Beberapa negara tengah merayakan International Womans Days (IWD) dalam suasana itu, penulis hendak menuliskan kembali mengenai narasi besar yang menjadi  pijakan atau semacam nafas perjuangan gerakan perempuan: adalah feminisme.

Sebagai sebuah gerakan besar, feminisme terus berkembang menjadi sebuah ideologi yang melahirkan varian produk pemikiran, feminisme dimana-mana menjadi objek studi dan kajian, oleh karenanya wajar jika feminisme tidak lepas dari kritik. Kritikan terhadap feminisme pun beragam, baik melalui prasangka yang tak berlandaskan pengetahuan atau melalui pengetahuan yang dibangun melalui argumentasi yang keliru.

Diskursus tentang feminisme, saya pikir tidak akan pernah berhenti, keadaan itu tak jarang menimbulkan situasi yang oleh Gadis Arivia disebut miskonsepsi, semacam gagal paham atau salah kaprah terhadap konsep awal feminisme.

Ada banyak alasan yang menjadi sebab. Secara antropologi, dalam konteks keindonesian, salah satu faktor yang menjadi penyebab salah kaprah terhadap feminisme adalah berangkat dari tradisi lisan masyrakat Indonesia. Masyrakat kita terbiasa mempercayai sesuatu hanya karena mendengar katanya, katanya dan katanya. Tanpa berusaha melihat realitas yang sebenarnya terjadi. Tanpa mau membaca dan memahami kondisi.

Kebenaran disempitkan hanya karena yang berbicara adalah seorang pemuka agama, seorang ahli pada bidang tertentu, dan semisalnya. Dalam kajian filsafat, jalan pikiran semacam itu dianggap keliru, logical fallacy : Argumentum Ad Verecundiam.

Melalui ini, Penulis berupaya untuk meluruskan pandangan yang keliru tentang feminisme, baik berupa pernyataan atau pertanyaan terkait apa yang masyrakat  pahami tentang feminisme.

Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, tentunya akan dijawab  melalui perspektif perempuan dan dengan bahasa yang sederhana.

***

Feminisme tidak dapat dipisahkan dari dua hal ; Budaya patriarki dan kesetaraan gender. Para penentang gerakan feminisme sering kali gagal paham tentang ketiga konsep tersebut, sehingga melahirkan beberapa miskonsepsi.

Sebelum membahas ini lebih jauh, baiknya saya jelaskan terlebih dahulu apa itu feminisme, budaya patriarki dan kesetaraan gender.

Singkatnya begini, feminisme adalah sebuah ideologi yang memperjuangkan hak dan peran perempuan dalam berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Ide dasar feminisme sebetulnya sederhana saja: Perempuan mendapatkan akses terhadap pilihan hidup yang setara dengan laki-laki dan jangan sampai perempuan tereksklusi dari pilihan hidup tertentu hanya karena konstruksi patriarki.

Sedangkan budaya patriarki adalah sebuah sistem struktur sosial dan praktik-praktik yang memposisikan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi, menindas dan mengeksploitasi kaum perempuan.

Budaya patriarki adalah hasil daripada kontruksi sosial yang dibangun bukan dalam semalam, betapa sulitnya menghilangkan budaya itu.

Semenjak dari kecil pola pikir kita dibentuk bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, hanya boleh berdiam diri dirumah, sekolah Untuka apa sekolah tinggi-tinggi jika ujung-ujungnya kasur, sumur, dapur.  Serta masih banyak narasi lainnya.

Gerakan feminisme lahir untuk mengoreksi jalan pikiran itu, upaya yang ditempuh adalah dengan cara menyuarakan konsep kesetaraan gender.

Beberapa miskonsensepsi tentang feminisme, umumnya adalah usaha untuk mempertentangan pikiran antara laki-laki dan perempuan. Beberapa dapat dijelaskan, sebagai berikut ;

Feminisme sama dengan membenci laki-laki?

Feminisme bergerak untuk mengedukasi masyrakat tentang konsep kesetaraan, ruang privat dan publik. Feminisme adalah ideologi tentang keadilan bukan ideologi kebencian.

Orang-orang sering berpikir jika kamu feminis dan melawan budaya patriarki, maka kamu melawan laki-laki, itu keliru. Patriarki itu tidak terletak pada gendernya, dia bisa muncul dari laki-laki dan juga perempuan. Melawan patriarki itu artinya melawan ketimpangan atas pandangan-pandangan yang membuat perempuan dan laki-laki tidak setara.

Jelas, feminisme tidak membenci laki-laki. Feminisme hadir untuk memperbaiki pelbagai macam bentuk ketimpangan.

Feminisme melemahkan laki-laki untuk kesetaraan?

Feminisme tidak dimaksudkan untuk mengancam eksistensi seorang laki-laki, akan tetapi feminisme bekerja untuk menata kembali, bagaimana  semestinya relasi antar laki-laki dan perempuan, antar sesama manusia. Bukan untuk melamahkan dan menguatkan salah satunya.

Patriarki adalah satu kondisi di masyrakat, yang mencoba untuk menempatkan laki-laki diatas perempuan. Begitu Budaya patriarki berkata. Feminisme, berkata tidak.

Feminisme bicara soal keadilan, dan keadilan adalah bahasa dunia.  Oleh karena itu, feminisme harus dijalankan bersama,  kerja-kerja feminisme adalah pekerjaan kolektif.

Hanya perempuan yang boleh menjadi feminis?

Feminisme seringkali dilekatkan pada perempuan, semacam menjadi barang eksklusif, dan itu adalah satu kekeliruan. Sebagai sebuah gerakan, feminisme bersifat terbuka, dalam arti kata lain, siapapun bisa menjadi seorang feminis.

Bagi saya, mereka yang sadar sebagai manusia adalah seorang feminis. Cukup dengan menjadi manusia, maka kamu sudah menjadi seorang feminis. Feminisme adalah pengakuan tidak setuju atas budaya patriarki, siapapun yang merasa dirugikan karenanya dan memperjuangkan hak-hak perempuan, bagi saya, ia telah menjadi seorang feminis.

Sebab menjadi feminis bukan hanya tugas seorang perempuan, ia juga butuh keterlibatan laki-laki.

 Feminisme tidak lagi relevan, perempuan sudah memperoleh kesetaraan?

Entah kesetaraan macam apa yang dimaksudkan, feminisme seringkali disederhanakan. Persoalan tidak serta merta selesai hanya karena perempuan sudah bisa bersekolah, sudah menduduki posisi publik dan lain sebagainya.

Prinsip yang mendasar dalam feminisme hanya dua. Justice and injustice. Mari kita lihat fakta dilapangan,  kekerasan pada perempuan berupa pemerkosaan, catcalling, pembunuhan dan sebagainya masih marak terjadi, sementara dalam peradilan dan dalam kacamata masyrakat awam perempuan masih diobjektifikikasi.  Nama-nama seperti Agni, Baiq Nuril, Sumarsih adalah sedikit yang muncul kepermukaan. Mereka diperlakukan tidak adil hanya karena mereka perempuan.

Menjadi feminis artinya bersiap untuk menghadapi sesuatu yang tidak pernah selesai yaitu keadilan. Keadilan adalah perjuangan yang abadi, selama masih ada perempuan dan ketidakadilan terhadapnya. Selama itu feminisme terus bekerja.

 ***

Masih banyak kekliruan terhadap feminisme, meski dalam feminisme sendiri banyak terjadi tumpang tindih gagasan, tetapi pada dasarnya feminisme bicara satu hal : kesetaraan. Apa-apa yang diatas hanyalah beberapa contoh kecil. Usaha-usaha pendistribusian pengetahuan tentang feminisme harus terus dilakukan,  makin kesini dunia kita butuh spektrum warna yang lebih beragam dan feminisme hadir untuk dunia yang lebih ideal bagi semua.