Bertemu dengan teman-teman, jalan-jalan ke tempat wisata, main di timezone, berkumpul di cafe, nonton konser, merupakan sedikit bagian dari momen terbaik yang bisa dilakukan sebelum adanya pandemi. Momen-momen tersebut cukup dirindukan saat masa pandemi ini.

Selama masa pandemi, kita sulit berinteraksi secara langsung dengan orang lain dan segala kegiatan dilakukan secara daring, baik itu sekolah, berbelanja, diskusi, dan reuni pun dilakukan daring. Tentunya hal itu membuat kita merasa sedih yaa. Meskipun segala kegiatan dilakukan secara daring, kita juga dituntut mengerjakan hal-hal selayaknya sama dengan kondisi sebelum pandemi, daring memang terlihat memudahkan kita dalam berbagai aspek tetapi secara tidak sadar daring sering kali membuat kita merasa stres.

Apalagi di kalangan anak muda, saat awal diinformasikan WFH (work from home) pasti merasa senang karena tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk berangkat ke sekolah, kampus, atau mungkin ke tempat kerja. Tapi semakin lama, kondisi seperti itu terasa jenuh dan melelahkan, selalu berdiam di depan laptop dan tidak ada aktifitas lain. Kondisi seperti itu dapat mempengaruhi kesehatan mental kita, dan banyak yang belum menyadari bahwa kesehatan mental ini cukup serius .

Berbicara terkait stress, apa sih yang dimaksud dengan stres ini? Stres merupakan kondisi berupa gangguan fisik, mental, atau emosional yang disebabkan ketidaksesuaian antara tuntutan lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki, sehingga pikiran terasa semakin terbebani dengan berbagai tekanan dan tuntutan. 

Stres rentan dialami oleh pelajar yang umumnya sedang dalam tahap perkembangan fisik maupun psikologis yang masih labil. Stres akademik pada pelajar dapat muncul saat harapan untuk mencapai prestasi akademik meningkat, namun terkendala dengan tuntutan tugas yang dirasa tidak sesuai dengan kapasitas pelajar, kemudian berbagai masalah lain seperti bosan dengan pelajaran, kesulitan jaringan internet saat kelas, pekerjaan rumah yang dikerjakan juga secara bersamaan, dan berbagai tuntutan lainnya menyebabkan ketidakmampuan pelajar untuk beradaptasi dengan keadaan dan membuat mereka mengalami stres.

Menurut Barseli (2017) dalam Jurnal Konseling dan Pendidikan, menjelaskan stres yang dialami oleh pelajar yang secara terus menerus dapat menimbulkan perubahan fisiologis atau disertai dengan perubahan psikologis, selain itu juga dapat menurunkan imunitas seseorang. Oleh karena itu, stres ini cukup serius dan berbahaya. Tidak hanya stres, tapi ada juga yang disebut dengan Anxiety yaitu perasaan yang tidak menentu yang isinya ketakutan dan kekhawatiran mengenai masa mendatang, contohnya seperti mempertanyakan kapan pandemi ini akan berakhir?

Nah, kira-kira apa aja sih langkah-langkah untuk mengelola dan mengendalikan stres atapun perasaan anxiety khususnya selama masa pandemi ini dan terutama pada kalangan remaja?

Langkah pertama, kita harus memahami terlebih dahulu penyebab dan sumber stres yang kita rasakan ini dan memahami akar permasalahannya. Stres yang terjadi dapat berasal dari faktor internal ataupun faktor eksternal, contoh faktor internal yaitu dari dalam diri seseorang itu sendiri dan faktor eksternal yaitu dari faktor luar atau lingkungan sekitarnya. Jadi, setidaknya kita harus mengetahui titik permasalahan dalam diri kita dan apa sih penyebab masalah itu muncul, agar kita dapat mengelola dan mengendalikan stres dengan baik.

Langkah kedua, kita membutuhkan pengendalian jiwa yang matang atau dewasa agar kondisi yang terjadi saat itu menjadi hal yang positif. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara merubah stres yang muncul menjadi "stimulus" sebagai titik awal yang mendorong kita berpikir kritis, logis, dan realistis, sehingga dapat muncul ide-ide cemerlang dan kita dapat menciptakan karya-karya inovasi.

Selain kita merubahnya menjadi stimulus, kita juga dapat melihat stres sebagai "respon" yaitu bagaimana kita merespon suatu hal secara positif. Misalnya, saat ini metode pembelajaran dengan menggunakan media online, nah kita dapat lebih belajar lagi dan mengenal informasi teknologi untuk pembelajaran dan mengembangkannya.

Langkah ketiga, kita harus membuat diri kita lebih berproses untuk beradaptasi, dan meyakinkan diri kita sendiri tentang bagaimana kita terus bisa menyemangati diri agar dapat bertahan di masa pandemi ini, dibarengi dengan keyakinan akan agama yang kuat, kondisi pandemi ini dapat kita maknai secara positif sebagai ujian dari Tuhan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kemanuasiaan kita.

Stress bukan hanya sebagai stimulus atau sebuah respon saja, namun juga merupakan proses dimana seseorang aktif mempengaruhi stressor melalui strategi-strategi perilaku, kognitif, dan emosional. Disinilah pentingnya mengelola stres, bukan menjadikan distress (negatif) akan tetapi menjadi eustress (positif).

Langkah keempat, yaitu langkah terakhir dengan mengontrol diri dan emosi. Setelah mengenal dan mengendalikan stres yang dirasakan, seseorang dapat secara penuh mengontrol dirinya dan emosinya sendiri, sehingga dapat mengoptimalkan kemampuan dan kekuatan diri. 

PMI (Palang Merah Indonesia) menyebutkan beberapa teknik manajemen stres dalam buku Panduan Manajemen stres, yaitu:

1. Mengenal diri sendiri. Mengetahui kekuatan, kelemahan, hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai dapat membantu kita memetakan ke arah mana kehidupan kita akan kita bawa. Dengan mengenal diri sendiri, akan lebih mudah untuk menentukan cara dan strategi apa yang tepat untuk meringankan stres.

2. Peduli diri sendiri. Kepedulian terhadap diri sendiri dapat dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat, bersosialisasi dengan teman dan saudara, merencanakan kegiatan yang realistis dan melakukan hobi.

3. Perhatikan keseimbangan. kita harus dapat menyeimbangkan aspek-aspek pemeliharaan diri, yaitu: aspek mental emosional, aspek intelektual, aspek fisik, aspek spiritual, dan aspek rekreasional.

4. Bersikap proaktif dalam mencegah gangguan stres dengan mengelola aspek-aspek pemeliharan diri dengan baik dan rutin agar nantinya dapat beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit, serta memiliki kemampuan dan kekuatan lebih dalam menghadapi stres.

Selain itu, WHO (World Health Organization) mempunyai strategi dalam menghadapi stres selama masa pandemi, diantaranya:

1. Kita harus tau bahwa merasa sedih, tertekan, bingung, takut, dan marah adalah hal yang wajar selama masa krisis terjadi. Berbincang dan berbagi cerita dapat membantu mengurasi rasa tertekan yang dialami.

2. Menjaga gaya hidup sehat, berolahraga, dan berinteraksi dengan orang-orang yang disayang dapat dilakukan selama berdiam diri di rumah untuk meminimalisir penyebaran virus. Hindari menyelesaikan masalah dan emosi dengan rokok, alkohol, dan narkotika.

3. Mencari fakta dan info terbaru yang dapat membantu dalam tahap pencegahan yang tepat, serta hindari berita yang tidak valid dan kredibel.

itulah beberapa langkah dalam menjaga kesehatan mental selama masa pandemi ini. Tetap jaga kesehatan, jaga jarak, jalankan protokol kesehatan ya.