Ketika pandemi Covid-19 memaksa kita untuk lebih banyak tinggal di rumah, maka kita perlu mencari kegiatan untuk mengatasi kejenuhan. Banyak orang melakukan olahraga (yang sedang ngetren adalah bersepeda), atau bertanam sayur di pot. Saya biasanya mengisi dengan membaca dan menulis. Tetapi akhir-akhir ini saya punya kegiatan yang nuansanya ibu-ibu banget: menjahit.

Eh, tapi jangan membayangkan saya menjahit baju-baju cantik untuk pergi kondangan atau pantalon atau jahitan ‘serius’ lainnya. Saya belum percaya diri, atau sebetulnya lebih tepat dikatakan: saya belum bisa... Hahaha... Lalu apa yang saya jahit? Ternyata banyak juga, lho.

Pertama terpikir untuk menjahit, saya mulai mencari mesin jahit portable di toko online. Pilah-pilih, akhirnya dapat juga yang harga 500 ribuan. Lumayanlah. Sebetulnya kepingin juga punya mesin jahit yang agak bagusan, seperti saran sahabat saya. Harganya dua jutaan. Tetapi dompet lagi cupet.

Kalau anda punya dana lebih, saya sarankan sih beli mesin jahit portable yang harga satu sampai dua jutaan itu. Lebih mantap (saya pernah mencoba milik sahabat saya). Yang tidak direkomendasi adalah mesin jahit portable mini. Meskipun harganya murah, sekitar seratus ribuan, tapi kalau digunakan tidak stabil, goyang kemana-mana. Saya pernah punya, baru dipakai beberapa kali sudah rusak, dan akhirnya teronggok jadi barang rongsokan.

Mesin jahit sudah ada, perlu belajar menjahit sekarang. Saya browsing di Youtube tentang bagaimana cara menghidupkannya, memasang benang, membuat gulungan di spul (bobbin) dan memasangnya. Intinya mengenali mesin jahit yang baru dibeli.

Bagi yang belum pernah menjahit dengan mesin jahit, saya merekomendasikan untuk juga melihat dan mempelajari tutorial menjahit bagi pemula. Saya sendiri duluuu .. pernah membantu Ibu saya menjahit, menggunakan mesin jahit manual, yang digoyang pakai injakan kaki itu. Jadi kurang lebih tahu ‘cara kerja’ mesin jahit. Meskipun demikian, tetap saja ada perbedaan antara mesin jahit jahit portable saya dengan mesin jahit manual milik Ibu.

Setelah cukup mengenal seluk beluk mesin jahit yang baru dibeli, mulai deh saya bongkar lemari. Nah, ketemu banyak nih: celana sobek, baju yang mbrodol jahitannya, taplak meja yang dedel tepiannya, dan banyak lagi ‘calon pekerjaan’.

Baju yang sudah lama tidak pernah dipakai karena jahitannya lepas, bisa dipakai lagi. Celana yang sudah bertahun-tahun menghuni lemari saja tanpa pernah dipakai, akhirnya bisa diberdayakan lagi. Wah, seneng rasanya.

Dari lemari saya juga nemu sprei yang berlubang terbakar oleh seterika. Bahan masih lumayan bagus, sih, hanya ada lubang yang lumayan besar. Iseng-iseng saya jadikan beberapa tas belanja, meniru model tas kresek. Bikin polanya ya dari tas kresek yang saya bedah. Satu sprei akhirnya berganti rupa menjadi enam tas ‘kresek kain’. Kini kalau saya belanja ke pasar atau supermarket, saya selalu bawa tas ini. Sambil mengurangi plastik, ‘kan?

Rupanya membuat tas belanja dari kain bekas menjadi hobi saya. Banyak tas belanja kain saya hasilkan dari bekas sprei, baju, sarung bantal, dan gordyn. Hasilnya selain saya pakai sendiri, ada yang saya bagikan ke tetangga dan saudara sambil berpesan pada mereka ala SJW lingkungan: “pakai tas ini untuk belanja, ayo mulai kurangi sampah plastik” .. Wkwkwk.

Salah satu bagian penting dalam dunia perjahitan adalah membuat pola. Untuk barang-barang sederhana, polanya saya dapatkan dari ‘memutilasi’ barang yang kita tiru, seperti tas belanja yang saya ceritakan di atas. Selain itu, saya juga browsing di internet, baik itu dari website maupun dari kanal youtube. Dari situ saya bisa mendapatkan pola untuk membuat masker, tote bag, dan macam-macam wadah tissue.

Tetapi saya paling malas membuat pola baju. Maksud saya bikin pola baju yang diawali dengan mengukur badan, menghitung, kemudian menggambar pola di kertas, lalu mengguntingnya. Meskipun demikian, beberapa celana pendek dan kulot (untuk dipakai di rumah, sih), berhasil saya buat, lho. Polanya saya dapat dari membeli pola jiplak di toko online.

Para pembuat pola jiplak ini membuat pola dengan lima ukuran yang berbeda: S, M, L, XL, dan XXL. Kelima ukuran digambar dengan warna yang berbeda-beda, bertumpuk satu dengan yang lain di selembar plastik (mereka menggunakan plastik yang biasa digunakan untuk membuat spanduk).

Bagi generasi ‘cukup umur’ barangkali bisa membayangkan pola jiplaknya Majalah Femina (atau majalah wanita sejenis), yang sering diselipkan di halaman paling tengah itu. Bedanya pola jiplak Majalah Femina digambar di atas kertas.

Setelah memperkirakan ukuran yang sesuai dengan badan, saya membuat pola dari kertas dengan cara menjiplak pola yang saya beli tadi. Caranya? Tempelkan kertas transparan ke pola jiplak (saya pakai kertas minyak yang biasa digunakan untuk membuat rangkaian bendera merah-putih saat acara tujuh-belasan itu), lalu menggambar pola di kertas minyak itu, dan setelah itu, gunting kertas minyak sesuai gambar yang kita buat.

Tidak perlu lagi mengukur, menghitung dan menggambar sendiri polanya. Sekarang ini saya sedang mencoba pola jiplak untuk baju.

Dari jahit-menjahit ini saya juga menemukan keasyikan menebak “bagian mana yang harus dijahit lebih dulu”. Maksudnya begini. Misalnya kita mau membuat dompet, maka (ternyata) yang harus dijahit dulu adalah bagian retsluiting.

Ketika membuat belahan untuk kancing baju di bagian punggung, ternyata yang dijahit lebih dulu adalah ‘lengkungan belahan’ itu, baru digunting di tengahnya. Nah, untuk teknik menjahit, saya mengandalkan Youtube. Banyak tutorial bagus tentang menjahit diunggah di kanal Youtube.

Selain tas belanja dan celana kulot yang saya sebut tadi, kini di rumah ada beberapa hasil karya jahit saya yang lain: sprei, penutup televisi, penutup mesin jahit, taplak meja, tempat pensil, keset, masker, dan tatakan piring. Ternyata menjahit bisa menyenangkan juga, lho.