Menanggapi pernyataan Habib Rizieq tentang Yesus sebagai Putra Allah yang telah tersebar di media sosial dan YouTube, saya merasa bahwa memberi sebuah jawaban dan penjelasan atas pertanyaan Habib lebih berdampak positif dalam konteks dialog iman. Artinya, mungkin pertanyaan serupa tidak dirasakan oleh Habib seorang diri tetapi orang-orang non-kristiani lain.

Saya tidak akan mempersoalkan itu sebagai penistaan agama atau bukan, atau mempersoalkan pihak PMKRI yang telah melaporkan Habib Rizieq terkait masalah penistaan. Kalau saya boleh berpendapat, kedewasaan dalam beriman justru diukur ketika kita dapat mempertanggungjawabkan iman kita dalam sebuah diskusi damai. Artinya tidak perlu kita merasa dipermalukan atau dihina.

Namun harus diperhartikan, apakah pertanyaan seputar iman seperti diungkapkan Habib Rizieq atas dasar suatu motif keingintahuan atau sebaliknya menyindir bahkan memprovokasi? Hal seperti itulah yang mesti dihindarkan dalam konteks dialog iman! Dengan demikian, situasi atau hubungan umat antaragama dapat terjalin secara harmonis sehingga tidak perlulah pihak a melaporkan pihak b atau sebaliknya.

Berikut, saya akan memaparkan seputar persoalan keilahian (keallahan) Yesus Kristus yang kiranya dapat menjawab pertanyaan seputar keilahian Yesus sebagai Putra Allah. Tentu saja tidak mudah menjawab dan menjelaskannya apalagi bagi kalangan non-kristiani.

Pertanyaan tentang hakekat Yesus merupakan suatu pertanyaan mendasar dalam kaitan dengan iman Kristiani. Pertanyaan perihal kemanusiaan dan keallahan (keilahian) Yesus dapat dimasukan dalam diskusi Kristologis. Setidaknya, sejauh ini, paham Kristologi dalam arti ketat, belum menjadi sebuah paham yang tertutup. Artinya, diskusi seputar keilahian dan kemanusiaan Yesus terus terbuka dalam konteks pendalaman iman.

Mengingat paham kristologis yang cukup rumit dan mengantisipasi penjelasan saya yang tidak begitu mudah dipahami apalagi bagi kalangan non-kristiani, alangkah baiknya, saya mesti menempatkan tesis Kristologi pada bagian awal. Iman kristiani pada umumnya menyakini Yesus Kristus sebagai Pribadi yang memiliki dua kodrat yaitu ilahi dan manusia. Dia sungguh ilahi dan sungguh manusia.

Istilah ilahi dalam keyakinan kristiani baik Katolik maupun Prostestan mau menekankan keallahan Yesus. Dalam istilah lain, Yesus adalah Putra Allah. Bagi kaum non-kristiani, hal ini mungkin sulit dipahami. Ungakapan Habib Rizieq, dalam arti ini dapat dipahami. Habib Rizieq mempersoalkan: “perihal Yesus sebagai Anak Allah”. Kurang lebih demikian pokok persoalannya. Namun, saya tidak “mempersoalkan” apakah itu sebagai penistaan agama atau bukan.

Dengan kapasitas yang dimiliki, saya akan menjawab pertanyaan tentang keallahan atau perihal Kristus sebagai Putra Allah. Diskusi seputar keallahan dan kemanusiaan Kristus sudah berlangsung sejak tujuh abad pertama tarik masehi. Para teolog abad-abad itu telah berusaha dengan serius menjawab persoalan kristologis ini. Tujuh konsili ekumenis pertama (abad IV-VII M) merupakan bukti faktual tentang usaha itu.

Namun sebelum kita sampai pada pemahaman Kristologis seputar tujuh konsili ekumenis pertama itu, saya akan menunjukan secara biblis konsep kristologis itu. Perlu diingatkan lagi bahwa tinjaun biblis dan teologis (melalui tujuh konsili ekumenis pertama) tetap bermuara pada suatu kesimpulan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Lalu seperti apa Kitab Suci (Injil) menceritakan pribadi Yesus Kristus?

Pertama-tama, kita menganalisis apa yang dikatakan Yesus tentang diri-Nya sendiri? Tentu ditelisik melalui tulisan dalam Kitab Suci. Secara sangat singkat, dapat dikatakan bahwa dalam Injil, Yesus tidak pernah secara eksplisit mengatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Putra Allah. Yesus sebagai orang Yahudi sejati mengenali ajaran Yahudi yang sangat menekankan keesaan Allah.

Pengakuan diri sebagai Allah atau Putra Allah tentu saja dapat menimbulkan suatu kontroversi dalam masyarakat. Selain itu, perlu diingatkan bahwa dalam keyakinan Yahudi, tingkatan dosa terbesar adalah menyangkal keesaan Allah. iIu sama halnya dengan memberontak atau melawan Allah. Yesus setidaknya sangat taat dalam hal ini sekalipun akhirnya orang Israel tetap menolak-Nya.

Apakah dengan demikian, secara biblis (Injil) pengakuan Yesus sebagai Putra Allah tidak berdasar? Jawabannya  tentu ada dan tidak sekadar ya atau tidak. Setidaknya ada tiga bukti mendasar untuk itu. Pertama, Yesus memang tidak pernah memperkenalkan diri secara eksplisit sebagai Putra Allah namun julukan Putra Allah tidak ditolak-Nya ketika para murid mengatakan hal serupa pada-Nya.

Salah satu buktinya melalui pengakuan Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat.16: 16). Artinya, julukan atau pengakuan dari para murid itu tidak ditolak-Nya. Malah Yesus “memuji” Petrus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di Surga.” (Mat. 16: 18).

Kedua, bukti kedua ini kiranya lebih menyakinkan yaitu hubungan Yesus dengan Allah. Dalam setiap pengajaran-Nya, seringkali Yesus memberikan sapaan Allah sebagai Bapa-Ku. Itu artinya, Dia memiliki suatu hubungan khusus dengan Allah. Bahkan sebelum wafat di salib, Yesus tetap menunjukan suatu hubungan khusus dengan Allah melalui sapaan Bapa.

Dalam Injil, banyak sekali bukti-bukti serupa. Penyebutan Allah dengan sapaan Bapa tentu tidak dapat dipahami dalam konteks hubungan biologis belaka tetapi mau menggambarkan suatu hubungan “khusus” di mana hubungan itu tidak dimiliki oleh manusia lain di Bumi ini. Yesus disebut Kristus karena Dialah yang dipilih Allah  untuk menjadi penyelamat dunia. Kristus berarti “yang diurapi oleh Tuhan”.

Ketiga, sejarah Yesus Kristus diwarnai banyak peristiwa ajaib. Setidaknya, mulai dari penampakan malaikat Gabriel pada Maria sampai peristiwa kebangkitan-Nya. Maria mengandung atas karya Allah dan bukan melalui hubungan suami-istri. Malaikat Gabriel sendiri langsung menamainya Yesus; yang berarti Allah menyelamatkan. Beberapa kali, Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan dari orang yang kerasukan setan.

Yesus bertindak dalam suatu otoritas khusus dan sampai setanpun mengakui-Nya sebagai Putra Allah: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi?” (Luk. 8:28). Demikianlah  salah-satu kutipan pernyataan iblis, ketika Yesus berusaha mengusirnya dari seorang yang kerasukan roh jahat. Allah sendiri pun dengan tegas menegaskan hal serupa, yang dapat kita lihat pada peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes.

“Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan’” (Luk. 3:22). Dengan demikian, relasi itu tidak hanya “diperlihatkan” Yesus tetapi Allah sendiri mengakuinya. Allah menyapa Yesus sebagai Anak demikianpun sebaliknya Yesus menyapa Allah dengan sebutan Bapa. 

Tiga dimensi pembuktian biblis ini hanyalah wakil dari sekian banyak teks yang dapat menjadi rujukan. Bagi kalangan non-kristiani, saya pikir dapat mengakes lebih lanjut tentang bukti-bukti secara khusus dalam Perjanjian Baru khususnya Injil. Singkatnya, pembuktian-pembuktian mencapai puncak pada peristiwa kebangkitan Yesus. Kebangkitan menjadi titik tolak iman dan seluruh pewartaan iman kristiani. 

Dengan peristiwa kebangkitan, para pengikut Yesus semakin dikuatkan dan diyakinkan bahwa Dia sungguh utusan Allah dan tentu Putra Allah sebagai julukan yang pantas diberikan pada Yesus. Dia berbeda dengan utusan lain seperti para Hakim-Hakim atau Nabi-nabi. Perbedaan justru terletak pada kekhasan dan kekhususan hubungan-Nya dengan Allah dan seluruh historitas-Nya yang penuh dengan tanda-tanda keajaiban.

Dengan demikian, secara biblis, unsur keilahian atau keallahan Yesus dapat dipertanggunjawabkan. Namun di mana unsur insani atau kemanusiaan Kristus? Peristiwa inkarnasi: “Allah turun ke tengah dunia” menjadi bukti kuat di mana Allah mau berbela rasa dengan manusia. Yesus pun hidup di tengah manusia dan merasakan pengalaman manusiawi seperti rasa lapar dan pengalaman kemanusiawian lainnya.

Maka pengalaman kemanusiawian Yesus seperti rasa takut dan sedih ketika menghadapi penderitaan salib dapat dilihat dalam konteks Yesus sebagai seorang manusia. Tentu itu bukanlah sikap kepuraan-puraan tetapi suatu hal yang terjadi dan dialami oleh Yesus sendiri. Kemanusiaan dan keilahian Yesus tidak dapat dipahami secara terpisah tetapi keduanya merupakan satu-kesatuan atau dalam istilah lain: “Satu Pribadi dua Kodrat.”

Setelah kita menelusuri konsep kristologis dalam Kitab Suci, sekarang saya akan menunjukan perdebatan kristologi selama tujuh abad pertama tarik masehi. Pertanyaaan tentang kemanusiaan dan keallahan Yesus telah mengisi diskusi teologis abad-abad pertama (IV-VII M). Saya tidak akan membahasnya secara detail mengenai perdebatan seputar keallahan dan kemanusiaan Kristus oleh para teolog abad itu.

Setidaknya ada dua mazhab yang bepengaruh pada abad-abad itu yaitu mazhab Anthiokhia dan mazhab Aleksandria. Mazhab Anthiokhia diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Diodorus dari Tarsus, Theodorus dari Mopsuestia, dan Nestorius. Sedangkan, mazhab Aleksandria, di dalamnya terdiri dari tokoh-tokoh seperti Apolinaris dan Cyrillus. Agak sulit membentuk suatu kesimpulan pemikiran dari masing-masing tokoh itu.

Namun setidaknya kecenderungan masing-masing mazhab memiliki kekhasan masing-masing. Mazhab Anthiokhia menekankan unsur kemanusiaan Kristus. Bagi mazhab ini, Allah mengadopsi kemanusiaan Kristus sehingga ada waktu di mana Kristus itu hanya manusia belaka. Salah-satu tokoh terkenal dari mazhab ini, Nestorius. Dia menolak paham Maria sebagai Bunda Allah justru karena keilahian Kristus tidak dimulai dari kandungan.

Tentu masih banyak lagi paham-paham lain, apalagi setiap tokoh dalam mazhab Anthiokhia memiliki kekhasan masing-masing. Kiranya, kecenderungan pada kemanusiaan Yesus dapat mewakili kelompok ini. Lain halnya, dengan mazhab Aleksandria. Mazhab ini secara  keseluruhan menekankan bahwa pribadi  Yesus itu benar-benar ilahi dan melupakan unsur kemanusiaannya. Kristus dilihat sebagai penjelmaan Allah.

Salah satu tokoh termasyur mazhab ini, Cyrillus. Baginya, kodrat kemanusiaan Yesus tak pernah berada sendiri, tetapi semenjak konsepsi, seluruhnya dimiliki oleh kodrat keilahian. Dengan kata lain, kodrat manusiawi Yesus tidak lain dari kodrat ilahi Yesus. Namun paham ini tentu jatuh pada kecendrungan untuk melupakan unsur kemanusiaan Kristus. Seolah-olah Yesus tidak mengalami lagi pengalaman kemanusiaan.

Berkat perdebatan kedua Mazhab ini maka diadakan konsili Efesus (431 M) sebagai tanggapan langsung  perdebatan tentang kemanusiaan Yesus dan keilahian-Nya. Bagaimanapun hasilnya tetap tidak memuaskan bagi salah satu mazhab khususnya Anthiokhia.

Perdebatan panjang kedua mazhab ini melahirkan tujuh konsili. Tanpa harus membahas satu-persatu setiap konsili, kita sampai pada konsili Konstantinopel III (680-681 M) sebagai konsili terakhir dalam rangkain ekumenis pertama.

Konsili ekumenis terakhir ini, memutuskan suatu kesimpulan yang kiranya menyatukan pemahaman kedua mazhab. Penekanan hanya pada satu kodrat baik itu unsur kemanusiaan atau keilahian tidak lagi diterima. Yesus dipahami sebagai pribadi yang memiliki dua kodrat (manusiawi dan ilahi) dan dua kehendak (manusiawi dan ilahi), keduanya “tak tercampur, tak berubah, tak terbagi, dan tak terpisah”.

Lalu, pernyataan Allah tidak dapat dilahirkan atau melahirkan, apakah masih relevan? Bagi orang non-kristiani sulit dipahami atau dipikirkan sehingga pertanyaan itu masih relevan bagi mereka. Kita kembali pada analisis biblis di atas. Secara historis, Yesus memiliki berbagai macam perisitiwa di mana hal itu tidak dimiliki oleh manusia lain di bumi. Dia mengandung dari Roh Kudus, membuat banyak keajaiban, hingga wafat sekaligus bangkit.

Bukti-bukti biblis ini, kiranya tidak dapat disangkal bahwa Yesus itu bukan manusia saja. Dia memiliki hubungan khusus dengan Allah sehingga Dia menyapa-Nya sebagai Bapa. Selain itu, Allah sendiri telah menyatakan Yesus sebagai Putra-Nya melalui peristiwa pembaptisan. Petrus dalam pengakuannya, dengan tegas menyatakan bahwa Yesus sebagai mesias Putra Allah yang hidup. Yesus pun tidak menolak akan semua julukan itu.

Sekalipun harus disadari, bahwa Yesus tidak pernah secara eksplisit menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah atau Penjelmaan Allah. Mungkin dapat dipahami dalam konteks bahwa harapan mesias Yahudi berbeda dengan kehendak Allah sendiri.

Israel mengharapkan suatu pembebasan dari penjajahan Roma sehingga sosok mesias mesti seorang Raja yang kuat dan kokoh sehingga dapat mengusir penjajah. Namun dalam kenyataannya, Yesus mengajarkan suatu pembebasan lain.

Pembebasan yang ditekankan Yesus adalah pembebasan manusia dari perbudakan dosa. Dia mengajarkan hidup dalam cinta-kasih. Jika dalam kebiasaan, seorang musuh seyogiahnya dibenci maka Yesus mengajarkan kita untuk mencintai musuh. Dia berani menentang semua tindakan penindasan oleh penguasa dan tidak pernah takut dalam membela kebenaran sampai rela menyerahkan nyawa-Nya.

Melalui tinjaun biblis dan teologis di atas, semoga dapat membantu kita untuk memahami Yesus sebagai pribadi yang memiliki dua kodrat, sungguh ilahi dan sungguh manusia. Julukan-julukan sebagai Putra Allah kiranya dapat dipahami dalam konteks historitas Yesus yang penuh dengan keajaiban. Tidak juga dapat dipahami sebagai anak biologis belaka justru karena Allah dengan kekuasaan-Nya memiliki cara tersendiri.

Allah dalam segala kemisterian-Nya akhirnya membuka diri bagi manusia. Maka agar manusia dapat mengenal-Nya, unsur kemanusiaan Yesus itu penting sehingga Dia dapat tinggal di tengah umat manusia. Namun sekaligus, Yesus sungguh ilahi melalui historitas yang telah menjadi bukti nyata bagi para murid dan pengikut-Nya melalui berbagai peristiwa ajaib dan tanda-tanda khusus.

Akhirnya, penerimaan Yesus sebagai pribadi yang memiliki dua kodrat: sungguh ilahi dan sungguh manusia dapat kita pahami melalui pendekatan biblis dan teologis yang telah melahirkan tujuh konsili ekumenis pertama. Singkat kata, pengakuan itu bukan suatu hal yang tidak berdasar. Semoga!!

NB: Untuk memahami isi masing-masing mazhab di atas dan tujuh konsili Ekumenis pertama dianjurkan untuk membaca rujukan berikut ini.

Daftar Rujukan

Dister, Syukur Nico. Teologi Sistematika 1. Kanisius: Yogyakarta, 2015, hlm 203-225