Pernahkan sejenak kita mendengar istilah minum kopi di rumah dengan di kafe itu rasanya berbeda? Terlebih, jika lokasinya itu di daerah yang sejuk seperti di dataran tinggi. Menarik, bukan? Khususnya anak muda, minum kopi di kafe yang kawasannya perkotaan mungkin sudah biasa. Hal itu juga didukung dengan sarana prasarana yang juga terkesan modern. Namun, suasana tersebut cenderung membosankan karena minimnya kolaborasi, seperti lokasinya yang memberikan efek panas, kurang rapih, atau sensasi lainnya yang intinya monoton.

Pembangunan kafe di daerah desa memang sempat menjadi buah bibir bagi warga desa di sana. Ini juga dikaitkan dengan letak geografis desa itu selayaknya harus asri dan bebas dari sarana umum. Namun, dalam menyikapi hal tersebut, para pemilik usaha pada dasarnya ingin memperkenalkan inovasi dan kreativitas budaya modern yang tentunya masyarakat harus tahu dan mempelajarinya.

Alasan yang pertama, ini mengajarkan warga desa untuk bersikap terbuka. Hal demikian memberikan kesempatan masyarakat desa yang tidak bisa bepergian ke kota setidaknya bisa menikmati nuansa kota. Sikap terbuka akan ini juga tidak serta-merta menyebabkan ke hal-hal yang buruk. Tetapi, lebih ke bagaimana mereka bisa menyikapi sebuah perubahan.

Pada dasarnya, pembangunan tempat santai tersebut, tidak akan membuat desa itu berpolusi atau merusak alam. Ini didukung dengan adanya peraturan di mana para pengunjung dilarang membuang sampah sembarangan, arena parkir yang tentunya tidak sembarangan, memakai masker, dan dibatasi jumlah pengunjungnya. Terutama, di masa pandemi COVID-19 ini. Kemunculan orang baru dari wilayah perkotaan akan membuat warga lokal tahu mengenai cara mereka berbahasa, berpakaian, dan lain sebagaianya, begitu pun sebaliknya.

Minum kopi di kafe juga cenderung bisa menghilangkan stress. Beberapa orang juga mampu berpikir positif di suasana yang tenang dan sejuk seperti di desa. Hal ini didukung dengan pemandangan alam di sana yang terkesan segar dan bebas dari udara kotor. Hanya dengan memandang pepohonan pinus atau perkebunan teh, secara otomatis akan memanjakan mata, jiwa, serta meningkatkan endorphins hormone (hormone bahagia).

Kegiatan yang full di rumah atau di kantor cenderung memaksakan mereka memegang berbagai macam alat elektronik seperti gadget, laptop yang tentunya membuat stress hingga depresi. Hiruk pikuk perkotaan menjadikan orang butuh waktu yang longgar untuk menjernihkan pikiran sejenak. Udara dingin yang notabennya mengisi atmosphere di daerah pegunungan desa cenderung alami. Wilayah perkotaan itu begitu terasa artificial, karena harus dengan bantuan teknologi berupa AC. 

Adanya lokasi kafe yang ada di daerah pegunungan ini tentunya bisa menyalurkan hobi seseorang. Contohnya, untuk pengunjung yang memiliki hobi traveling mungkin ini sangat cocok dijadikan ajang untuk berbagi karyanya ke publik dengan mengambil konteks tempat seperti di pegunungan. Perjalanan dari kota ke desa tentunya perlu didokumentasikan, bukan? 

Spot unggul seperti kafe di daerah pegunungan juga bisa dijadikan kegiatan fotografi. Fotografi ini tentunya bisa mereka jadikan konten di media sosial seperti Instagram atau Youtube. Contoh lainnya, bagi para penikmat senja sembari membaca atau menulis novel, tempat ini sangat recommended sekali. Jadi, dari siapapun yang mungkin dulunya tidak punya hobi semacam itu, setelah mereka berkunjung, hobi-hobi tadi bisa dijadikan acuan. 

Dari segi keuangan, menu-menu yang disajikan di kafe-kafe tersebut bisa menjamin dengan harga yang ramah kantong. Penjual di sana tentunya bisa meraup untung yang cukup menggiurkan. Menu utama yang ditawarkan juga mencangkup aneka minuman sebagaimana; Signature, Espresso, Milk, Tea, beserta variasi makanan seperti; Nugget Ayam, Nasi Goreng, Mie Ayam, Tempe Mendoan, Nasi Ayam, Kentang Goreng dan lain sebagainya.

Jika dilihat dari sikap masyarakat desa, biasanya mereka punya rasa kebersamaan yang tinggi. Para barista atau karyawan yang bekerja juga termasuk warga lokal dengan keramahannya yang bisa membuat pengunjung betah. Meskipun pada dasarnya di konteks antara penjual yang mana harus bergaya ramah atau semacamnya. Namun, kebiasaan ini tentunya sudah menjadi kesatuan kolektif dari tatanan masyarakat desa yang biasanya orang kota kagumi.

Fasilitas yang diberikan juga sudah jauh dari nyaman. Seperti gaya Society Café tapi ala pedesaan, atau beberapa di sampingnya ditata bantal Bean Bag yang mana para pengunjung bisa lesehan tanpa takut pegal-pegal. Lokasinya juga dibagi menjadi bagian indoor dan outdor. Pada sisi indoor, biasanya didesain dengan tembok kaca. Sehingga, para pengunjung bisa bebas melihat ke arah luar. Namun, untuk menjaga kealamiahan suasana, lokasi outdoor lebih diprioritaskan oleh pengusaha. Bagi pengunjung yang ingin menjalankan ibadah, kafe-kafe di sana juga menyediakan akses toilet, mushola, wastafel. Khusus anak jenjang sekolah atau kuliah, tempat ini juga nyaman untuk mengisi tugas dengan tenang karena disedikan fasilitas Wi-fi.

Akhir kata, tempat di sini sangat bisa dijadikan untuk lokasi quality time bersama keluarga, teman, pasangan, atau mungkin sendirian. Misalnya untuk acara seperti, ulang tahun, surprise, atau apapun itu yang membangunkan rasa romantis dan kehangatan. 

Jadi, dengan melihat sebab-sebab di atas, bisa disimpulkan bahwa, aturan baru yang mana dengan diberlakukannya pembangunan kafe bergaya aesthetic di daerah dataran tinggi itu memberikan nilai positif. Baik dari sisi pemilik usaha, warga lokal, atau warga luar desa supaya bisa belajar mengenai sistem baru yang dampak besarnya itu di bidang budaya  sekaligus perekonomian masyarakat.