Lini masa saya sedang ramai dengan drama korea berjudul "The World of the Married" (TWOM), drama Korea yang menceritakan tentang perselingkuhan. Yang saya tangkap, nyaris semua ekspresi teman-teman dunia maya saya (yang 90% ibu-ibu) sama.

Gemas, pengen misuh-misuh, dan pengen jambak-jambakin para tokoh antagonisnya (baca: suami dan pelakor). Akun Instagram Han So Hee, pemeran Yeo Da Kyung, bahkan sampai diserbu habis-habisan oleh netizen Indonesia saking mereka gemas dengan aktingnya yang sukses sebagai pelakor dalam drama itu.

Saya sendiri tidak berencana untuk ikutan nonton. Bukan karena alasan prinsip, cuma karena alasan waktu. Mau nonton film lepas saja susah nyari waktunya, apalagi serial. Terakhir nonton serial Korea ya cuma Kingdom, itu pun nontonnya dicicil.

Tapi, akhirnya pertahanan saya jebol juga. Saya akhirnya nonton, gara-gara ada yang lewat di beranda. Cuplikan adegan 10 menitan saat si istri membawa si suami ke rumah si pelakor dan bertemu dengan orang tua si pelakor. Cuma 10 menit dan itu cukup membuat jiwa emak-emak saya meronta-ronta.

Ngomong-ngomong, setuju nggak kalau saya bilang tema perselingkuhan sepertinya masih menjadi tema favorit ibu-ibu? Coba ada mahasiswa yang bikin skripsi tentang ini, saya yakin presentasinya pasti di atas 80 persen. Istilahnya benci tapi rindu.

Bagi perempuan, perselingkuhan bisa jadi momok paling menakutkan dalam pernikahan. Tapi begitu ada drama, novel, lagu, gosip, atau apa pun yang bertema tentang itu, kaum hawa pasti jadi penikmat utamanya. Apalagi kalau sudah jelas penyebabnya karena ada orang ketiga (a.k.a pelakor), WUZZ...langsung bisa jadi musuh bersama.

Ibu-ibu mah dijamin kompak kalau urusannya sudah nyerempet pelakor. Kita ambil satu contoh saja, salah satu grup belajar menulis di Facebook yang anggotanya ratusan ribu, tulisan-tulisan yang viral dan laku ribuan like adalah tulisan bertema perselingkuhan, disusul tema poligami, dan selanjutnya menantu yang teraniaya.

Yang membanjiri kolom komentarnya? Sudah pasti mayoritas ibu-ibu.

Menonton drama tema beginian tidak sesederhana kelihatannya. Buat tipe-tipe orang seperti saya yang nonton "Hachiko" saja sudah nangis tersedu-sedu, drama semacam ini jelas tidak cocok. FYI, Hachiko itu film yang menceritakan tentang kesetiaaan seekor anjing yang ditinggal mati pemiliknya.

Drama-drama yang menguras emosi seperti TWOM ini hanya cocok ditonton oleh orang-orang dengan psikologis yang kuat. Lha saya, baru mendengar backsound sinetron Indosiar (yang judulnya naudzubillah panjangnya itu) saja jantung sudah berdebar tak karuan, saya juga tak tahan melihat adegan zoom in-zoom out wajah ala sinetron India.

Sekadar nonton Kingdom saja saya sudah geregetan setengah mati. Saya frustrasi saat melihat adegan warga yang tetap berkerumun dan pejabat yang ngeyel saat diberitahu para mayat bisa hidup kembali saat matahari tenggelam, karena adegan ini mirip sekali dengan adegan nyata sekarang-sekarang ini di sebuah negeri bernama wkwkland nun jauh di sana.

Nah, ibu-ibu yang nonton TWOM ini hebat lho, bisa kuat nonton sampai setidaknya episode 11 sampai tulisan ini selesai diketik. Ada yang bahkan sampai terbawa mimpi suaminya nikah lagi dan merasa tensinya naik selepas nonton drakor ini.

Belum ada yang laporan sih sampai ngambek ke suaminya, paling banter cuma merasa moodnya turun. Tapi peristiwa penyerbuan akun Instagram Han So Hee oleh netizen Indonesia itu tetap saja memprihatinkan dan cukup memalukan.

Namanya ibu-ibu, meski kesal dan ngomel-ngomel, tapi ya teteeup...penasaran dan setia menunggu episode berikutnya. Salah satu yang bikin penasaran, menurut saya (setidaknya itu yang saya lihat dalam 10 menit cuplikan yang saya tonton), adalah karena tokoh utama (si istri) membalas dendam dengan cara yang manis dan elegan (tapi menohok banget) atas perselingkuhan suaminya.

Hal-hal semacam ini yang jarang kita temui di sinetron Indonesia, di mana seringnya tokoh protagonis, kebaikan (dan sekaligus kebodohannya) kebangetan sementara tokoh antagonis jahatnya keterlaluan. Tokoh protagonis ngalah melulu dan hanya azab Tuhanlah yang sanggup mengalahkan tokoh antagonis.

Butuh mental baja untuk melihat tontonan yang menguras emosi semacam TWOM ini. Mungkin banyak yang berpendapat, kalau cuma bikin emosi jiwa, buat apa ditonton? Yang kita cari itu hiburan, bukan pancingan (emosi).

Ya, sah-sah saja sih, nggak bisa disalahkan karena selera orang beda-beda, tidak bisa dipaksakan. Ada yang senang dipancing emosinya, ada yang senang dipancing ketakutannya, ada yang senang dipacu adrenalinnya, dan ada pula yang senangnya adem ayem saja.

Saya pribadi lebih suka menonton film semacam “DANGAL”, di mana saya bisa teriak-teriak “Banting!” dan “Piting!” tanpa perlu merasa bersalah karena memang film ini bercerita tentang gulat.

Kalau merasa sudah tak sanggup meihat kezaliman demi kezaliman di layar kaca, apalagi sampai berpengaruh terhadap imunitas, lebih baik kibarkan bendera putih saja. Toh, separah-parahnya adegan di layar kaca, jauh lebih menyesakkan kenyataan di dunia nyata.

Di tengah perdebatan tentang cara menghabiskan waktu luang dalam masa #dirumahaja saat ini, sekali-kali mungkin kita perlu juga nonton drama semacam ini, hitung-hitung latihan agar tak kagetan dan baperan saat membaca dan menonton berita yang makin absurd akhir-akhir ini.