Sampai hari ini, buku "Menjerat Gus Dur" karya Virdika Risky Utama masih terus menyita atensi publik. Sejak pertama kali saya membaca ulasan beberapa orang teman di Facebook perihal buku tersebut pada awal Januari 2020, saya sudah menduga buku itu akan terus dibeli orang untuk kemudian diperbincangkan.

Buku "Menjerat Gus Dur" tidak hanya menyebut banyak nama politisi kondang seperti Amien Rais, Akbar Tanjung, Surya Paloh, Megawati Soekarnoputri, Fuad Bawazier, dan masih banyak lagi yang dianggap terlibat dalam rencana memakzulkan Gus Dur pada 19 tahun silam, tetapi buku ini juga menyeret nama organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia, yakni Himpunan Mahasiswa Islam.

Jelas, kehadiran buku ini telah membuat otak dan citra politisi yang namanya disebut juga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) retak. Pada saat berdiskusi di IDN.Times, Virdika Risky Utama menyampaikan buku yang ditulisnya itu telah dicetak dua kali dan terjual hampir 15 ribu eksemplar, namun sama sekali belum diluncurkan.

Itu jumlah yang menurut saya cukup fantastis untuk dicapai seorang penulis muda yang belum terlalu dikenal publik. Maka, saya rasa, patut dipertanyakan secara jelas dan terbuka, apa yang membuat buku itu laris manis alias terjual cepat?

Sepintas pertanyaan itu terdengar sepele, tapi belum tentu setiap orang mengajukan jawaban yang sama atas pertanyaan itu. Namun bisa saja hal itu terjadi: sama jawaban. Semuanya tergantung ke sisi mana kita mengarahkan pandangan.

Saya coba melihat dari sisi yang paling memungkinkan yang menyebabkan buku itu dibeli ribuan orang dalam waktu sekejap kedipan mata. "Orang tidak membeli karena alasan logis. Mereka membeli karena alasan emosional," kata Zig Zaglar, salesman terkemuka asal Amerika Serikat.

Dari perspektif ini, bisa dikatakan penyebab buku itu laris bukan karena buku tersebut menyodorkan data baru yang mempertegas bahwa Gus Dur memang benar dilengserkan secara politis dan inkonstitusional pada tanggal 23 Juni 2001.

Bukan Tuntutan Intelektual

Kalau hanya itu—Gus Dur tidak bersalah—yang hendak buku tersebut tunjukkan, menandakan buku tersebut lahir bukan karena tuntutan intelektual. Saya pikir, fakta bahwa benar Gus Dur tidak bersalah bukanlah sesuatu hal yang baru untuk didengar oleh publik.

Toh, skandal Buloggate dan Bruneigate yang digunakan untuk menjerat Gus Dur sampai detik ini kebenarannya tidak dapat dibuktikan oleh mereka yang menuduh Gus Dur bersalah. Jadi, saya sepakat dengan pendapat Zig Zaglar yang saya kutip di atas: orang memang membeli buku ini karena dorongan emosional, bukan intelektual.

Selain tuntutan emosional, kecerobohan penulis—Virdika Risky Utama—juga menjadi pendorong buku "Menjerat Gus Dur" laris dibeli ribuan orang. Virdi secara ceroboh menyebut dokumen yang ia temukan di kantor DPP Golkar perihal skenario melengserkan Gus Dur sebagai dokumen HMI Connection.

"Dokumen yang gue temukan ini, menurut gue, adalah dokumen HMI Connection," ucap Virdika Risky Utama saat dirinya diundang oleh Suaradotcom untuk mendiskusikan buku tersebut.

Sebagai seorang penulis, omong kosong bila Virdi tidak bisa membedakan mana yang layak disebut HMI Connection dan mana suatu perbuatan membangun connection menggunakan variabel HMI. Virdi pasti tahu, namun ia memang sengaja memilih untuk bertindak ceroboh.

Padahal sudah sangat jelas HMI hanya digunakan sebagai variabel persuasif untuk membangun kekompakan politik. Dan kekompakan politik selalu terbangun di atas kepentingan yang sama, tidak di atas suatu identitas partikulir apa pun. Jadi, penyebutan "HMI Connection" sama sekali tidak tepat, salah kaprah, bahkan salah besar.

HMI Juga Dijerat

Baca Juga: HMI untuk Siapa?

Virdika Risky Utama sepertinya juga tidak memahami apa yang dia tulis menggunakan tangannya sendiri. Alih-alih membuktikan HMI terlibat menjerat Gus Dur, buku karangannya ini malah menunjukkan bahwa bukan cuma Gus Dur saja yang dijerat, tetapi menunjukkan HMI juga dijerat.

Sebagai organisasi tertua di Indonesia, yang didirikan pada tanggal 5 Februari 1947, dua tahun pasca kemerdekaan diproklamasikan, membuat posisi HMI menjadi penting dalam setiap diskursus kekuasaan pun bagaimana pengawalan pemerintahan di Indonesia.

Langkah perjuangan HMI dimulai sejak era kepemimpinan Soekarno hingga hari ini. Jenderal Sudirman menganggap HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia. Maka bisa dipastikan organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane ini telah mempunyai jutaan kader yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan berada di berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Sejak dulu, kader HMI banyak terlibat dalam pendirian organisasi kemahasiswaan juga kemasyarakatan di Indonesia. Bahkan organisasi terbesar mahasiswa NU, yakni PMII, saat pertama kali berdiri, ketuanya adalah seorang kader HMI, namanya Mahbub Djunaidi.

Dengan kapasitas seperti itu, mustahil bila menjerat seorang presiden di Indonesia tanpa terlebih dahulu menjerat HMI. Dalam bahasa lain: mereka yang menjerat Gus Dur pada saat itu sudah terlebih dahulu menjerat HMI. Dan untuk menjerat HMI, tidak harus menjadi bagi dari keluarga HMI: siapa pun dan dari mana pun, asal ada niat dan tahu caranya, kapan pun bisa menjerat HMI.

Meski demikian, kader HMI harus bisa mengambil pelajaran dari buku "Menjerat Gus dur" untuk perbaikan progresivitas HMI itu sendiri demi tercapainya cita-cita organisasi. Demi tercapainya cita-cita organisasi, posisi-posisi strategis dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam tidak boleh diisi oleh orang yang terbiasa menjual independensi etis organisasi kepada mafia demokrasi.

Gus Dur Mengalah

Walaupun HMI tidak bersalah, tetapi karena perbuatan beberapa alumni HMI, sebut saja Amien Rais, Akbar Tanjung, Fuad Bawazier, dan masih banyak lagi yang menurut dokumen "semut merah" skenario pelengseran Gus Dur, membuat banyak kader HMI turut merasa bersalah. Gus Dur memang orang baik.

Semasa menjadi presiden, Gus Dur sangat terbuka terhadap kritik dan getol memperjuangkan kebebasan beragama. Namun di lain sisi, ia juga orang yang teguh pada pendirian dan sulit untuk diajak kompromi.

Saking sulitnya diajak kompromi, Gus Dur membuat kawan politiknya berbalik arah melawannya hingga berusaha menjeratnya dengan berbagai skenario. Tapi Gus Dur bukan tipe manusia bernyali ciut!

Kebanyakan orang salut dengan nyali besar Gus Dur yang pada saat itu berani mengeluarkan dekret yang berisi: pembubaran MPR/DPR, mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan membekukan Partai Golkar.

Mestinya, kalau dekret presiden sudah diumumkan berlaku, maka apa pun yang dilakukan oleh MPR sebagai lembaga yang sudah dibubarkan adalah tidak sah, termasuk sidang yang mereka gelar untuk melantik presiden baru pengganti Gus Dur.

Gus Dur mengingatkan kita pada Soekarno yang pada 5 Juni 1959 juga mengeluarkan dekret presiden untuk membubarkan konstituante. Tetapi Gus Dur tidak bertindak seperti Soekarno: Gus Dur lebih memilih mengalah daripada melawan, dan akhirnya ia pun turun dari kursi kepresidenan demi mempertahankan persatuan Indonesia.

Gus Dur membuktikan bahwa tidak ada satu pun jabatan di dunia ini yang layak dipertahankan mati-matian sampai harus mengorbankan kohesi sosial, apalagi nyawa manusia yang tidak bersalah. Hal ini menandakan Gus Dur memang orang hebat.