya Dilan memang monumental. Tapi itu tak cukup untuk menjadikan Dilan seperti Laskar Pelangi yang berkat keberhasilan novel dan filmnya mendatangkan berkah pariwisata bagi daerah yang menjadi setting tempatnya, Bangka Belitung.  

Baik karya novel maupun film Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tersebut, semuanya memberi inspirasi besar bagi umat manusia. Tak hanya Indonesia, tetapi juga di dunia. Tak heran jika hal itu mengundang gelombang kunjungan wisatawan, baik dalam maupun luar negeri ke Bangka Belitung.

Disebutkan bahwa Laskar Pelangi mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Bangka Belitung hingga 800% (Republika). Banyak wisatawan yang secara khusus berkunjung demi melihat dari dekat lokasi dan suasana Laskar Pelangi.

Para wisatawan dapat menikmati paket wisata Laskar Pelangi, salah satunya di Desa Linggang. Di sana terdapat sekolah Laskar Pelangi, Warung Kopi Fatimah Khas Melayu, Warung Kopi Akiong, Bendungan Pice, dan Pasar Rakyat Laskar Pelangi. Jalan desa di desa tersebut juga dinamakan Jalan Laskar Pelangi.

Dengan segala inspirasi dan pelajaran hidup yang dipancarkan, laik jika serba-serbi yang berkaitan dengan Laskar Pelangi disematkan nama Laskar Pelangi atau disertakan dalam paket perjalanan wisata napak tilas Laskar Pelangi oleh pemerintah.

Namun tak demikian dengan Dilan. Sebagai pembaca novel trilogi Dilan sekaligus penonton film Dilan 1990, saya tak cukup memiliki kesimpulan bahwa Dilan laik dijadikan nama sebuah taman. 

Karya Dilan memang sangat menghibur. Tapi tak cukup banyak memberikan nilai-nilai pelajaran hidup yang memperkaya pikiran dan batin kita.

Eni Saeni, seorang dosen perguruan tinggi negeri, dalam tulisannya Sepenting Apa Dilan Dijadikan Nama Taman? di Pikiran Rakyat edisi (19/02/2019) juga mempertanyakan tentang teladan atau semangat kepahlawanan apa yang dapat diambil dari tokoh Dilan sehingga hendak dijadikan nama taman.

Bukankah yang menonjol dari Dilan adalah romantisme gaya pacaran tahun 1990-an dan juga aktivitas geng motornya?

Menurut Eni, kalaupun sebuah taman akan dinamakan tokoh fiksi (seperti yang dilakukan beberapa daerah lain), mengapa tidak nama tokoh Kabayan saja yang digunakan? Ia dikenal sebagai tokoh yang lugu, jujur, tidak serakah, dan hidup apa adanya.

Atau, kalau saya boleh menambah usulan, mengapa tidak (alm.) Asep Sunandar Sunarya, seniman Sunda maestro wayang golek, yang dijadikan sebagai nama taman. Jasa beliau dalam mengembangkan budaya Sunda amat besar.

Selama hidup, ia memperkenalkan wayang golek ke berbagai penjuru dunia. Dengan tokoh andalannya, Cepot, ia pandai memadukan guyonan, nasihat, dan kritik sosial-politik dalam karya pewayangannya.

Baik Kabayan maupun Asep Sunandar Sunarya hanyalah contoh tokoh fiksi maupun nyata yang dapat menjadi alternatif pilihan untuk dijadikan nama taman. Tentu masih banyak tokoh-tokoh lain yang juga identik dengan kesundaan dan laik diabadikan sebagai nama taman atau nama ruang publik lainnya.

Maka dari itu, Ridwan Kamil seyogianya berpikir masak-masak sebelum mengeksekusi gagasan Taman Dilan-nya tersebut. 

Lagipula, kalau memang Dilan keukueh dijadikan nama taman, apa yang hendak dibawa pulang oleh setiap wisatawan yang mengunjunginya selain sekadar deretan foto bermacam gaya untuk diunggah di media sosial?