Di tengah kebisingan hidup dan betapa semrawutnya urusan politik, dari mulai virus Corona hingga Omnibus Law, rasa-rasanya ada yang luput dari percakapan kita. Sebagai perayaan tahunan, baiknya kita merawat ingat; tepat hari ini, pada setiap 8 Maret, diperingati sebagai hari perempuan internasional.

Menilik sejarah perjuangannya, hari perempuan internasional adalah gerbong awal yang membawa ide-ide mengenai perempuan dan kesetaraan, ringkasnya : adalah feminisme.

Kita hidup dalam dunia yang sudah berlimpah kata-kata, dan feminisme adalah salah satu kata yang sering disalahartikan, dihujat habis-habisan, dihakimi oleh sebagian kelompok.

Orang-orang bebas melakukan interpretasi, tapi adakah arti universal dari kata feminisme? Hal ini menjadi penting, sebab dengan merujuk makna yang asli dari sebuah kata akan mengantarkan kita pada pemahaman yang benar, setidaknya tidak terlampau keliru.

Melalui ini, penulis berupaya untuk mengurai makna dari feminisme dan apa hubungannya dengan budaya patriarki serta kesetaraan gender. Lebih jauh, penulis berupaya untuk mengaktifkan kembali memori kita pada satu peristiwa di mana perempuan Indonesia menjadi subjek dalam sejarah perlawanan.

Feminism, Feminist, & Gender Equality

Pengetahuan kita tentang sesuatu sering kali tidak utuh. Itu sebabnya kesimpulan yang kita hasilkan tidak pernah jernih. Begitu kiranya yang terjadi pada kata feminisme. Tanpa mau tahu duduk perkara, tanpa mau membaca, feminisme sudah lebih dulu diasosiakan pada semua jenis keburukan.

Jika saya ajukan pertanyaan di masyarakat terkait apa itu feminisme atau saya minta pendapat tentang kesetaraan gender, maka besar kemungkinan jawaban mereka feminisme adalah gerakan pemberontakan terhadap laki-laki, usaha melawan pranata sosial (institusi rumah tangga, perkawinan), atau lebih parah lagi, upaya perempuan untuk mengingkari kodratnya.

Hal-hal di atas mengindikasikan pengetahuan masyarakat Indonesia terhadap feminsme itu buruk.

Adakah di antara kita memiliki pengetahuan yang demikian? Kita mesti mencurigai pikirian sendiri, jangan-jangan selama ini kita hanya membeo, ikut-ikutan bersuara tanpa berlandas pada pemahaman. Lantas apa jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa feminisme masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Jangankan itu, rasa-rasanya di ruang akademis pun kita jarang bercakap-cakap atau mengakrabi kata feminisme.

Bukan hal yang mengherankan bila para birokrat di parlemen tidak mengerti tentang ketidakadilan, kita yang sedang berada di ruang akademis pun gagap untuk mengucapkan kata feminisme dengan lantang dan berani.

Ketidakberanian itu muncul secara sadar, sebab kita tidak mengimplementasikan konsep gender dan sex sebagaimana mestinya. Ya, feminisme tidak bisa berlepas dari dua hal itu.

Maggie Humm dalam bukunya Ensiklopedia Feminis menjelaskan bahwa gender adalah sebuah istilah yang menunjukkan pembagian peran sosial antara laki-laki dan perempuan, dan ini mengacu kepada pemberian ciri emosional dan psikologis yang disesuikan dengan fisik antara laki-laki dan perempuan.

Adapun istilah sex mengacu kepada perbedaan secara biologis dan anatomis, antara laki-laki dan perempuan.

Dalam arti kata lain, Maggie Humm hendak menerangkan hanya pada sex (jenis kelamin) laki-laki dan perempuan berbeda, semestinya.

Berdasarkan pengertian itu, secara cepat-cepat kita memahami bahwa pemahaman yang keliru terhadap gender dan sex akan berujung pada budaya patriarki. Yakni, satu budaya di mana masyrakat menempatkan keadaan dan posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, baik dalam segi sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.

Budaya patriarki adalah satu bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Dari sinilah gerakan perempuan melalu ideologi feminisme bermula. Lantas apa itu feminisme?

Sebagai satu ideologi, sederhananya feminisme adalah gerakan perlawanan atas penindasan, dominasi, hegemoni, ketidakadilan, dan kekerasan yang dialami perempuan. Mereka yang berpaham dan pikirannya hidup melalui jalan itu disebut sebagai seorang feminis.

Feminisme menuntun pada jalan perjuangan untuk membebaskan perempuan dari semua ketidakadilan, sehingga feminisme juga memiliki artian gerakan-gerakan intelektual yang muncul dan tumbuh secara akademis maupun dalam bentuk upaya-upaya politik dan sosial perempuan untuk mengakhiri penindasan yang dialaminya. Upaya-upaya demikian diringkas menjadi gender equality.

Ya, feminisme hadir sebagai jawaban atas peliknya persoalan budaya patriarki. Tapi sayangnya, masyarakat kita acap kali gagal memahami ini.

Perjuangan Hak dan Keadilan terhadap Perempuan

Kondisi sosial pada masyrakat Indonesia secara perlahan menempatkan perempuan selalu di bawah, nomor dua setelah laki-lakiSimon De Behavior menamainya dengan kata liyan.

Terlahir sebagai perempuan, lebih-lebih di Indonesia, sungguh bukan persoalan yang sederhana. Perempuan adalah makhluk yang sering kali diringkas dan disederhanakan. Padahal sesungguhnya alangkah rumitnya perempuan, menjadi rumit di negara yang rumit.

Masyarakat kita belum terbiasa memandang perempuan dengan cara lain. Perempuan dimengerti hanya dari kacamata laki-laki. Demikianlah yang jamak menetap di pikiran orang Indonesia, bias gender. Sehingga pemenuhan atas hak-hak perempuan dirasa belum cukup adil, pada bidang apa saja.

Perempuan dibatasi ruang geraknya antara privat dan publik. Privat bermuara pada wilayah rumah tangga yang stereotipnya diperuntukkan bagi perempuan. Kemudian wilayah publik seperti lapangan pekerjaan dan negara diperuntukkan bagi laki-laki. 

Budaya patriarki juga yang membuat perempuan inferior lantaran tubuhnya. Secara intuitif, perempuan yang tidak dipenuhi haknya akan menjadikan mereka lupa akan bagaimana semestinya mereka mengambil peran dalam masyarakat.

Apa-apa yang perempuan Indonesia dapatkan hari ini, seperti keterlibatan dalam politik, pendidikan, sosial, ekonomi dan lain sebagainya, bukan semata hasil pemberian dari langit. Hal tersebut diperjuangkan oleh sejumlah perempuan itu sendiri. Ya, perempuan diberlakukan tidak adil, maka perempuan harus menjadi nomor satu untuk melawan dalam upaya menghilangkan ketidakadilan itu.

Dalam konteks bangsa Indonesia, sejarah mencatat, ada banyak sekali tokoh perempuan yang tampil heroik pada masing-masing zamannya, sebutlah Kartini, Chut Nyak Dhien, Rohana Kudus, Rahmah El-Yunusiah, Dewi Sartika, Siti Walidah, dll.

Nama-nama di atas melakukan perlawan dengan beragam, tetapi menariknya yang dominan dari perjuangan mereka  adalah melalui cara-cara non violence. 

Misalnya saja Kartini dan Rohana Kudus, mereka bertindak dengan cara yang elegan. Kita tahu Rohana adalah seorang wartawan perempuan pertama di Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sedangkan kisah-kisah Kartini dan pembelaannya terhadap perempuan  bisa kita baca melalui bukunya yang diterjemahkan ke pelbagai bahasa, " Habis Gelap Terbitlah Terang."

Masa Kartini dan Rohana Kudus hidup adalah masa di mana  perempuan bercita-cita saja tidak diperbolehkan. Bagi saya semangat mereka mewakili  dan melampaui zaman-nya. 

Di tengah keterbatasan, mereka tak habis cara untuk mendistribusikan pengetahuan dan realitas kepada dunia luar-kepada perempuan agar pengalaman pahit yang mereka jalani, tidak lagi terjadi sebab ketidaktahuan akan keadaan diri yang ditindas.

Mereka adalah simbol harapan dan juga api semangat perempuan Indonesia, oleh karena itu, ia tak boleh padam. Mereka pergi dalam hitungan usia yang relatif muda, Kartini misalnya, ia  meninggal di usia muda, 25 tahun. Tapi usia hanya soal hitung-hitungan angka, perjuangan kartini, abadi.

Pemikiran Kartini dan Rohana Kudus  pada awal abad ke-20  adalah peta menuju jalan kemajuan, bahwa sesama manusia laki-laki dan perempuan harus setara. Bermula dari kartini, gerakan perempuan di Indonesia menguncup dan berbunga.

Di Yogyakarya, jejak Kartini membekas. Pada 22 Desember tahun 1928,  sekitar 30 organisasi perempuan seluruh Indonesia berkumpul dalam satu agenda besar, kongres perempuan. Mereka berkumpul untuk kemudian menyalakan kembali semangat Kartini, untuk pendidikan dan keadilan perempuan di masa depan. 

Untuk mereka yang merasa dirinya manusia dan benci atas segala macam bentuk ketidakadilan. Untuk mereka yang pernah, sedang dan akan merasakan nikmatnya pendidikan.

Seperti pada awal tulisan ini, semangat tokoh-tokoh perempuan di atas, dipantik oleh narasi besar tentang konsep kesetaraan : adalah feminisme. Dan  hari ini kita merayakannya.

Selamat hari perempuan Internasional. Feminism  Is equal to justice.