Penikmat kopi
1 tahun lalu · 988 view · 3 min baca · Politik 48346_69731.jpg
Sumber foto: jurnalislam.com

Menjual Tuhan

Every of us is trader. Kita semua sepakat itu walaupun masih ada yang membantah, namun sesungguhnya pembantah pun sebenarnya sedang menjual argumennya. Saya, Anda, kita dan mereka, setiapnya harinya menjual sesuatu. Menjual dalam aspek yang lebih luas, bukan hanya barang dan jasa, kita tersenyum, menyapa, maupun hal habitual lainnya. Intinya adalah kita menjual sesuatu.

CEO sebuah organisasi menjual visinya kepada investor. Harapannya, investor membeli visi organisasi dengan kesepakatan kerja sama. Seorang perempuan bersolek sekalipun menurut pandangan saya juga ingin menjual sesuatu, sama halnya ketika seorang lelaki berpakaian rapi. Harus diingat bahwa tidak semua penjualan harus dibayar dengan uang atau benda. Bisa saja sebuah senyum dibayar dengan senyum atau hubungan sesama manusia semakin baik.

Era medsos jualan kebohongan laris manis. Para pembeli membayar paket data setiap bulan hanya membeli kebohongan. Saracen salah satu penjual kebohongan yang berhasil diungkap. Namun, Saracen masih amatiran dibandingkan para penghafal kitab suci dan politisi yang secara terang-terangan menjual isi kitab dan Tuhan sekaligus.

Perilaku politisi itu distempel oleh mereka yang paham agama, mereka yang mendeklarasikan diri dekat penguasa alam dan langit. Dampaknya, pemilih akan terpengaruh dan menyerahkan suara pada politisi yang didukung para pemuka agama. Menjual Tuhan dan kitabNya masih menjadi trend politisi kita, bahkan di Aceh yang bersyariat Islam, hal itu terjadi dalam pilkada.

Ulama dijual demi kepentingan politik. Walau hanya memimpin do'a dan beberapa ucapan, akan tetapi dampaknya mempengaruhi perolehan suara. Begitu murah ayat-ayat illahi dijual politisi di pasar yang bernama politik. Padahal sudah jauh hari Allah Azza Wa Jalla mengingatkan, jangan kau jual murah ayat-ayatku (Q.S:2:41).

Imam Ibnu Katsir dalam Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti; Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Baqarah: 41. Jilid 1, Hal.230, mengatakan makna ayat itu ialah janganlah kita menukar iman kita dengan dunia dan segala isinya yang menggiurkan, tentu saja termasuk panggung politik yang menjanjikan kekuasaan temporer. Dan kita pun dengan mudah akan menemukan penjualan ayat-ayat illahi yang dilakukan ustaz entertainment.

Frank Underwood, demi menyelamatkan suaranya didistrik di mana ia berasal, rela berkhotbah di gereja ketika seorang remaja putri meninggal dunia. Meninggalnya gadis belia itu saat menabrak papan pagar kincir angin yang tidak disetujui keberadaannya oleh masyarakat. Kunjungan Frank mampu membujuk pendeta dan keluarga korban serta masyarakat agar tidak menuntutnya ke ranah hukum. 

Khotbah yang mengharukan itu menurutnya merupakan pendekatan dengan menggunakan simbol agama. Awalnya ia mendekati pendeta agar dapat diberi kesempatan untuk berkhotbah. Demikian salah satu episode film House of Cards. 

Bila di negara adidaya yang pemilihnya rasional saja dapat berhasil dengan pendekatan agama, konon lagi Indonesia. Fakta sejarah bicara demikian, setiap ajang politik di level lokal maupun nasional, aksi jual Tuhan sangat intens dilakukan. Makanya, para pemuka agama menjadi tunggangan para politisi sekaligus stempel guna membujuk pemilih.

Setelah ranah kekuasaan (politik), kini ranah ekonomi pun demikian. Tiba-tiba muncul kata syariah. Lembaga keuangan berlomba-lomba menjual label syariah guna meraih nasabah. Bila praktiknya sesuai namanya, tentu saja tak menjadi soal. Sayangnya, praktiknya masih menggunakan cara lama. Hanya labelnya saja yang diganti biar kelihatan Islam.

Fenomena ini sekali lagi menegaskan bahwa jualan Tuhan memang bakal laris manis. Saya tidak mengetahui dengan pasti apakah MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai lembaga formal umat Islam mengetahui praktik lembaga keuangan tadi. Satu hal yang pasti, MUI tentu tahu penggunaan ayat-ayat Tuhan dalam setiap kampanye politik demi meraih suara.

Mungkin ini yang dikatakan Nabi Muhammad, 'siapapun yang belajar agama namun tidak untuk Allah akan tetapi demi kedudukan dan harta, maka ia tidak akan mencium bau syurga' (HR. Imam Ahmad, 2/No.338. Abu Dawud, No.3664—hadits sahih). Penyalahgunaan ilmu agama merupakan dosa intelektual yang dampaknya sistemik, fatal, dan tentu saja mengganggu harmonisasi kehidupan bernegara.

Ubi Dibius Ibi Libertas

Pesan arete (utama) dari pertapa Gautama Ubi Dibius Ibi Libertas, di mana ada keraguan di situ ada kebebasan. Menurutnya, kita harus meragukan sebuah kebenaran hanya karena itu didesas-desuskan orang banyak, dikatakan guru yang dianggap suci dan bijaksana. Ia kemudian memberikan solusi; 'hendaknya kamu meragukannya, menilai, mencoba memahaminya dengan penalaran dan pertimbangan akal budimu.'

Gautama melanjutkan, apakah hal itu memberi kebaikan bagi kita dan sesama. Pesan ini sekaligus mengingatkan kita agar terhindar dari fanatisme yang berujung bertambahnya profesi kita sebagai salesman of god.

Kita memang bukan negara sekuler, akan tetapi bukan pula teokrasi. Penjualan Tuhan di pasar politik dan ekonomi harus dihentikan. Mengapa tidak mengingat Tuhan dan hukumannya ketika hendak korup? Mengapa Tuhan dijadikan alat politik semata? Jangan bawa Tuhan di atas panggung politik titik!

Artikel Terkait