…cara menyantap makanan olahan tertentu sedapat mungkin menggunakan jari jemari telapak tangan kanan, sangatlah dianjurkan.

Manusia tercipta begitu lengkap, sempurna.

Tak hanya akal pikiran, namun juga tubuh dan sistem di dalamya yang membuat setiap insan mampu berperilaku sehari-hari, beradaptasi dengan alam lingkungan bumi.

Tentang kulit, yang mungkin hingga saat ini masih hanya dinilai memiliki fungsi sebagai pelindung otot tubuh dalam kesehariannya berinteraksi dengan lingkungan sekitar, baik makhluk hidup maupun benda mati.

Sebagai salah satu panca indera, maka kulit tak hanya berfungsi sebagai perasa terhadap sensasi sentuhan. Namun, di dalamnya juga berlimpah enzim yang dikenal sebagai Ribonuklease atau disebut RNase.

Enzim ini berguna bagi manusia atas manfaatnya sebagai perusak laju proses sintesa protein kuman mikrobia, apakah jamur, bakteri, termasuk virus, yang memapar tubuh manusia.

Sehingga, sebelum kuman-kuman masuk ke dalam tubuh manusia, maka protein dalam tubuh mereka mendadak meledak, akibat ‘ulah’ RNase yang menyusup ke sarang sel kuman, lalu meluluhlantakkan ‘pabrik’ protein kuman tersebut.

Seluruh area kulit menghasilkan enzim RNase, tak terkecuali telapak tangan juga jari jemari tangan manusia.

Muluk dan Ndulang, Wujud Kasih Sayang

Saat manusia menyantap makanan sebagai asupan energi dan kandungan gizi, maka berkat limpahan enzim RNase dari telapak tangan dan jari jemari, membuat makanan tersebut menjadi nutrisi yang lebih bersih, bebas kuman juga virus secara alami.

Tentu, tetap sebelum bersantap, kuku jari jemari kudu dipotong rapi, lalu kedua telapak tangan kanan dan jari jemari perlu dicuci menggunakan sabun, agarlah terbebas dari berbagai kotoran yang melekat, sehingga kinerja enzim RNase menjadi lebih optimal.

Oleh karenanya, cara menyantap makanan olahan tertentu sedapat mungkin menggunakan jari jemari telapak tangan kanan, sangatlah dianjurkan.

Seluruh Kulit, Termasuk Ujung Jari Jemari Manusia, Terbukti Kaya Kandungan Enzym RNase.

Cara menikmati aneka hidangan masakan yang demikian, disebut Muluk dalam bahasa Jawa.

Jika menyuapkan sejumput makanan dalam jari jemari tangan kanan, ke mulut orang yang disayang, maka disebut; Ndulang.

Jaman masih kecil dulu, sebelum berangkat sekolah, sering kali didulang sarapan pagi berupa nasi hangat lauk telor ceplok atau paru goreng ditambah kecrutan kecap, adalah wujud pelampiasan kasih sayang orang tua dalam bentuk Ndulang yang membahagiakan.

Sepiring Nasi Padang, Nikmat Disantap Menggunakan Tangan Kanan yang Telanjang.

Jadi, sebagai salah satu upaya menyantap masakan secara sehat dan membahagiakan, marilah kita mulai dan luaskan gerakan santap makanan secara muluk.

Gerakan Makan Muluk Nasional, disingkat; Gema Lunas.



Sains telah membuktikan khasiat berpuasa melalui Autophag. Agama pun telah mengingatkan manfaat berpuasa.

Salah satu upaya bertahan pada saat wabah penyakit tengah melanda, adalah mempertahankan kualitas daya tahan tubuh.

Tahun 2016, ilmuwan biologi molekuler asal Jepang; Yoshinori Ohsumi diganjar hadiah nobel dalam bidang medik atas temuannya terhadap mekanisme Autophagy (Autophag).

Berasal dari bahasa Yunani, Autophagy berarti; memakan sendiri, Self Eating.

Yoshinori Ohsumi Sosok peraih Nobel berkat temuan Mekanisme Autophag.

“Tubuh manusia, selalu mengulang proses membusuk otomatis atau kanibalisme dan ada keseimbangan sempurna antara formasi dan pembusukan. Itulah hidup.” Demikian Yoshinori pernah menjelaskan ringkas atas mekanisme temuannya tersebut.

Autophag dalam Lisosom

Melalui proses Autophagy ini, maka milyaran bahkan triliunan sel dalam tubuh manusia bakal teregenerasi menjadi sel-sel baru yang segar, yang menunjang pula sistem kekebalan dalam tubuh.

Proses Autophagy secara alami terjadi dalam badan sel tubuh yang bernama Lisosom yang berfungsi sebagai pengendali sistem pencernaan intraseluler, yang oleh karenanya berlimpah enzim-enzim pencernaan.

Uniknya, dalam kondisi tubuh kekurangan kalori, seperti saat berpuasa, maka proses Autopaghy justru terpicu.

Daur Ulang Sel Tubuh

Sel-sel yang rusak, juga menjelang rusak, bakal memakan satu sama lain, berpesta pora secara kanibal dalam tubuh. Lalu, proses pembusukan tersebut menjadi setimbang dengan proses pembentukan formasi sel-sel baru.

Mekanisme Autophagy, suatu proses normal dimana sel-sel Eukariotik menghancurkan Organel Sel beserta protein didalamnya yang telah rusak karena kadaluarsa, untuk diganti dengan sel-sel yang baru. Merupakan mekanisme keberlangsungan hidup, yang menyediakan energi dan substrat bagi proses seluler, sewaktu tubuh mengalami stres dan lapar. Autophagy adalah suatu proses banyak tahap, yang melibatkan Inisiasi, Formasi Autophagosom (Vesikel yang menangkap daan mengantar materi Sitoplasma menuju Lisosom untuk dicerna), Maturasi dan Degradasi. Sumber: Nexcelom Bioscience.

Sel tubuh pun telah terdaur ulang. Efeknya, berupa peningkatan ketahanan tubuh terhadap penyakit.

Terkait terjadinya mekanisme Autophagy pada sel tubuh, maka kegiatan berpuasa, apakah bertujuan ibadah maupun medis, memberikan efek yang sama, yakni; meningkatkan kelimpahan imun tubuh.

Berpuasa itu Menuai Sehat

Oleh karenanya, mekanisme Autopaghy yang kemudian terbukti bisa menjadi dasar upaya penyembuhan penyakit degeneratif macam alzheimer, diabetes ini menarik untuk dijadikan pola menghadapi pandemi kali ini.

Berpuasa, sekira 13 jam untuk tujuan beribadah di wilayah Indonesia. Juga, berpuasa untuk tujuan medis, sekira 8 jam.

Keduanya menjadi upaya, agar justru menjadikan pelakunya bertambah sehat. Karena sel-sel dalam tubuhnya terlahir kembali lebih segar, meski sering kali terlihat raut wajah terlihat lemas, lunglai, kepleh.

Buah Kurma Berkhasiat Sebagai Anti Inflamasi.

Setelah berpuasa berjam-jam lamanya, saat breakfast (berbuka puasa), perlu diawali dengan mengkonsumsi sebiji, dua biji Kurma, yang terbukti memiliki khasiat sebagai anti inflamasi. Buah afdal, begitu orang berbuka puasa bilang.

Buah Pisang mengandung Banlec yang mampu ‘menambal’ benteng Lektin dalam paru-paru, yang rusak gara-gara ulah Staphylococcus auerus, biang pneumonia.

Atau, menikmati sebuah pisang yang mengandung protein Lektin, Banana Lectin (BanLec), yang terbukti berkhasiat menjaga kualitas kinerja organ paru-paru.

Ilmu dan Iman

Menjelang tahun 2022,  tampaknya masih menggeliat wabah yang mendunia. Sehingga menjaga ketahanan tubuh menjadi utama.

Bersyukur manusia mendapat anugerah akal pikiran dan ilmu pengetahuan, agar selalu mampu menghadapi setiap kesulitan.  

Sains telah membuktikan khasiat berpuasa melalui Autophag. Agama pun telah mengingatkan manfaat berpuasa.

Ilmu pengetahuan terkait mekanisme Autophagy, menjadi permenungan betapa Kalam-Kalam Ilahi, baik perumpamaan maupun tersurat, telah mengingatkan manusia, jauh-jauh hari.

Mari hadapi cobaan wabah kali ini dengan memadukan ilmu dan iman. Agar setiap diri kita tak hanya lebih berimun, namun juga semakin beriman.

Bahan bacaan penginspirasi tulisan;

  1. Probst, Jochen, 2006, Characterization of the ribonuclease activity on the skin surface, Genetic Vaccines and Therapy, BioMed Central, National Center for Biotechnology Information.
  2. Holley, Robert W., April 24, 1961, Evidence for the Liberation of a Nuclease from Human Fingers, Journal of Biological Chemistry, Vol. 236, No. 7.
  3. The Nobel Prize in Physiology or Medicine, October, 03, 2016, Press release; The Nobel Assembly at Karolinska Intitute has today decided to award the 2016 Nobel Prize in Physiology or Medicine to Yoshinori Ohsumi for his discoveries of mechanisms for Autophagy.
  4. Mitchell, Polly, August 23, 2012, Autopaghy Mechanism, Nexcelom Bioscience.
  5. Saryono, Et. al, 2020, Anti-Inflamatory activity of date palm seed by downregulating interleukin-1β,TGF-β, cyclooxygenase-1 and -2: A study among middle age women, Saudi Pharmaceutical Journal, sciencedirect.com
  6. Singh, Senjam Sunil, Et. al, 2014, Banana Lectin: A Brief Review, Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI), National Center for Biotechnology Information.