Jika ada yang bertanya, pernahkah saya punya kesan unik ketika berkenalan dengan seseorang? Pernahkah saya punya teman yang banyak memberikan pelajaran, dan menularkan energi kebaruan dalam pikiran? Dengan segera dan tanpa sungkan, saya akan jawab, ya. Saya pernah bertemu dengan orang semacam itu.

Dan jika ada yang kembali bertanya, apakah saya mensyukuri perkenalan itu? Tanpa berat hati, saya juga akan menjawab, ya. Saya bersyukur telah dipertemukan Tuhan dengan orang-orang yang mampu menularkan spirit hebat dalam diri saya. Sehingga pada titik ini, sebagai bentuk rasa syukur kepada Ilahi, saya akan menuliskan pengalaman itu disini.

Dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan cendekiawan hebat, yang ketika mengenalnya secara spontan saya menjulukinya dengan abqory el-‘ashir (cendekiawan masa kini). Saya mengagumi, karena semua kebiasaan-kebiasaan yang kerap dilakukan para intelektual, itu terletak dan tertanam pada dirinya.

Perjumpaan saya dengannya terjadi cukup sederhana, namun sungguh, kenangan itu sangat melekat dalam kepala. Saat ma’rodh (pameran buku internasional) ia dan saya sedang mencari buku persis di toko yang sama, dan saat saya menyapa, disitu ia mengajak berkenalan, lalu merangkai perbincangan panjang, yang melebar kemana-mana.

Saat berkawan dan berbincang ini dan itu, ada beberapa poin yang tersampaikan dalam benak saya. Poin itu berupa, bahwa ia adalah seorang yang gila baca, seorang yang gila menulis, seorang yang hafal al-Qur'an, kuliah di jurusan kedokteran, baik, dan juga dermawan. Ketika poin itu tersimpan, saat itulah di sekitaran telinga saya seakan-akan ada yang membisikkan, bahwa ia adalah seorang cendekiawan.

Ketika berbicara pada saya, apapun topik yang saya angkat saat itu, semuanya dia ketahui dengan baik. Namun hal yang membuat saya terheran-heran adalah, dia mampu menjabarkan sebuah penjelasan, lengkap dengan sumber referensinya. Dia ungkap, ini tertuang dalam buku ini, buku itu, cetakan ini, cetakan itu, pun tak jarang ia kemukakan beserta nomor halamannya, jika saya berkenan untuk mendalaminya.

Misalnya, disaat kita lagi bicara tentang metode-metode pengajaran yang baik, ia akan ungkapkan bahwa penjelasan yang ia sampaikan termazkur dalam kitab ar-Rasul al-Mu’allim wa Asalibuhu fi at-Ta’lim. Jika ia lagi berbicara tentang tanggapan islam terhadap ilmu filsafat, ia jelaskan bahwa ia mendapatinya di dalam kitab Allahu wa al-Mantiq fi al-Islam. Atau perihal dalam konteks pengobatan dan kesehatan, ia sampaikan bahwa itu termaktub dalam kitab Bughyah al-Muhtaj fi al-Adwiyah wa al-‘Ilaj. Dan seterusnya.

Saya tidak berlebihan, jika mengatakan bahwa ia adalah orang yang gila membaca, atau lebih tepatnya, seseorang yang tergila-gila dengan membaca. Dan saya sangat kagum dengan orang semacam itu, karena tanpa sengaja, ia telah menularkan energi besar dalam diri saya, agar mampu meningkatkan minat baca lebih tinggi lagi.

Pernah saya menanyainya dengan ungkapan penasaran, berapa banyak ia baca buku dalam sehari? Dengan santai ia menjawab, jika tanpa kesibukan, dalam sehari ia mampu menyelesaikan tiga buku dengan porsi 300an halaman. Dan kalau lagi banyak tugas, atau banyak kesibukan, ia hanya mampu menyelesaikan satu buku saja dengan porsi halaman yang sama.

Baginya, membaca adalah nafas. Tanpa membaca, ia seakan sedang tidak menjalankan kehidupan. Seperti itulah gambaran betapa cintanya ia dengan membaca. Ia mampu duduk dari ba’da shubuh sampai isya hanya untuk membaca buku. Dan ketika mendengar itu, sejenak saya berbicara dalam diam, sepertinya dia bukan orang sembarangan.

Entah apa yang ada di dalam pikiran saya saat itu, saya benar-benar dalam posisi ‘sangat mengagumi’, dan sangat bergairah untuk bisa meniru kebiasaan semacam itu.

Selain membaca, dia juga aktif menciptakan karya, tulisan-tulisannya sudah hampir tersebar di berbagai platform media. Cita-citanya, ia ingin membagikan karya yang bermanfaat untuk umat, walaupun sekarang masih dalam proses merampung buku, ia bagi saya, tetap menjadi seorang pemuda produktif, yang sangat langka untuk ditemukan pada zaman milenial ini.

Dia dengan kepintarannya tidak pernah memperlihatkan rasa sombong dan meninggi, juga tak pernah sekalipun terlihat meremehkan siapapun yang berbicara dengannya. Orangnya yang sangat baik, perawakannya yang gagah, tentunya tak jarang akan jadi idaman bagi para wanita, ups.

Ia dengan sifat kedermawanannya, pun selepas pulang dari ma’rodh mengajak saya makan di rumah makan Suriah yang terkenal cukup mahal. Awalnya saya menolak karena saya lagi nggak bawa uang, tetapi karena ia memaksa, akhirnya saya meng-iya-kan ajakannya. Nah disaat waktu pembayaran tiba, saya dengan penuh kegengsian, menjaga harga diri dengan pura-pura mengeluarkan uang dari kantong belakang. Tapi ia sembari tertawa, meminta saya untuk tidak melakukan itu. Karena dia paham betul, kalau gerakan saya seperti itu hanya sekedar gaya-gaya dan pura-pura. Akhirnya dia membayar semua, dan saya pun berucap syukur alhamdulillah.

Kedokteran adalah bidang yang sekarang sedang digelutinya, ia benar-benar suka dengan ilmu sains dan kesehatan, tapi juga cinta dengan ilmu-ilmu turats, yang dengan itu membuatnya tak kebingungan saat berbicara ilmu-ilmu agama. Meskipun kuliah di bidang yang spesifikasinya bukan agama, tapi ia tidak gagap ketika ada yang mengajaknya bicara tentang akidah.

Saya kira kebiasaan-kebiasaan intelektual semacam ini perlu kita tanamkan sejak dini, selain ada kenikmatan tersendiri, hal itu juga merupakan cara agar membangun sebuah peradaban pada negri. Hampir siapapun manusia di dunia ini, tidak akan ada yang menyangkali, bahwa membaca hanya akan membawa kebaikan positif dalam diri.

Jujur, banyak sekali hal yang saya dapatkan, yang saya rasakan, ketika bertemu dengan sosok semacam ini. Jika Anda telisik apa yang sekarang ada di dalam hati, Anda akan dapati bahwa saya merasa beruntung dan bersyukur bisa dipertemukan dengan orang jenius dan juga baik hati. Ini asli, dan tidak berlebihan rasanya jika saya ungkapkan disini.

Pertemanan ini terasa sangat berkesan, saya bisa merasakan ada spirit menjalar yang mendorong saya untuk lebih semangat, dan menghantarkan butir-butir antusiasme intelektual yang lebih dahsyat lagi. Saya berharap bisa belajar dan sering dipertemukan dengan orang-orang semacam ini. Terimakasih banyak, Mansoer Abu Khalil.