Sekitar 4 dari 10 orang dewasa di Amerika Serikat mengaku mengalami gejala kecemasan atau gangguan depresi selama pandemi Covid-19. Data ini dipaparkan oleh KFF Tracking Poll pada situsnya. Sejak Juli 2020, sejumlah orang juga mengalami insomnia, kesulitan makan, dan meningkatnya konsumsi alkohol. Mengapa saya memberikan data tentang Amerika Serikat, bukannya Indonesia? Jawabannya simpel. Karena sejauh pencarian singkat saya di Google, belum ada yang memberikan data terkait jumlah orang di Indonesia yang merasa kesehatan mentalnya terganggu karena pandemi ini.

Padahal, diberlakukannya PSBB, PPKM, ataupun lockdown saja sudah cukup membuat sebagian masyarakat ketar-ketir memikirkan apa yang harus mereka lakukan hanya sekadar agar makanan di meja makan tersedia. Belum lagi bagi mereka yang terpapar virus Covid-19 ini. Seharian penuh mengurung diri di dalam kamar saja sudah cukup memuakkan bagi mereka yang terbiasa sibuk dengan berbagai kegiatan. Apalagi 2 minggu?

Maka, sebelum kesehatan mental kita terganggu tanpa kita sadari, mari kita simak langkah-langkah berikut yang dapat dilakukan selama melakukan isolasi mandiri.

Kurangi penggunaan media sosial

Rasanya saat melakukan isolasi mandiri, sumber utama hiburan kita adalah media sosial. Tentunya agar kita juga tetap up to date dengan hal-hal terbaru yang terjadi di sekitar kita. Namun, sebenarnya keinginan untuk tetap up to date ini mengindikasikan adanya FOMO (Fear of Missing Out) atau takut tertinggal dari yang lain. Di tengah tingginya tuntutan untuk selalu produktif dan sukses di usia muda, tidak jarang kaum milenial masa kini mengalami FOMO, yang cukup banyak telah mengganggu kesehatan mental.

Menurut healthguide.org, FOMO memang telah ada jauh sebelum media sosial marak digunakan. Namun, kini FOMO ternyata semakin diperparah dengan adanya media sosial. Bagaimana tidak? Melihat orang-orang berbagi betapa suksesnya mereka di usia muda tentu saja dapat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, serta memicu gangguan kecemasan, bahkan mengakibatkan penggunaan media sosial yang jauh berlebihan pula. 

FOMO menjadi alasan seseorang mengecek handphone beberapa menit sekali, bahkan ketika tidak ada notifikasi sekalipun. Hal ini dapat menyebabkan insomnia, dan kurangnya interaksi dengan sesama. Padahal, berbagi dengan orang terkasih secara langsung merupakan cara paling efektif untuk mengurangi stress dan meningkatkan mood kita.

Dari pada scroll tanpa henti di media sosial, mungkin lebih baik kita video call atau chat dengan orang-orang terdekat. Meskipun kita tidak bisa secara langsung berhadapan untuk bercerita, setidaknya dengan berbagi pikiran sejenak lewat video call maupun chat dapat mengurangi kerinduan kita, dan tentunya dapat memperbaiki mood kita.      

Olahraga

Olahraga memang terdengar sangat klise dan sulit dilakukan jika Anda termasuk kaum rebahan seperti saya, hehe. Faktanya, olahraga ternyata tidak hanya berguna bagi kesehatan fisik saja. Mood kita juga menjadi jauh lebih baik karena ketiga hormon bahagia, yaitu dopamin, serotonin, dan endofin meningkat. Olahraga juga membuat kita memiliki kualitas tidur yang lebih baik. 

Olahraga juga ternyata menjadi distraksi yang berguna untuk mengurangi gangguan kecemasan dan depresi. Anda tidak perlu olahraga yang berat-berat seperti lari keliling lapangan sepuluh kali. Anda kan hanya olahraga untuk menjaga kesehatan, bukan untuk latihan untuk PON, hehe. Berjalan selama 30 menit saja sudah cukup untuk memberikan efek positif untuk fisik dan mental Anda. 

Kalau memang Anda tidak ingin berjalan di luar rumah, banyak video walk from home di Youtube yang bisa Anda ikuti. Saya pribadi mengikuti video walk from home yang dipandu oleh Leslie Sansone. Ada sejumlah pilihan video yang tersedia, jadi Anda bisa memilih yang mana yang menurut Anda nyaman untuk diikuti, sehingga tidak memberatkan Anda. Dijamin Anda bakal keringatan seperti orang lari di tread mill, mood Anda juga jadi lebih baik, dan yang paling penting, bisa tidur lebih nyenyak di malam hari, yang tentunya sangat dibutuhkan di saat isolasi mandiri. Tetap ingat ya, untuk melakukan olahraga sesuai kemampuan Anda. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti seluruh videonya sampai selesai. Anda bebas berhenti kapanpun Anda merasa telah cukup bergerak.

Hindari berita-berita negatif

Sekitar seminggu yang lalu saat saya sedang scroll feed Instagram saya, ada sebuah akun berita yang memposting sebuah gambar dengan tulisan “Hasil Riset Sebut Penyintas Covid Alami Penurunan Kecerdasan dan IQ”. Hal pertama yang saya rasakan adalah takut. Gimana nggak takut kalau saya sedang menjalani isoman karena positif Covid? Perasaan takut itu perlahan berubah menjadi marah karena di dalam caption dari berita tersebut, ada bagian yang menginformasikan juga bahwa hasil studi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya. “Ya elah, kalo memang belum bisa dipastikan benar tidaknya, ngapain buat judul yang bikin orang panik begitu?”  Tapi, mungkin itu ya yang namanya clickbait. Judul yang sangat menarik, padahal isinya belum tentu mengonfirmasi judulnya.

Saat isoman, sangat saya anjurkan agar Anda menghindari berita-berita negatif, terutama yang berhubungan dengan pandemi. Mungkin memang dampaknya tidak sefatal yang kita kira sih, tapi jujur saja, terkadang saya merasa dihantui dengan kemungkinan turunnya kecerdasan saya karena menjadi penyintas Covid setelah membaca berita itu. Jadi, kalau Anda sedang isoman, carilah bacaan dan tontonan yang menghibur.

Optimalkan waktu di luar ruangan

Saat isolasi, otomatis kita sedikit sekali menghabiskan waktu di luar ruangan. Saya pribadi hanya keluar rumah saat berjemur di pagi hari. Tapi, tahukah Anda bahwa terlalu lama mengurung diri di dalam ruangan dapat memicu kecemasan dan depresi? Anda juga sangat mungkin akan merasa kesepian. 

Karena mayoritas waktu yang kita habiskan adalah di dalam ruangan, gunakanlah waktu berjemur di pagi hari sebaik mungkin. Tinggalkan handphone Anda dan nikmatilah sinar matahari sebaik-baiknya. Anda bisa berkeliling kompleks atau melakukan olahraga ringan di bawah sinar matahari pagi yang hangat dan menyehatkan. Anda juga bisa menikmati waktu di luar ruangan dengan berkebun, atau membersihkan halaman. Tentunya dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Makan makanan favorit

Ini memang sepele sekali, namun pastinya kita sudah pernah mengalami sendiri ketika suasana hati kita jadi lebih gembira karena makan makanan favorit. Hal ini karena meningkatnya hormon dopamin dan endorfin dalam tubuh kita. Jangan lupa agar tidak kalap dan lupa diri ya, terutama jika makanan favorit Anda ini bukanlah jenis makanan bergizi. 

Imbangi dengan makan makanan yang sehat, termasuk sayur dan buah-buahan agar tubuh kita tetap memperoleh nutrisi yang diperlukannya untuk melawan virus yang ada di dalam tubuh kita.


Fisik dan mental adalah 2 bagian penting pada tubuh kita yang harus dipelihara kesehatannya agar kita dapat hidup nyaman dan sejahtera. Pastikan Anda tetap memiliki mental yang sehat walaupun fisik Anda tengah melawan virus yang telah menelan banyak korban ini.