3 bulan lalu · 90 view · 5 min baca · Lingkungan 13850_30546.jpg
Sad Laff - WordPress.com

Menjawab Dilema Pemakaian Kertas

Industri kertas dan pulp negara kita mengalami tren positif. Di tahun 2017 lalu, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar seperti yang dilansir dari laman www.kemenperin.go.id, Indonesia berada di urutan ke-6 untuk produsen kertas dan ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia. Masing-masing dengan angka 7,98 juta ton dan 4,55 juta ton.  

Pada tahun 2018, jumlah itu mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat. Produksi kertas tercatat sebesar 16 juta ton dan pulp sebesar 11 juta ton. Sementara itu untuk tahun 2019, Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) memprediksi prestasi akan kembali mengalami peningkatan (sumber: bisnis.com).

Menggembirakan? Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kalau dari kacamata para pelaku industri, mereka tentu memandang fenomena ini sebagai prospek yang baik bagi pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan bisnis. Tanpa harus menjadi pakar ekonomi pun kita bisa paham satu hal fundamental: motif ekonomi adalah keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian sekecil-kecilnya. Itulah bahasa sederhananya.

Tapi, dari perspektif pecinta lingkungan, ini sama sekali bukan kabar menggembirakan. Malah, boleh jadi merupakan kabar buruk. Gairah yang dialami industri kertas dan pulp saat ini sangat mirip dengan fenomena industri rokok. Rokok begitu dibenci karena—seperti yang lazim kita baca pada bungkusnya—dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. 

Menariknya, rokok justru konsisten menjadi pahlawan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dengan sumbangan cukainya yang begitu tinggi terhadap tax ratio kita. Jadi, kesimpulannya adalah kita benci dan sekaligus cinta pada rokok dalam waktu yang bersamaan.

Kembali ke persoalan concern para aktivis lingkungan, sadarkah kita bahwa untuk setiap 15 rim kertas ukuran A4 ternyata membutuhkan bahan baku dari satu pohon besar? Maksudnya, peningkatan produksi pulp dan kertas pada saat yang sama juga berarti semakin memicu terjadinya penebangan hutan secara besar-besaran.


Pada periode 1990-2000 hutan dataran rendah di Sumatera Utara sudah hilang sebesar 65-80 persen yang salah satunya disebabakan oleh produksi bubur kertas. Itu hampir satu dekade yang lalu. Sekarang, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2018, meski tren itu mengalami penurunan cukup siginifika sejak tahun 2014, penebangan hutan masih sering terjadi di sejumlah pulau di tanah air. 

Persoalan ini bahkan boleh jadi sedang memasuki titik mengkhawatirkan (alarming). Tengok saja betapa seringnya sejumlah daerah di tanah air mengalami longsor dan banjir bandang yang memakan banyak korban jiwa.

Paperless Society?

Kita berada di persimpangan yang maha sulit. Di satu sisi, mematikan industri kertas dan pulp pasti berdampak negatif pada perekonomian negara dan keberlangsungan hidup masyarakat. 

Tidak terbayangkan betapa banyaknya pekerja yang harus mengalami PHK bila kebijakan ini terlaksana. Ujung-ujungnya, pengangguran akan semakin bertambah. Dan, tingginya angka pengangguran biasanya memiliki korelasi atau berbanding lurus dengan angka kejahatan. 

Di sisi satunya lagi, merawat industri kertas dan pulp secara tidak langsung berarti memberikan legitimasi terhadap eksploitasi hutan. Kita sudah tahu betul bahwa hutan punya peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Jika perambahan hutan secara masif terus menerus berlangsung, bangsa kita sendiri yang akan terkena imbasnya dengan bencana-bencana alam yang datang silih berganti.

Beranjak dari kekhawatiran akan masa depan penduduk bumi yang begitu tergila-gila pada kertas, profesor asal University of Illinois, Frederick Wilfried pada tahun 1978 menginisiasi gerakan paperless society atau masyarakat tanpa kertas. Wilfried ketika itu mengkritisi ketergantungan manusia pada kertas karena penggunaan mesin fotocopi yang begitu tinggi. Dia beranggapan, pada suatu masa, dengan kemajuan teknologi, banyak aktifitas manusia yang berbasis kertas akan berkurang secara nyata.

Jika melihat kecanggihan teknologi saat ini, visi Wilfried tersebut memang tidak terbantahkan. Manusia mulai mereduksi ketergantungan pada kertas. Sekedar menyebut contoh, dulu untuk urusan korespondensi, kita memerlukan kertas sebagai media. Sekarang sudah ada surat elektronik/surel atau email. 

Malah, komunikasi semakin mudah dan efisien dengan menjamurnya fasilitas messenger pada ponsel-ponsel pintar yang kita miliki. Buku-buku mulai mendapat saingan dengan keberadaan e-book. Media cetak sudah mulai banyak tampil dengan format dalam jaringan dan e-paper.

Meski begitu, masih banyak aspek kehidupan kita yang belum benar-benar bisa lepas dari kertas. Kecanggihan gawai yang tadinya disinyalir akan memerangi adiksi akut manusia pada kertas ternyata belum mampu mengubah kondisi itu secara signifikan. Contoh sederhana, ketika kita membeli makanan dari warung, nasi dan lauknya akan dibungkus oleh kertas. 


Untuk persyaratan administrasi, para pejabat harus membuat dokumen-dokumen yang memakai kertas. Artinya, mulai dari masyarkat awam hingga level pejabat memang pada faktanya tidak bisa hidup tanpa kertas. Dengan demikian, gagasan paperless society, meski sangat bagus tujuannya, sejauh ini belum bisa berbuat banyak.

Mengambil Tindakan

Putus hubungan dengan kertas adalah hal yang mustahil. Saya bukan bermaksud pesimis, tapi itulah adanya—paperless society tidak akan pernah terwujud. Lalu apakah kita hanya berdiam diri saja? Tidak juga. Kita bisa berbuat banyak.

Kita bisa memulai dengan mengurangi penggunaan kertas yang sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa disubstitusi dengan objek lain. Karena saya sebagai seorang pendidik, ruang lingkup pendidikan akan saya ambil menjadi contoh.

Setiap awal tahun ajaran baru, guru-guru diwajibkan menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), program semester, program tahunan dan silabus yang jika ditotal jumlahnya bisa beratus-ratus lembar untuk tiap guru bidang studi. 

Belum lagi, dokumen-dokumen itu mesti digandakan (fotocopi) sesuai kebutuhan seperti untuk pertinggal bagi guru, kepala sekolah, kantor administrasi sekolah dan dinas pendidikan. Diperkirakan terdapat sekitar 3,2 juta orang guru pada tahun 2018 (kompas.com). 

Bayangkan berapa banyak kertas yang harus digunakan oleh guru-guru kita hanya untuk keperluan yang sifatnya administratif ini. Artinya, kebutuhan-kebutuhan semacam ini sebetulnya bisa dikerjakan dalam bentuk softcopy (perangkat lunak) saja karena tidak ada perbedaan yang berarti jika dokumen-dokumen itu dibuat dalam bentuk perangkat keras atau perangkat lunak.

Berbeda dengan misalnya beberapa waktu lalu ketika pernah muncul gagasan siswa dan guru belajar dan mengajar dengan menggunakan gawai tablet. Materi pelajaran akan dominan menggunakan e-book dan perangkat-perangkat digital lainnya. Justru pada aspek penting seperti ini buku tidak bisa serta-merta dialihkan ke dalam bentuk e-book. Ini bukan sekedar argumentasi saya tapi ada kajian ilmiahnya. 

Kate Garland, dosen psikologi asal University of Leicester, Inggris menemukan adanya perbedaan soal kemampuan memahami materi ajar yang sama antara mahasiswa yang membaca melalui buku dengan yang melalui komputer. Menurutnya, mahasiswa yang membaca dengan buku mampu mencerna lebih baik dan komprehensif.

Di bidang-bidang lain pun seharusnya strategi serupa bisa diterapkan. Misalnya perusahaan-perusahaan membuat kebijakan untuk mengadakan rapat namun notulen dan bahan-bahan rapat disediakan hanya dalam bentuk softcopy yang bisa diakses masing-masing karyawan melalui ponsel pintar.


Kemudian mengingat jumlah hutan kita yang semakin sedikit, gerakan-gerakan menanam pohon harus kembali dikampanyekan dan dilaksanakan. Pemerintah mesti memberikan regulasi khusus yang mewajibkan setiap pabrik-pabrik kertas untuk menanam kembali pohon secara berkala dengan jumlah yang ditentukan oleh pakar lingkungan lewat penelitian. 

Perusahaan-perusahaan yang resistan terhadap kebijakan ini termasuk di dalamnya para pelaku penebangan liar harus dihukum seberat-beratnya. Karena muaranya adalah untuk kehidupan masyarakat jamak serta anak dan cucu kita kelak.

Artikel Terkait