1 tahun lalu · 269 view · 4 menit baca · Buku 22000.jpg

Menjelajahi Dunia Para Penggila Buku

Buku-buku adalah rumahku.
Mereka memberiku keteduhan
dari teriknya panas di musim kemarau.
Mereka membentengiku
dari dinginnya angin di musim penghujan.
Buku-buku adalah rumahku.
Mereka adalah pelindung setiaku.

~ Gubahan dari kata-kata Carlos Brauer

Semua bermula dari La linea de sombra. Buku terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad ini menjadi awal bagi seorang novelis kenamaan, Carlos Maria Dominguez, mengisahkan novel mungilnya Rumah Kertas—terbit pertama kali pada 2002 di Montevideo, Uruguay, dengan judul asli La casa de papel.

Sebagai upaya meresensi karya mungil ini, saya akan memantiknya melalui satu pertanyaan sederhana: apa yang bisa kita petik dari novel yang hanya berkisar 76 halaman ini? Sungguh, sebuah karya tidak patut diukur dari segi kuantitas berupa ketebalan halamannya, melainkan kuantitas dari segi bobot idenya.

Sebagaimana penilaian yang diberikan oleh Critiques Libres di bagian endorsement, buku ini memuat beragam kisah yang tak mungkin bisa terlupakan begitu saja. Mulai dari kisah dunia sastra abad 19 dan 20, ragam bentuk dan kegunaan perpustakaan dari para bibliofil diutarakan.

Dan yang utama adalah fenomena kecintaan yang teramat sangat dari para pencinta buku tulen. Semua kisah-kisah ini yang kemudian menjelmakan mahakarya Carlos Maria Dominguez sebagai novel yang hanya diperuntukkan untuk dibaca berulang kali.

Ya, novel tipis ini memang mampu menghantui para pembacanya, bahkan jauh sesudah ia ditutup rapat. Buka dan lalu dibaca kembali, begitu seterusnya, sampai buku ini sendiri lelah untuk disenggamai sesering mungkin oleh si pembaca.

Ruang Inspiratif

Ada banyak hal yang bisa kita jadikan inspirasi dari gagasan besar seorang novelis kelahiran Buenos Aires, Argentina, 1955 ini. Di antaranya adalah bagaimana kita, khususnya sebagai penikmat (pembaca), memperlakukan buku sebagaimana layaknya.

Buku bukan barang antik yang harus kita koleksi hanya sekadar sebagai pajangan atau hiasan, atau sekadar ingin tampil sebagai yang intelek di hadapan publik.

Tetapi jauh daripada itu, sebagaimana diungkap si penulis saat mengunjungi kembali kota kelahirannya dan mendapati kota itu lebih kemilau dan modern. Dan tentu saja, ini efek dari tidak arifnya kita dalam memposisikan kecanggihan alat-alat teknologi itu.

“Orang-orang kota berjalan dengan ponsel menempel di telinga dan menyetir mobil dengan gawai menggelantung di pundak. Mereka berbicara ke alat itu di kerumunan, di supermarket, bahkan saat sedang menyapu trotoar, seakan-akan wabah kelisanan telah mengambil alih hidup mereka.” (hlm. 13)

Selain sebagai medium perlawanan atas budaya lisan, fungsi sebuah buku juga tidak kita butuhkan selain hanya untuk mempelajari dan memahaminya. Hal ini sebagaimana dimunculkan dari dua tokoh utamanya, yakni Agustin Delgado dan Carlos Brauer, yang sepanjang hidupnya membangun koleksi perpustakaan dan sanggup mengeluarkan uang berlebih hanya untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam.

Mengapa harus demikian? Kiranya patut kita renungkan kata-kata Delgado ketika ia berujar bahwa membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan (hlm. 26).

“…seorang pembaca adalah pengelana dalam lanskap yang sudah jadi. Dan lanskap itu tak berkesudahan… Dan kebagiaan terbesar saya adalah bisa membenamkan diri, sekian jam sehari saja, dalam waktu kemanusiaan ini, yang bila tidak demikian akan terasa asing bagi saya. Seumur hidup tidaklah cukup untuk ini. Meminjam separuh kalimat Borges: perpustakaan adalah pintu memasuki waktu.” (hlm. 31).

Spirit kecintaan akan buku dari Delgado patut kita rayakan sebagai satu inspirasi yang luar biasa. Ia tidak butuh dan tertarik sepenuhnya pada buku-buku edisi pertama. Yang ia inginkan hanyalah buku yang terjangkau dengan kondisi sebaik mungkin. Jika tidak, baginya, ia akan gelisah terus-terusan.

Hal ini tentu harus kita aminkan secara bersama. Sebab mustahil suatu bangsa mampu meningkatkan budaya literasi sebagai ujung tombak pembangunan tanpa berlandas pada kecintaan penuh pada buku-buku. Seperti Delgado, kita pun harus mengeluhkan waktu buat membaca yang terlalu sedikit (hlm. 31).

Sebuah Semesta

Hal menarik lainnya yang juga patut kita jadikan sebagai inspirasi adalah Carlos Brauer. Sebagaimana dikisahkan oleh Delgado rekan karibnya, Brauer lebih gila lagi dalam mencintai buku. Ia kutu buku. Berapa pun uang yang ia punya, ia belanjakan hanya buat buku.

“Brauer punya banyak koleksi (saya yakin lebih dari dua puluh ribu). Sampai-sampai ruang tamunya, yang sama sekali tidak kecil, akhirnya penuh dengan rak-rak. Bahkan kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air.” (hlm. 30).

Meski keduanya sama-sama bibliofil tulen, tetapi perlakuan mereka atas buku sama sekali bertolak-belakang. Bisa dikatakan bahwa Delgado lebih damai dalam memperlakukan buku, sedang Brauer terkesan anarkis atasnya.

“Saya sering memohon pada Brauer untuk tidak merusak edisi berharga dengan tulisan cakar ayamnya… Saya menyebutnya tak peka, dan dia menyebut saya sok suci… Ia berkata bahwa dengan menulis marjin-marjinnya dan menggaris bawahi kata-katanya, akan lebih mudah menangkap maknanya… Katanya, ‘Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme’… Sebaliknya buat saya, buku dicoret-coret selalu terasa brutal. Saya merasakan suka cita yang luar biasa saat membuka buku dan mendapati tidak ada ujung yang tertekuk…” (hlm. 32).

Apapun itu, kisah dalam Rumah Kertas terasa jelas membawa kita ke semesta buku yang sungguh-sungguh luas. Beragam karya sastra ternama ditampilkan di dalamnya, mulai dari sejarah klasik seperti sastra Rusia abad 19, koleksi sastra Amerika, naskah-naskah teater Yunani dan sandiwara zaman Elizabeth, hingga beberapa buku langka Meksiko dari para penulis seperti Arlt, Borges, Vallejo, Onetti, dan Valle-Inclan.

Belum lagi ensiklopedi dan buku-buku karya orang yang pernah mengarungi Rio de la Plata. Semua ditampilkan di hampir setiap paragram Rumah Kertas.

Terakhir, novel mungil Carlos Maria Dominguez ini tentu tak hanya wajib dibaca para pencinta buku tulen seperti Brauer yang memilih untuk menjadikan koleksi pribadinya sebagai rumah hunian, tidak hanya layak dibaca oleh para pustakawan, tetapi juga layak dibaca sebagai rujukan oleh para penggila sastra-sastra kuno.

Sebab di dalamnya, seperti disebutkan di atas, hampir semua karya sastra dimunculkan di setiap paragraf penulisannya.