"Sehingga, bakteri Kemotropik kehabisan makanan, lalu mati, kemudian air pun menjadi jernih."

Berkah Air

Musim hujan telah benar-benar tiba.

Desember, bisa menjadi singkatan yang kepanjangannya adalah ‘gede-gedenya sumber’, yang membuat kandungan air dalam tanah tambah berlimpah.

Air tanah berlimpah adalah sebuah berkah bagi orang menjadikannya sebagai sumber air bersih, selain air jatah melalui pipa distribusi milik perusahaan air minum, PAM.

Berkah itu diberikan kepada manusia, sedemikian sempurna, justru agar manusia menjadi terpacu untuk lebih berpikir.

Maksudnya, jika air PAM sebelum terdistribusi telah melalui proses hingga kualitasnya relatif lebih bersih dan siap dikonsumsi, maka air tanah yang didapat melalui sumur bor, pompa cap Dragon maupun sumur timba, perlu proses mandiri agar lebih bersih dan siap digunakan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Proses mandiri yang tak mengandalkan metode, alat, bahan milik perusahaan air minum itulah yang membuat konsumen perlu menimba ilmu pengolahan air tanah.


Ulah Kemotropik

Tantangan pengguna air tanah, khususnya ketika jumlahnya berlimpah saat musim hujan adalah menghadapi kandungan logam Besi, juga Mangan, dalam air yang kemudian ditampung dalam tandon atau bak besar.

Ketika air tanah ditampung, maka kandungan logam di dalamnya, terutama Besi, menjadi nutrisi bagi bakteri-bakteri Kemotropik yang juga terkandung dalam air.

Bakteri tersebut bakal ‘memakan’ logam-logam dalam air, dengan cara mengoksidasi logam-logam tersebut.

Lambat laun, air tanah yang tertampung menjadi keruh. Apabila dibiarkan lama, yang berarti membiarkan bakteri Kemotropik semakin berkembang biak, maka bakal muncul semacam lumut mengambang yang beraroma tak sedap.

Tak hanya itu, saat digunakan untuk mandi, air tersebut bakal terasa lebih licin. Sabun mandi pun berasa tak lekas membuat kulit kesat, meski telah dibilas berkali-kali. Ritual mandi pun lalu tak senyaman cara mandi bagai bintang iklan sabun di televisi.

Air tanah yang dipompa dari tanah bekas rawa, sawah, area tambang, berpotensi mengandung logam-logam yang apabila ditampung bisa menjadi keruh akibat reaksi logam Besi dengan bakteri Kemotropik.

Suatu berkah yang menjadikan manusia perlu berpikir mencari solusinya, bukan?


Asam Sitrat Dalam Sitrun

Banyak cara dilakukan agar air tanah menjadi lebih jernih, tak berbau dan kesat karena ber-pH normal. Mulai dengan penyaringan menggunakan sabut dan arang, mencampur kapur, menggunakan koagulan macam tawas, hingga rela mengalokasi dana instalasi seperangkat alat penjernih air.

Namun, kiranya belum banyak orang mengetahui bahwa ternyata Sitrun, yang biasanya digunakan sebagai bahan pembuat sirup maupun aneka kue, bisa menjadi alternatif bahan penjernih air tanah yang keruh.

Sitrun, kandungannya adalah Asam Sitrat. Merupakan senyawaan kimia alami bersifat asam lemah, sering kali berasal dari ekstrak jeruk lemon ataupun jeruk nipis.

Atas sifat dan asal usulnya tersebut, maka Asam Sitrat lebih ramah lingkungan dan aman bagi manusia jika digunakan untuk membantu penjernihan air tanah tersebut di atas.

Asam Sitrat juga berperan sebagai dapar atau larutan penyangga (buffer), yang membuat larutan mengandung Asam Sitrat bakal tersangga nilai derajat keasamannya (pH). Tersangga agar tak terlalu asam, juga tak terlalu basa.


Pengkelatan itu Menyepit

Bagaimana bisa Sitrun mampu menjernihkan air tanah keruh akibat ulah bakteri Kemotropik pengoksidasi logam?

Itu tak lain karena, Asam Sitrat itu bagai alat penyepit yang memiliki ‘tiga sepit’ berupa tiga gugus karboksilat, yang mampu 'menyepit' logam-logam dalam air tanah. Sehingga bakteri Kemotropik pun kehilangan sumber nutrisinya, lalu mati.

Dalam istilah Kimia, maka proses 'menyepit' ini disebut dengan Pengkelatan (Chelation), yakni berupa ‘tersepitnya’ atom logam oleh gugus-gugus ‘sepit’ karboksilat milik Asam Sitrat, menjadi senyawa Kelat yang memiliki satu titik pusat yang disebut Ligan.

Dalam Pengkelatan, Asam Sitrat menjadi Ligan yang berperan sebagai ‘otak' aksi sepit menyepit.

Gambar 1. Tiga Gugus Karboksilat Dalam Asam Sitrat Mampu Menyepit Logam Dalam Air

Dengan demikian jelas, bahwa Sitrun mampu berfungsi sebagai penjernih air tanah, karena mengandung Asam Sitrat yang berperan sebagai Ligan untuk menggerakkan gugus karboksilat sebagai ‘sepit-sepit’nya, guna menyepit logam-logam dalam air. 

Sehingga, bakteri Kemotropik kehabisan makanan, lalu mati, kemudian air pun menjadi jernih.

Tak hanya air menjadi jernih, namun bak penampung air, termasuk gayung, juga bisa menjadi bersih berseri, bebas dari noda kecokelatan akibat oksidasi logam-logam oleh bakteri Kemotropik.

Gambar 2. Produk Kemasan Asam Sitrat Sering Disebut Sitrun Bahan Utama Membuat Limun.

Biasanya, Sitrun takaran 50 gram dijual bebas dengan harga relatif murah, di toko-toko kue ataupun lapak-lapak kelontong pedagang sayur-mayur.

Sejumlah 25-an gram Sitrun cukup untuk menjernihkan 50-an Liter air. Cukup ditaburkan dan dibiarkan selama ½ sampai 1 jam. Bisa ditambah menjadi 2 kali lipat Sitrunnya, jika kondisi air keruh berbuih.

Adapun untuk tandon ukuran 1.000 Liter, cukup 10 renteng kemasan Sitrun di tebar di dalamnya dan dibiarkan semalaman.

Gambar 3. Segarnya Es Limun Mengandung Sitrun.

Jadi, sambil menunggu penjernihan air oleh ‘sepit-sepit’ Ligan Asam Sitrat, bagusnya kita bikin setrup rumahan rasa stroberi. Lalu disimpan dalam kulkas buat persediaan pelepas dahaga jika cuaca sedang terik menyengat kulit.

Selamat menikmati limun, sambil menunggu aksi Sitrun yang menyepit.