Kali ini mahasiswa mendapat sorotan dari masyarakat. Kericuhan yang terjadi saat aksi unjuk rasa di Cianjur, Jawa Barat pada Kamis lalu (15/8) tentunya menjadi keprihatinan kita bersama. 

Unjuk rasa yang diikuti sekitar lima puluh mahasiswa semula berjalan dengan tertib dan lancar. Tercatat sejumlah organisasi mahasiswa seperti PC GMNI Cianjur, PC PMII Cianjur, HMI Cianjur, HIMAT, dan CIF ikut dalam aksi tersebut. Sekumpulan mahasiswa yang terhimpun dalam OKP Cipayung Plus Cianjur itu menuntut pemerintah agar dapat menyelesaikan berbagai permasalahan, seperti pengangguran, sempitnya lahan pekerjaan, dan kurangnya sarana pendidikan masyarakat Cianjur. 

Tak terbendung, anarkisme dan kebrutalan pendemo mencuat hingga menyebabkan empat polisi terbakar. Salah satunya, yakni Aiptu Erwin Yudha. Anggota Polres Kota Cianjur tersebut mengalami luka bakar sebesar 64 persen di tubuhnya.

Gerakan Sosial

Secara historis dapat dibuktikan bahwa berbagai aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa sejatinya dilandasi tujuan yang mulia. Sebagai agen perubahan (agent of change), mahasiswa selalu dituntut aktif dan peka. 

Dalam suatu masa di mana terjadi krisis percayaan (distrust) kepada pemerintah karena berbagai alasan fundamental, mahasiswa kerap menjadi garda terdepan. Keaktifan dan kepekaannya ditunjukkan melalui aksi turun ke jalan. Itu merupakan satu simbol kuat keberpihakan mahasiswa kepada rakyat kecil yang menjadi korban karena pemerintah yang bertindak sewenang-wenang.

Karenanya, gerakan mahasiswa dapat dikategorikan sebagai gerakan sosial (social movement). Itu terjadi karena aksi unjuk rasa yang merupakan inisiatif dari mahasiswa digerakkan oleh kesamaan keyakinan, doktrin, fanatisme dan kepemimpinan, serta melibatkan diri secara sadar untuk berkorban atas nama perubahan. 

Gerakan sosial sendiri, sebagaimana didefinisikan oleh Tarrow (1998) dalam Social Movements and Contentious Politics, dimaknai sebagai tantangan kolektif yang diajukan sejumlah orang yang memiliki tujuan dan solidaritas yang sama, dalam konteks interaksi yang berkelanjutan dengan kelompok elite, lawan, dan penguasa.

Keluhuran yang Tereduksi

Celakanya, keluhuran yang tersaji di atas kerap kali direduksi karena perbuatan mahasiswa itu sendiri. Kekecewaannya terhadap pemerintah dan pembelaannya kepada rakyat kecil hanya diakumulasikan pada tindakan yang barbar sehingga cara-cara yang arif menjadi tak tampak. Tak jarang, polisi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi objek tindakan anarkis tersebut.

Hal tersebut sudah terjadi sejak lama, bahkan pada rezim Orde Baru yang memiliki resistensi yang kuat terhadap berbagai gerakan mahasiswa. Itu ditunjukkan melalui kekerasan fisik yang menjadi hal legal yang dilakukan polisi dalam mengatur gerakan mahasiswa. 

Karena alasan itu, dendam mahasiswa kepada polisi terus dipelihara. Prawista (2011) bahkan mengungkapkan bahwa terjadi internalisasi kepada para mahasiswa baru mengenai represi polisi dalam menangani unjuk rasa. Doktrinasi yang kuat itu terus-menerus dilakukan hingga menciptakan stereotype yang buruk terhadap pihak kepolisian.

Fenomena ini tentu mengejutkan. Kekecewaan mahasiswa terhadap gagalnya negara dalam mewujudkan kesejahteraan bagi semua (instrumental aggression) justru mengalami pembiasan secara liar menjadi keinginan yang bertujuan untuk menyakiti, menghancurkan, bahkan membunuh lawan (hostfile aggression). 

Akibatnya, pembelaan dan keberpihakan yang diusahakan mahasiswa kepada masyarakat berubah menjadi kritik hingga cibiran dari apa yang selama ini ia bela. 

Peristiwa di Cianjur yang menjadi prolog tulisan ini dapat menjadi contoh riil. Jika ada barang bukti yang kuat, para pelaku yang merupakan mahasiswa bisa dikenakan sanksi hukum karena secara jelas melanggar Pasal 16 UU No. 9 Tahun 1998 tentang penyampaian pendapat di depan umum.

Dialogis-Solutif

Harus disadari bahwa itu semua bisa saja berdampak pada merosotnya kualitas akademik. Itulah yang secara ringkas disebut banalitas intelektual. 

Mahasiswa harus dapat menawarkan cara baru yang kreatif sebagai ganti dari berbagai gerakan yang cenderung konfrontatif-anarkis. Demonstrasi tidak selalu dihayati sebagai aksi turun ke jalan di mana acap kali bersinggungan dengan aparat penegak hukum dan masyarakat, namun itu dijalankan melalui pendekatan yang baru.

Terbukanya ruang-ruang dialogis menjadi prasyarat utama dalam mewujudkan pendekatan yang baru itu. Kekuatan yang halus (soft power) menjadi pendekatan pertama dan utama yang dijalankan mahasiswa. 

Itu merupakan pendekatan yang bukan dijalani dengan menggunakan ancaman, kekerasan, bahkan perang, namun menghadirkan ruang dialogis-solutif. Dimulai dari lingkungan intern yang melibatkan mahasiswa hingga birokrat kampus. 

Keterlibatan warga akademik (civitas academica) diharapkan terus berlangsung dan mengawal jalannya dialog di tingkat ekstern yang melibatkan tokoh masyarakat, pemerintah, hingga aparat penegak hukum sejauh dibutuhkan. Tidak hanya sikap kritis yang akan terus diasah, pendekatan model ini menjadi satu bentuk pengamalan tindakan musyawarah dalam mencapai mufakat. Satu tindakan yang sangat pancasilais.

Di samping itu, tindakan kuratif juga perlu sebagai respons atas peristiwa unjuk rasa di Cianjur tersebut. Tidak hanya sanksi yang tegas dari pihak berwenang (pengadilan, universitas, hingga organisasi terkait) kepada para pelaku sebagai satu bentuk dari kekuatan yang keras (hard power), namun perlu adanya jaminan tanggungan kerugian secara material ataupun immaterial bagi para korban. Di sinilah pemerintah harus bergerak.

Setidaknya itu menjadi bagian kecil dalam usaha mengembalikan nama baik (muruah) mahasiswa. Semoga mahasiswa tidak sibuk pada pergerakan semata namun lengah pada kewajibannya yang hakiki. 

Romo Mutiara Andalas, SJ dengan sangat apik menandaskan kriteria kesucian akademisi; yakni ia yang dapat mengeksplorasi aktivitas pelayanan pengajaran (ministry of teaching), riset (ministry of research) dan pengabdian masyarakat (ministry of community service) hingga tapal batas. Melalui penghayatan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara mendalam, mahasiswa akan menemukan perjuangan yang sesungguhnya. Panjang umur perjuangan!