Ada rindu yang terjebak dalam waktu

Ada rasa nan terus membelenggu

Entah apa yang kini kuharap dariku

Entah pada siapa kumesti mengadu


Rindu itu terlarang, karena kau telah bahagia

Rasa itu tak boleh kuutarakan, karena kau bersamanya

Aku ingin segera bangkit, tapi seakan tak kuasa

Aku ingin bercerita, tapi hanya pada Sang Maha Pencipta


Kusadar ku tak boleh berlama-lama sembunyi di balik pintu

Kuyakin bahwa kau pun tau, aku masih ada rasa untukmu

Dalam diamku, kuadukan kegundahan dan kerinduan ini

Dalam tawaku, kutelan sedih dan tangisku atas sesal ini


Pernah sesekali waktu, kumampu melupakanmu

Kutekan rinduku padamu ke relung hati terdalam

Namun ternyata, meledak seketika dalam tangisku

Ku tak kuasa menahan rindu kehadiran dan senyummu


Doa slalu kupanjatkan untuk bahagiamu

Tatkala kau hilang bak ditelan bumi

Doa terus kulantunkan untuk dirimu

Tatkala kini kukembali melihatmu di mimpi


Ku berlari susuri dimensi ruang dan waktu

Ku melompat dari satu sudut ke sudut lainnya

Ku teriak kencang lepas penat di pantai

Ku kembali duduk termangu di tengah keramaian


Ah dasar, aku memang tak setangguh karang

Meski diterjang ombak dia tetap bertahan

Apalah aku ini, pujangga juga bukan roker apalagi

Aku hanyalah aku, sosok penuh diam dalam rindu


Bak karantina dan isolasi mandiri dalam sunyi

Aku jaga diriku, diam dalam kotak sepi

Jauh dari hingar bingar dunia

Berkhayal pindah dimensi kehidupan


Pikiran ini kualihkan melalui putaran musik yang kudengar

Jiwa ini coba kutata melalui tiap kata yang kurangkaikan

Raga ini kupenuhi dengan asupan camilan

Namun, apa daya lagi dan lagi, hati ini menjerit di tengah hingar bingar


Mencari cara terus kuupayakan

Menggali kesibukan pun terus kugencarkan

Menantang diriku dalam tiap aksi

Menggelorakan semangat diri di tiap prestasi


Yeay...kutemukan tempat kuberlari

Menjauhkan diri dari rasa rindu


Aiiih...ternyata cuman sebentar saja kekuatanku berlari

Mendekat kembali rasa itu


Aku hanyalah aku, sosok diri nan terus melaju

Aku terus perbaiki diriku, berharap sosokmu tergantikan oleh waktu


Kusadar dunia tak lagi sama

Aku di sini dan engkau di sana

Langit yang kita pandang pun jelas berbeda

Aku menantimu, tapi ku tak bisa 


Tak bisa mendekatimu

Tak akan bisa diulang, waktuku bersamamu

Kumengerti dengan jelas

Sesal memang datang belakangan dan kumesti ikhlas


Izinkan kuulas memori kita dalam barisan kata

Meski kini ku tak berharap kata ini dibaca olehmu


Masihkah kau ingat?

Jalanan panjang yang rutin kita lalui


Masihkah kau simpan?

Kenangan ringan celotehku bersamamu


Izinkan kukemas dalam kalimat

Meski ku sudah tak tahu lagi apa yang hendak kurangkai


Maaf

Satu kata itu yang masih kusimpan

Satu kata itu yang mestinya kuutarakan


Maaf

Ku tak kuasa tepati kata yang pernah kuucap

Ku tak berani sampaikan isi yang kudekap


Maaf

Walau kucoba lari ke negeri seberang

Nyatanya, dirimu kubawa terbang


Maaf

Senyum manismu masih kuukir di dinding hati

Tawa kecilmu masih hiasi tiapku bercermin


Kucoba terus membuka pagiku

Menatap hari dengan harapan baru

Kucoba tiap menutup malam

Menatap bintang dengan penuh impian 


Aku diingatkan oleh dunia

Aku ditegur oleh semesta


Duhai fulan, bangkit dan sadarlah

Duhai fulan, tengoklah sekelilingmu

Duhai fulan, tataplah hari esokmu

Duhai fulan, jadilah bermanfaat dalam diammu


Bergegas kutersadar, seketika kutertampar

Segera kukejar, tergesa-gesaku dalam sabar


Puing-puing rindu itu mulai kuselimuti dedaunan kenangan

Kupu-kupu nan terbang melayang di hati, kuarahkan ke botani

Ku tak menolak rasa nan penuh kenangan

Ku hanya tepikan rinduku agar makin berani


Agar anganku tak melayang tanpa arah

Agar inginku tak lagi gundah

Tanpa kusadar, kubangkit berkat doamu

Satu pinta dan doamu saat itu kembali kuingat


Jadilah dirimu sebaik-baiknya.

Jadilah bermanfaat bagi sesama


Untaian pesan dan doa itulah yang kuingat

Tersimpan dari dulu hingga sekarang

Bahkan simpul senyum dan tawa kecilmu masih melekat

Terkenang dari dulu hingga sekarang


Kisah ini...

Bukankah kisah romeo juliet

Bukan pula kisah rama shinta


Kisah ini...

Kisah kita adalah antara kau dan aku

Kisah cinta dan rindu terdalamku


Belajar ikhlasku belumlah tuntas

Ikhlas ilmu terberat yang tanpa batas

Kendaliku pada hati belumlah kuat

Hati ini masih berat merindu nan melekat


Ku tak akan lagi ganggu waktumu

Ku tak akan lagi sapa dirimu

Cukup bagiku melihat status WA-mu

Cukup bagiku menatap ceria postingan IG-mu


Tapi, izinkan aku menjaga rindu sepanjang waktu

Satu bait rindu yang kusimpan dalam kalbu

Tapi, izinku tuangkan cerita melalui kata

Rangkaian kata tanpa nada, penuh rasa


Karena aku hanyalah manusia biasa

Karena aku manusia penuh khilaf dan dosa

Aku hanyalah aku

Sosok pemalu nan merindu


Perlahan nan pasti aku pun menjadi berani

Berani sampaikan isi hati dengan lantang

Perlahan melangkah dari sudut ke berbagai sisi

Berani utarakan pemikiran semakin kencang


Bait demi bait kata kuuntai dalam barisan irama

Not balok itu notasikan kata per kataku dalam nada

Aku kini belajar bangkitkan diri agar siap bersama

Entah siapa pun itu, sosok wanita yang akan ada di dada


Harap-harap cemas terus hampiri diri

Dagdigdug jantung ini terus berdebar

Tiap sosok wanita yang kuhampiri

Kuberharap mampu buka pintu hati ini lebih lebar


Mendekap sadar bahwa aku makhluk sosial

Menuang air keteduhan bahwa aku sosok nanti butuh kasih

Manusia itu hidupnya tidaklah kekal

Manusia itu butuh komunikasi dan welas asih


Sujud ini kupersembahkan tiap hari pada Sang Maha Kuasa

Segala gundah gulana dan pinta kusampaikan dalam tunduk malu

Kusadari bahwa diri ini penuh sombong, salah dan dosa

Kubutuh bersandar agar segera siap menyapanya tanpa ragu


Ku semakin tahu bahwa inilah jalan hidupku

Kubaktikan waktuku untuk perbaiki diri nan nestapa

Ku semakin mengerti bahwa inilah langkah nan lika-liku

Ku melangkah bukan tanpa arah, kumesti bersiap untuk menyapa


Wahai siapa pun itu nanti, aku ada untuk menjagamu

Wahai yang sedang menantiku, izinkan diriku berlari mengejarmu


Aku akan jadikan masa laluku sebagai guru

Aku akan jadikan masa kiniku sebagai landas pacu

Aku akan menuju masa depanku bersamamu demi waktu


Dan demi waktu yang kulalui dalam baris kata

Ku kini semakin paham, apa dan betapa beratnya ikhlas

Ku kini semakin mengerti, apa dan betapa indahnya itu mencinta

Dan demi waktulah, aku akan menjadi sebaik-baiknya manusia yang pantas


Semoga ku dapat memantaskan diri untukmu

Semoga kelak saat bertemu denganmu, aku adalah aku tanpa ego berlebih

Semoga ku mampu jalani tiap waktu bersamamu

Semoga ku tatap masa depan itu, tanpa keraguan sedikitpun dalam kasih


Duhai diriku yang pernah terbelenggu dalam rasa

Duhai diriku yang pernah merindu sepanjang masa

Mari lihatlah hari esokmu yang dituliskan Sang Maha Kuasa

Mari bangkit, meskipun pelan tapi pasti, dan yakin aku pasti bisa


Duhai engkau nan ku rindu di kala itu

Duhai engkau kisah cinta dalam diamku

Doaku untuk kebahagianmu di tiap waktu

Akhirnya kuberani temukan diriku yang sempat terpaku


Memori itu tak akan hilang oleh waktu

Memori itu akan jadi kenangan dalam lagu

Memori itu ada dan menjadi bekalku

Memori itu menjadi pelajaran kala hidupku meragu


Semua akan baik-baik saja, meski di tengah situasi nan tak menentu

Pandemi ini pun kembali bangkitkan rindu dan penuh tanya, apa kabarmu

Kini kukuatkan diri dan panjatkan doa pada Sang Maha Pemandu

Agar memandu tiap langkahmu dalam lindungan-Nya di tiap waktu


Inilah coretanku pada dunia

Kusimpan untaian kata yang melintas di kepala

Kusampaikan barisan kata nan mengetuk hati

Inilah aku yang sempat menjaga rindunya