Penikmat kopi
1 bulan lalu · 890 view · 3 min baca · Politik 30315_56453.jpg
Okezonenews

Menjegal Anies Mendongkrak Ahok

Pilkada Jakarta yang tak selesai

Anies dan Ahok sama-sama dicela dan dipuji. Kedua tokoh nasional ini selalu menjadi news maker

Rivalitas di Pilkada DKI Jakarta belum selesai, terutama pendukung Ahok yang belum terima kemenangan Anies. Kalaupun terima, masih seperempat hati. Kasihan mereka.

Gerak-gerik Anies terus dipantau, sentimentil terhadap Anies tak pernah surut. Seperti banjir Jakarta, Anies dibanjiri air kotor dan air bersih. Air kotor merujuk pada celaan terhadap dirinya dan air bersih merujuk pada pujian terhadap dirinya. 

Hal serupa didapati Ahok. Bedanya, Ahok sedang nganggur jadi lebih enjoy.

Sebelumnya, Anies disuguhi tagar Anies Capres 2024. Tagar itu ternyata mengganggu psikologis para tifosi Ahok. Mulailah membandingkan masa pemerintahan Ahok dan Anies di Jakarta. Usaha menjegal Anies dan mendongkrak Ahok begitu terasa. Kisah kampret dan cebong seolah tak pernah habis.

Kami yang golput harus ke mana? Mengkritisi Anies dianggap cebong, mengkritisi Ahok dianggap kampret. Biarlah itu terjadi. Toh gelar itu tidak boleh menggangu objektivitas penilaian. Bagi saya, Ahok dan Anies manusia biasa, tanpa pengawasan dan kritik bakal jumawa.


Keduanya bakal otoriter bila kelompok yang ada hanya pemuja dan pemuji. Namun demikian, kritik membabi buta yang tidak mencerahkan hanya merugikan bangsa dan penduduk negeri ini. Karenanya, para pendukung Ahok tak perlu menjegal Anies dengan maksud mendongkrak elektabilitas Ahok.

Serangan bertubi-tubi kepada Anies seolah memberi gambaran betapa kalah dalam politik itu lebih menyakitkan dari putus cinta. Akibatnya, objektivitas hilang. Sama halnya dengan para pemuja Anies, memuji berlebihan seolah Anies tanpa cela.

Akar keduanya adalah fanatisme. Sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia. Kita dilahirkan dengan kemerdekaan, memiliki otonomi berpikir, sampai akhirnya kita menyerahkan pikiran kita pada orang lain.

Kisah kampret dan cebong never ending story selama kita belum merdeka dalam berpikir. Usaha menjegal Anies dan pada saat yang sama mendongkrak Ahok adalah bukti nyata. Mengkritisi Anies sambil memuji Ahok. 

Harusnya kritik tanpa embel-embel. Inilah mengapa saya memilih golput sejak pemilu berlangsung. Bagi saya, mengkritisi harus bebas dari propaganda murahan, hasutan, maupun iri dengki. Tak boleh kita menutup mata dan telinga.

Menjegal Anies sambil mendongkrak Ahok adalah agenda fanatisme. Agenda intelektual bukan begitu. Silakan kritik Anies sekuat Anda, tapi tak perlu membandingkan dengan Ahok. Setiap orang memiliki style kepemimpinan sendiri.

Barangkali Anda membantah, Anda menganggap itu reflektif. Bagi saya, itu provokatif yang jauh dari edukatif. Jika berani, pujilah Anies meski Anda pendukung Ahok. Hal yang sama hendaknya dilakukan pendukung Anies terhadap Ahok.

Pilpres 2024 masih jauh bahkan tragedi pilpres 2019 belum selesai. Luka kebencian Pilkada 2017 dan Pilpres 2019 belum pulih benar. Bangsa kita terus berperang antar-sesama. Sementara bangsa lain tertawa sambil menikmati segala sumber ekonomi kita.

Anies, meski banyak kekurangan, memiliki prestasi. Demikian pula Ahok. Menjegal Anies sambil mendongkrak Ahok merupakan kerja politik. Kita harusnya sejenak istirahat dari kegaduhan politik.

Biarkan Anies bekerja dan biarkan Ahok menikmati masa mudanya bersama istri baru. Tak elok terus-terusan mengadu domba Anies dan Ahok, membandingkan keduanya sambil menyelundupkan kebencian.


Mereka hanya artis di atas panggung politik. Peran mereka jangan sampai mengaburkan substansi alur cerita. Pesan-pesan moral tercecer karena kita yang disibukkan fanatisme. Kebodohan apalagi yang kita pelihara?

Usaha menjegal Anies malah memunculkan konflik baru. Konflik yang tak produktif. Pendukung Ahok harusnya sadar, Anies rising star yang makin diganjal malah makin hebat. Blunder yang dipelihara bahkan dikembangbiakkan.

Harapan terlalu besar pada Ahok dan kebencian membuncah pada Anies adalah simbol kegagalan berpikir. Kalian harusnya bisa berpikir independen, sehat, cerdas, produktif. Tapi kalian gagal, kalian ditunggangi media yang partisan.

Negeri ini tereduksi hanya karena fanatisme. Sudah lama merdeka, namun berpikir masih partisan. Sudah lama merdeka, tapi masih bisa ditunggangi. 

Strategi menjegal Anies sambil mendongkrak Ahok pada akhirnya membuang energi bangsa ini. Terbuang percuma, kalian masih menganggap ini musim kampanye. Mari berpikir logis, jangan mitos yang dijual kepada publik.

Anies jatuh sekalipun, Ahok gak bakal memimpin Jakarta. Lebih baik mengkritisi Anies tanpa melibatkan Ahok dan tokoh lainnya. Bagi Anies, kritik adalah cara memuji, ia tak akan marah. Namun beda dengan menjegal Anies.

Sabarlah sedikit jika ingin Ahok bersaing dengan Anies dalam Pilpres 2024. Saya yakin Anies siap bersaing dengan Ahok secara sehat, itu pun jika Ahok tidak terganjal aturan karena ia mantan napi dengan ancaman hukuman 5 tahun.

Beberapa pakar hukum termasuk Mahfud MD, menyatakan Ahok tak bisa nyapres. Para pendukung Ahok sebaiknya perjuangkan aturan yang menjegal Ahok. Jangan terlalu sibuk menjegal Anies dan mendongkrak Ahok.

Artikel Terkait