Sudah 72 tahun bangsa ini terbebas dari belenggu para penjajahan kolonialisme yang dengan rakusnya merampas hak-hak kehidupan rakyat Indonesia. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan papan direbut dari tangan masyarakat, bahkan hak untuk menikmati hidup direbut demi melanggengkan kepentingan para penjajah dan pemerintah colonial saat itu. 

Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 para pejuang kemerdekaan yang diwakili oleh Soekarno dan Mohammad Hatta memprolamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia dihadapan seluruh rakyat Indonesia. Seluruh masyarakat dengan lantang meneriakkan kata MERDEKA sebagai tanda penjajahan telah dipaksa angkat kaki dari tanah air tercinta ini. Dibacakannya naskah proklamasi menjadi titik awal Indonesia menjadi negara yang berstatus merdeka.

Perjalanan menuju kemerdekaan dilalui dengan penuh perjuangan dan tumpah darah. Untuk menjadi bangsa yang merdeka, pergorbanan demi pengorbanan dilakukan, harta dan nyawa dijadikan tumbal agar cita-cita kemerdekaan tersebut dicapai. Kemerdekaan menjadi harta yang tidak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia yang sangat merindu akan kebebasan dan ketentraman di tanah airnya sendiri. 

Terbebas dari segala belenggu penjajahan dan ketertindasan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, meski nyawa menjadi taruhannya. Terjajah selama 350 tahun adalah waktu yang sangat lama, waktu di mana peradaban bangsa ini hilang tergantikan dengan banyaknya perbudakan di mana-mana. Masih terekam jelas diingatan bagaimana perihnya menjadi bangsa yang terjajah selama tiga abad lebih.

Usia kemerdekaan sudah memasuki usia 72 tahun, tapi hingga detik ini tidak terlihat kehidupan yang menampilkan kemerdekaan di wajah-wajah rakyat Indonesia. Usia yang  mana seharusnya bangsa ini sudah menunjukkan wajahnya sebagai negara yang merdeka secara utuh. Namun kenyataanya masih saja tersaji pemandangan kehidupan rakyat dari zaman pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan tidak jauh berbeda. Kemiskinan, kebodohan dan kesenjangan sosial masih terlihat jelas di mana-mana.

Pinggiran-pinggiran kota masih dipenuhi dengan rakyat jelata yang tidak memiliki rumah. Jalan-jalan masih banyak dikerumuni oleh anak-anak kecil yang dengan semangatnya mencari nafkah untuk kehidupan sehari-harinya, dan setiap hari masyarakat tidak pernah berhentu menggemis kepada pemerintah menuntut hak hidup layak di tanah mereka sendiri. Berjualan koran, makanan ringan, mengamen, dan meminta belas kasih dari penghuni badan jalan hingga ke pintu-pitu rumah adalah rutinitas yang terus dilakukan setiap hari.

Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah juga tidak mampu menghentaskan persoalan rakyat hingga detik ini. Yang terjadi malah sebaliknya, para pemangku jabatan terlihat sangat asyik menikmati uang rakyat di atas kursi-kursi mereka. Bahkan mereka dengan leluasanya mempermainkan undang-undang agar kepentingan demi kepentingan yang dimiliki terus terakomodir dengan baik. Mereka lebih senang menghidupi diri dan golongannya saja daripada memerhatikan kesejahteraan rakyat yang dipimpin.

Kesejahteraan menjadi hal yang tidak prioritas untuk diwujudkan, hanya menjadi nomor kesekian dalam kamus para pemangku jabatan di negeri ini. Padahal kesejahteraan rakyat adalah inti dari kemerdekaan yang utuh itu, di mana setiap hak rakyat diperhatikan oleh para pemimpin bangsanya. Kemerdekaan menjadi suatu hal yang diperjuangkan karena pendiri bangsa ini menyadari hanya dengan menjadi bangsa yang merdeka mereka bisa menikmati kekayaan negerinya. Kesejateraan mereka bisa terjaga dengan baik, tanpa harus dibelenggu secara lahir batin oleh penjajah.

Di tahun 1998, saat rakyat bergejolak memaksa Presiden Soeharto mundur dari jabatan kepresidenannya karena tidak lagi mampu memimpin bangsa ini sebagaimana manat yang diberikan padanya. Peristiwa itu juga yang akhirnya ikut meruntuhkan era orde baru yang selama 32 tahun berkuasa di negeri ini. Kemudian muncul era baru yang digagas oleh para kaulah muda, yaitu reformasi, yang di dalamnya termasuk Amin Rais yang hari ini dijuluki sebagai bapak reformasi. Reformasi diharapkan menjadi era perubahan yang membawa masyarakat pada kesejahteraan sebagaimana amanat kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa ini.  

Selama 19 tahun lahirnya reformasi, empat kali pergantian presiden masih tetap saja menampilkan pemandangan bangsa yang terjajah. Persoalan kesejahteraan merupakan aspek yang paling disoroti karena menjadi persoalan yang belum mampu diselesaikan hingga hari ini. Era reformasi belum mampu menjadi solusi atas masalah bangsa, sehingga bukan hal yang mengherankan bila reformasi dianggap gagal untuk melanjutkan kewajibannya sebagai era yang selama ini menjadi harapan bangsa.

Hari kemerdekaan sebentar lagi datang menghampiri bangsa ini, kegiatan-kegiatan perayaan kemerdekaaan yang eforia hingga kegiatan formal sudah mulai terlihat di tiap pelosok negeri. Masyarakat berbondong-bondong menghiasi halaman rumah, jalan, gapura dan properti lainnya untuk menyambut perayaan kemerdekaan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dengan suka cita menyambut hari kemerdekaan yang tiap tahu diselenggarakan pada tanggal 17 Agustus. Akan tetapi, dibalik perayaan ini, ada banyak orang yang masih terjebak di dalam jurang gelap kemelaratan. Meskipun wajah-wajah yang terlihat dari rakyat Indonesia adalah wajah yang tersenyum bahagia menyambut hari kemerdekaan.

Pada hakikatnya, kemerdekaan suatu bangsa tidak boleh dilihat dari satu sudut pandang saja. Kemampuan suatu bangsa melepaskan diri dari belenggu perbudakan adalah langkah awal untuk memulai kehidupan yang merdeka. Ketika suatu bangsa yang merdeka masih memelihara penyakit penjajahan yang terbingkai oleh kemiskinan, rendahnya derajat manusia, kebodohan, dan kesenjangan social, maka bangsa tersebut tidaklah memahami hakikat dan tujuan kemerdekaan itu.

Bangsa ini harus memahami bahwa hakikat dari kemerdekaan adalah bebas seutuhnya dari penindasan dan ketidakadilan dan melahirkan rakyat yang sejahterah. Orang yang masih ditindas dengan kondisi kemiskinannya belum bisa dikatakan merdeka secara utuh. Sebuah kota tidak dikatakan merdeka ketika kota tersebut hanya diisi oleh pemimpin yang rakus dan tidak peduli pada rakyat yang dipimpinnya.  Sebuah bangsa dapat dikatakan merdeka secara utuh bilamana mampu mewujudkan cita-cita dari kemerdekaan itu sendiri.

Tiga era telah menjadi komando atas perjalanan bangsa ini, dari tiga itu belum satupun yang dapat dikatakan mampu mewujudkan cita-cita dari kemerdekaan secara utuh. Kemerdekaan yang masih sebatas kemerdekaan formal hanya mampu tertuang di atas kertas putih saja, belum sampai pada ranah kehidupan rakyat Indonesia. Kesejahteraan hidup masyarakat masih sangat jauh di tangan, sehingga tidak mampu dicapai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Terlebih dengan pemimpin yang masih saja abai dengan hal ini.

Oleh karena itu, momentum kemerdekaan inilah yang kemudian harus kita jadikan sebagai momentum untuk refleksi bersama terhadap diri dan kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan. Merenungi makna kemerdekaan secara mendalam sampai bangsa ini mampu memahami hakikat dari kemerdekaan yang sudah dicapainya selama 72 tahun lamanya. Jika ada yang mengatakan bahwa kemerdekaan adalah harta yang berharga, maka sejatinya harta yang berharga harus dinikmati bersama, tanpa harus dimonopili oleh segelintir orang saja. Kemerdekaan harus dirasakan bersama, baik yang kaya maupun yang miskin, selama dia adalah penduduk negeri ini, maka hak dia untuk merasakan kehidupan yang merdeka baik sebagai individu maupun sebagai rakyat dari bangsa Indonesia.