Salah satu Video pendek di Instragram Ganjar Pranowo (3/7/2021) membuat banyak orang jengkel dan marah.  Betapa tidak, seorang mahasiswa menolak memakai masker meski positif Covid-19. Ia berpendapat, bahwa tidak memakai masker adalah haknya, sebelum ataupun sesudah dinyatakan positif. Ia terpaksa memakai masker untuk “menghormati yang lain”.

Uniknya, si mahasiswa semester enam ini mengaku ia adalah orang yang disiplin. Setahun tidak ‘salaman’ dengan orang tua dan selalu cuci tangan. Namun, pak ganjar mengatakan bahwa gara-gara tak pakai maskerlah ia positif tertular.

Saya tertarik dengan penyataan si mahasiswa. Bahwa tidak memakai atau memakai adalah hak. Benarkan itu haknya? Bukankah apa yang saya kenakan adalah hak pribadi? Saya berhak mengenakan pakai sendal jepit ke kondangan. Memakai celana pendek ke mall dan sebagainya. Bukankah itu sama dengan hak memakai masker atau tidak?

Agus Bukhari berkata bahwa “setiap Hak Asasi Manusia mengandung kewajiban untuk menghormati orang lain,” bimakini.com (/2012/07). Hak kita dibatasi dengan hak orang lain. Penggunaan hak harusnya tidak mengorbankan hak asasi sesama kita. Nah pada konteks ini, memakai masker bukan hak, tetapi kewajiban.  Apalagi di masa pandemi ini, ada aturan yang mewajibkan seseorang memakai masker.

Tiap orang harus menghargai hidup orang lain. Memakai masker bukti menghargai kehidupan orang lain. Sebaliknya, untuk saat ini tidak memakai masker melanggar hak asasi orang lain. Lebih jauh lagi, orang yang positif dan sengaja tidak memakai masker adalah  pengkhianatan  terhadap hak asasi orang lain.

Bukan hanya si mahasiswa, ada banyak orang yang melakukannya. Mas mahasiswa hanya sampel dari banyak masyarakat kita yang menolak memakai masker. Alasannya jelas beragam. Bisa jadi  karena masalah ekonomi atau tidak mau repot.  Tidak terbiasa. Pengetahuan yang minim dan kurang kritis. Atau karena memiliki sikap egois.

Pakai masker itu repot, kalau kain berarti harus sering dicuci jika digunakan. Kalau pakai masker sekali pakai pasti menghabiskan banyak uang.  Tidak terbiasa pakai masker  juga bisa jadi alasannya orang tidak mau memakainya. Sulit bernafas, kata mereka.

Orang tak pakai masker bisa juga berasal dari orang yang minim pengetahuan tentang masker. Terutama tentang manfaatnya. Alah, yang maskeran juga masih tertular. Buktinya, para medis banyak yang tertular walau pakai masker berlapis.

Minim pengetahuan itu bisa disebabkan karena tidak berpikir kritis. Orang kritis itu berpikir secara sistematis, holistik dan mendalam. Orang yang berpikir kritis akan mempertanyakan banyak hal. Apa itu masker? Masker seperti apa? Mengapa harus pakai masker ini atau itu? Apa yang terjadi jika saya dan banyak orang tak pakai masker, dan seterusnya.

Terakhir, sikap si mahasiswa kemungkinan dipicu oleh sikap egois. Ini hak saya, hormati dong. Ia banyak berbicara tentang hak, namun abai tentang kewajiban. Ia hanya menekankan haknya tidak pakai masker, tapi lupa kewajiban menghargai kesehatan orang lain.

Kemungkinan-kemungkinan penyebab sikap mahasiswa di atas sangat mungkin. Bisa salah satu, dua atau semuanya sekaligus. Ingatnya, mahasiswa ini tidak sendirian, ada banyak orang-orang yang sepertinya. Tidak memakai masker karena tidak mau repot. Tidak terbiasa dan bikin sulit nafas. Tidak punya uang beli masker. Kalau ditegur, ini bukan urusan kamu, ini hak saya.

Padahal jika mau berpikir secara kritis, kerepotan, “sulit nafas”  dan uang yang dikeluarkan untuk masker akan lebih besar jika mereka sakit karena korona. Ditambah lagi jika keluarga mereka terkena virus korona.

Mengapa orang-orang yang notabene berpendidikan tetapi sikapnya egois dan berpikiran sempit. Tidak kritis.  Yang terkadang terjangkit virus korona pun belum tentu membuat manusia jenis ini sadar. Orang berpikir kritis akan berpikir tentang sebab dan akibat, kebaikan dan keburukan, kesejahteraan dan  musibah, atas sikap dan tindakannya.

Ada yang salah dengan pendidikan kita. Mengapa kemampuan berpikir kritis dan sikap empati terhadap orang lain dalam kasus di atas tidak dimiliki? Mengapa di situasi seperti ini, orang berpikir sempit, pendek dan mau menang sendiri. Hak dan kewajiban dipahami tidak komprehensif. Sekali lagi, sikap dan pikiran itu dimiliki oleh banyak orang di Indonesia.

Pola pendidikan generasi kita perlu dibenahi. Kata pendidikan di sini merangkum praktik pendidikan dalam tiga jalur. Pendidikan di tengah keluarga, masyarakat dan pendidikan formal atau sekolah. Dua hal yang perlu ditekankan dalam pendidikan kita yaitu, kemampuan berpikir kritis dan sikap empati terhadap sesama.

Pendidikan yang menekan pada penguasaan seperangkat informasi atau pengetahuan diganti dengan kemampuan berpikir kritis. Seseorang didorong untuk mampu melihat sesuatu secara jernih, menyeluruh, sistematis dan rasional. Orang yang kritis tidak mudah terpengaruh dan tidak menerima sesuatu tanpa mengujinya. Ia akan suka menguji suatu pendapat dan memikirkan pendapat itu dari berbagai sudut pandang.

Orang yang kritis suka berpikir sebelum berkata-kata. Ia akan berpikir dahulu sebelum bertindak. Ia akan memperhitungkan baik dan buruk dari tindakannya dari berbagai segi. Gegabah adalah tindakan yang bertentangan dengan karakter orang yang berpikiran kritis.

Orang berpikiran kritis paham bahwa masker membawa kebaikan lebih besar dari sekadar tidak mau repot, tidak biasa, atau sulit bernafas. Baginya memakai masker adalah tindakan yang logis dan menguntungkan semua pihak. Baik diri sendiri, orang lain maupun pemerintah.

Kedua, generasi kita perlu didik untuk mampu berempati. Orang yang memiliki empati mampu memahami apa yang dirasakan orang lain. Mampu melihat dari sudut pandang orang lain. Dan mampu membayangkan dirinya berada di posisi orang lain.

Mereka yang memiliki empati akan mampu berpikir dan bertindak dengan mempertimbangkan  perasaan dan kesejahteraan sesama. Orang yang memiliki empati seperti orang yang menaruh kakinya pada sepatu sesamanya. Ia memahami dengan sebenarnya apa yang dirasakan orang lain. Yang kemudian hal ini mempengaruhinya dalam bertindak.

Siapa yang memiliki empati akan mampu merasakan kesedihan, kesulitan dan penderitaan orang lain.  Orang memiliki empati akan dengan sukarela memakai masker. Merasa bersalah jika tidak memakai masker. Mereka mampu merasakan “rasa”  dari yang sakit atau yang keluarganya meninggal karena korona. Ia tidak mau melukai hati orang-orang itu.

Jika kedua hal tersebut jadi penekanan, orang picik dan egois akan semakin langka di negeri ini. Ini tugas kita bersama. Pendidikan di tengah keluarga, masyarakat dan sekolah formal harus bersinergi mengerjakannya. 

Kita semua bertanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat yang kritis dan peduli. Berhenti menghujat dan menyalahkan. Saatnya introspeksi diri dan bersama-sama mengerjakan perubahan dalam pendidikan kita.