Negara Islam yang banyak “dielu-elukan” oleh segelintir orang sebenarnya sama sekali tidak memiliki dasar. Gagasan Negara Islam adalah murni motif politik, bukan motif teologis.

Karena pada prakteknya, Nabi Muhammad tidak pernah mengatakan secara rinci bagaimana seharusnya sistem negara itu diselenggarakan. Beliau hanya memberikan nilai-nilai dasar yang harus dicapai dalam kehidupan bernegara: keadilan, keseteraan, kemashlahatan, musyawarah.

Kalau kita melihat suksesi kepemimpinan khalifah al-rasyidah (Abu Bakar, Umar ibn Khatab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib), maka masing-masing diangkat dengan cara yang berbeda-beda.

Abu Bakar diangkat secara aklamasi di Baitul Jandal yang dihadiri oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Itu terjadi ketika Umar ibn Khatab mengusulkan Abu Bakar untuk menjadi khalifah setelah Nabi SAW. Seketika itu juga kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang ada di Baitul Jandal menyetujui usulan Umar tersebut.

Umar ibn Khatab diangkat melalui wasiat langsung dari Abu Bakar ketika beliau (Abu Bakar) sakit-sakitan yang diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal dunia.

Utsman ibn Affan diangkat melalui pemilihan umum yang terdiri dari tujuh orang kandidat, di antaranya adalah Abdullah Ibn Umar, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Namun, khalifah Umar ibn Khatab tidak memperkenankan anaknya (Abdullah ibn Umar) untuk dipilih sehingga tersisa enam orang kandidat saja. Akhirnya, yang terpilih adalah Utsman ibn Affan.

Ali ibn Abi Thalib dipilih menjadi khalifah karena hanya beliau-lah figur yang pantas menjadi khalifah pada saat itu, sehingga Ali ibn Abi Thalib adalah kandidat tunggal untuk menjadi khalifah keempat.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam tidak memiliki sistem pemerintahan yang baku. Sekali lagi, yang ada adalah nilai-nilai universal yang harus dicapai. Adapun mengenai sistem pemerintahannya diserahkan kepada manusia sesuai perkembangan yang ada.

Ketika berbicara Negara Islam maka cita-citanya adalah formalisasi syariat Islam. Padahal, sama sekali tidak ada jaminan ketika syariat Islam diformalisasikan maka nilai-nilai universal di atas akan tercapai.

Bahkan, jika melihat kondisi Indonesia yang plural dalam aspek keberagamaan, maka formalisasi simbol-simbol Islam akan menghancurkan NKRI.

Penduduk Indonesia yang non-Muslim tentu tidak akan rela bergabung dengan Indonesia jika Islam dijadikan sebagai agama Negara. Ruang lingkup “Negara Islam” adalah sangat sempit (eksklusif).

Jika istilah “Negara Islam” memberi makna eksklusif, berbeda halnya dengan istilah “Negara Islami”. Meskipun dua istilah tersebut hampir sama, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang jauh berbeda.

Istilah yang kedua bermakna lebih inklusif. Negara Islami tidak mengutamakan simbol-simbol agama Islam, melainkan mengutamakan nilai-nilai universal.

Nilai-nilai universal itu diakui oleh penganut agama mana pun, bahkan oleh orang yang tidak beragama sekalipun sebagai sebuah keluhuran.

“Negara Islami” bukanlah sebuah sistem kenegaraan. Baginya, yang penting adalah tercapai nilai-nilai universal tadi.

Seperti keputusan para sahabat besar Nabi SAW di atas, tidak peduli apa cara yang digunakan untuk mengangkat seorang khalifah, yang penting adalah bisa membawa kepada kemashlahatan bersama.

Islam lebih mementingkan tercapainya tujuan ketimbang cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu.

Konsep “Negara Islam” sudah tidak relevan lagi di zaman sekarang setelah munculnya konsep negara bangsa (nation state). Daulah Umayyah, Abbasyyah, sampai ke Turki Utsmani sebenarnya bukanlah cerminan dari Negara Islam karena mereka menjalankan politik oligarki.

Demikian juga yang berlangsung di Arab Saudi sampai dengan hari ini. Padahal, di dalam Islam tidak membenarkan praktek tersebut.

Negara Islam tidak pernah ada dalam lintasan sejarah. Ide Negara Islam adalah ahistoris  alias tidak ada contohnya di dalam sejarah. Yang ada adalah ide Negara Islami.

Hal itu menjadi mungkin karena ide Negara Islami tidak mengutamakan simbol-simbol agama, melainkan “spirit” dari simbol-simbol tersebut. Dan, harus diketahui bahwa spirit tersebut adalah kebaikan universal.