"Alam bawah sadar tidak hanya menjadi tempat persembunyian iblis-iblis, namun juga tempat berdirinya kerajaan malaikat-malaikat dan utusan-utusan rahmat."

Kalimat tersebut di atas penulis kutip dari Carl Gustav Jung yang dimuat dalam buku berjudul Empat Arketip. Namun dalam uraian tulisan berikut, penulis mencoba mengulas perihal komunikasi ke semesta alam bawah sadar versi akademisi Jungian. 

Dalam akademisi Jungian bahwa menjalin komunikasi ke alam bawah sadar jamak dilakukan dengan cara bermain peran ganda. Mungkin bagi kebanyakan orang terlihat cukup aneh. 

Bagaimana tidak, orang yang sudah dikondisikan rileks oleh Coach kemudian dianjurkan untuk masuk ke dalam diri. Yaitu memainkan imajinasi dengan cara seolah membelah diri. Satu sisi diri sebagai subyek, dan di sisi lain diri sebagai obyek yang akan diproses. 

Sudah begitu, diri subyek dianjurkan pula bersikap netral saat mengamati, berdialog, bernegosiasi, bergaining kepada diri obyek. Konon dengan cara begitu akan memudahkan diri subyek dalam menelusuri diri obyek secara mendalam, terutama terhadap diri obyek yang akan dibereskan seperti, stres, depresi, trauma, rakus, penyakit hati, sifat-sifat keiblisan lainnya.

Diri obyek setiap person tentu bersifat heterogen. Dan eksistensinya bisa jadi berpencar dalam rentang waktu tertentu, tempat dan peristiwa yang berbeda. Walau begitu diri-diri obyek tersebut mewadah dalam satu jiwa yang jika dikategorikan menjadi dua sisi yaitu sisi terang dan gelap.Tentu pembaca tahu maksud diri dalam sisi terang dan gelap.

Ke semua hal tersebut di atas dalam akademisi Jungian lazim dinamai shadow work. Yaitu istilah yang dipakai dalam proses menyelami alam bawah sadar. Teknik ini merupakan pisau analisis psikologi yang bersumber dari aliran psikologi Carl Gustav Jung.

Shadow work ini punya kegunaan membantu orang dalam upaya mengintegrasikan jiwa 'berantakan'(yang bersemanyam di alam bawah sadar) ke dalam alam kesadaran yang selanjutnya bisa memudahkan insan berekspresi dan beraktualisasi diri.

***

Tiap insan tentu saja punya beragam bayangan yang tersusun dari sejarah hidupnya. Dan akumulasi diri yang menyejarah tersebut ada yang mengendap ke alam bawah sadar. 

Dan perihal beragam bayangan yang mengendap ke alam bawah sadar bisa jadi akan bangkit kembali tatkala berpasan dengan kejadian baru yang serupa. Atau saat bersinggungan pada suatu simbol yang berasosiasi dengan masa lalu. Pernahkan kita mengalami begitu?

Contoh sederhana yang mungkin pernah dialami kebanyakan orang misalnya, ketika kita pergi ke suatu tempat katakanlah melihat motor persis seperti yang biasa dipakai oleh mantan pacar saat berpacaran. Dalam waktu relatif sekejap, kemudian pikiran sadar spontan melompat ke masa lalu. 

Perasaan dan peristiwa yang dulu mungkin sudah terlupakan namun getaran rasanya kembali muncul seiring terecall memori tempo dulu. Kemunculan beragam bayangan dari masa lampau yang telah lewat memungkinkan memicu keluarnya emosi cinta, rindu, benci, kecewa, menyebalkan dan segala macam perasaan yang campur aduk. Begitulah sekelumit gambaran alam bawah sadar bekerja.

Kendati begitu, bahwa pada tahap tertentu, problem alam bawah sadar akan menjadi kompleks dan cukup pelik untuk diurai. Jika perasaan yang terluka, trauma dan masa lalu yang suram bersusulan dari rangkaian fase kehidupan satu ke fase kehidupan berikutnya. Ambil misal orang yang masa kanak-kanak, remaja hingga dewasanya masih menanggung beban trauma dan luka batin akibat korban KDRT/kekerasan seksual/ fisik, bullying atau lainnya. 

Yang lebih celakanya kalau pelakunya malah orang-orang terdekat korban. Bisa dibayangkan bagaimana psikologis korban yang setiap saat dihantui oleh wajah yang tak bersahabat sama sekali. 

Jiwa yang bersinggungan dengan dunia seperti itu tentu menyisakan banyak perasaan negatif yang bersarang di dalam alam bawah sadar. Seperti kebencian, ketakutan, mendendam, minder, rendah diri dan lainnya.

Jika luka batin demikian tidak mendapat penanganan orang yang mumpuni di bidang kejiwaan, tidak menutup kemungkinan akan memberatkan perjalanan jiwa di masa mendatang. Imbasnya, ia akan kesulitan beraktualisasi diri karena potensi dan bakatnya tersumbat oleh jiwa terluka-traumatik.

Maka jika suatu jiwa tertimpa akumulasi perasaan negatif pada gilirannya akan menunjukkan reaksi tubuh seperti tidur tidak nyenyak, selera makan menurun, pusing-pusing, asam lambung naik, detak jantung tidak beraturan, susah berkonsentrasi, gampang lupa, gampang ngamukan dan lainnya.

Biasanya diikuti juga oleh reaksi penolakan-penolakan ego. Sebab sifat dasar ego memang selalu menolak kesengsaraan, menginginkan kesenangan dan kenikmatan. Dunia ego dan masa lalu yang suram begitu jika keduanya tak berniat menjalin upaya secara harmoni, rasanya sulit untuk bisa menikmati perjalanan hidup. 

Pertanyaan yang menarik diajukan adalah apakah diri masa lampau yang suram bisa dihilangkan? Kalau hilang sih tidak. Mungkin lebih tepatnya minimal masih mengingat. Walau sudah memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. 

Untuk mencapai ke tarat memaafkan, berdamai dan harmoni dengan masa lalu yang suram, hal yang umum diupayakan adalah berselaras. Pada mulanya penyelam alam bawah sadar dengan pikiran sadar yang terjaga menjenguk dirinya yang suram dengan cara beraktif imajinasi, jurnaling, analisa mimpi dan seperangkat tool di dalamnya. Seperangkat metode psikologi ala Jungian tersebut adalah cara-cara yang lazim dipakai untuk menjalin komunikasi alam bawah sadar secara harmoni. 

Praktis detailnya tentu saja tenaga profesional yang jam terbangnya mumpuni akan mampu membersamai menuntun dan membimbing klien menuju menjadi pribadi seutuhnya.