Kesehatan mental merupakan kondisi di mana batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Ilmu kedokteran menyebutkan bahwa Kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Seseorang yang memiliki mental sehat bisa menggunakan kemampuan atau potensi dirinya dengan maksimal untuk menghadapi permasalahan di hidupnya. Sebaliknya, jika mental seseorang terganggu suasana hati, kemampuan berpikir, pengendalian emosinya bisa mengarah ke perilaku yang buruk.

Setiap individu memiliki tingkat kekuatan mental masing-masing. Tidak bisa jika kesehatan mental disamakan setiap individu. Hal tersebut dikarenakan kita memiliki kehidupan masing-masing yang pastinya memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Jadi, kita tidak bisa meremehkan mental setiap individu.

Remaja yang sedang berada di fase peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa pasti akan mengalami halangan, rintangan, kekhawatiran, dan masalah lainnya. Hal tersebut pastinya memiliki dampak yang berbeda di setiap individu. Masa remaja biasanya di alami oleh seseorang yang berusia 16-24 tahun.

Masa pandemi yang sedang berlangsung termasuk di Indonesia, pastinya memiliki berbagai macam dampak bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya, para remaja yang harus libur sekolah sampai sekolah secara daring. Hal tersebut banyak menimbulkan pro dan kontra antar individu.

Ditambah dengan adanya kebijakan pemerintah Indonesia di berbagai daerah seperti lockdown, work from home, dan yang sudah kita semua jalani yaitu PPKM. Pemerintah melakukan kebijakan tersebut pasti sudah memikirkan dengan baik untuk masa ke depan. Akan tetapi, dari kebijakan tersebut akan berdampak baik dan buruk bagi seseorang salah satunya para remaja.

Kehidupan sehari-hari yang sungguh berbeda sejak adanya pandemi ini bisa membuat mental dan kejiwaan para remaja berubah. Pada umumnya, para remaja akan mencari jati dirinya dengan bersosialisasi dengan banyak orang, bertemu teman baru atau bahkan hingga harus hidup di lingkungan yang berbeda karena pendidikan atau memang situasi yang mengharuskan.

Beberapa remaja yang masih menduduki bangku sekolah ataupun perkuliahan harus secara online di rumah sehingga membatasi kita bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain yang bisa membuat mental seorang remaja down. Hal tersebut tidak bisa disalahkan, karena memang situasi yang harus dihadapi seperti itu.

Pengendalian emosi dan diri terhadap setiap individu menjadi hal yang sangat penting. Bagaimana cara kita menyelesaikan dan menghadapi permasalahan yang muncul di kehidupan kita. Banyak remaja yang menganggap remeh kesehatan mental. Bahkan beberapa ada yang tidak tahu sama sekali bahwa kesehatan mental itu sangat penting untuk kita menjalani kehidupan.

Situasi pandemi seperti sekarang ini, mewajibkan seorang remaja harus memiliki sikap yang mudah untuk beradaptasi. Salah satu contohnya adalah menjaga kesehatan dengan sering mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak saat ada orang yang berkerumun, dan masih banyak lagi.

Tidak bisa seseorang bersikap seenaknya sendiri di masa pandemi ini, karena bisa menimbulkan hal-hal negatif yang merugikan orang lain atau bahkan dirinya sendiri. Seorang remaja harus bisa memilah-milah mana kegiatan yang baik dan buruk, mana yang harus dijauhi dan mana yang harus dicontoh.

Kesehatan mental seseorang saat sedang mengalami gangguan, pastinya akan mengalami gejolak emosi yang tidak bisa dikontrol. Bahkan, jika sudah parah, kerusakan mental seseorang bisa menyebabkan depresi, stres, atau hingga berpikiran untuk mengakhiri hidupnya saat mereka berpikir tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahannya.

Kerusakan mental seseorang juga dapat berefek pada kesehatan fisik tubuh kita. Ada beberapa orang yang menyakiti dirinya atau dikenal dengan istilah cutting. Mereka berpikiran dengan menyakiti dirinya sendiri akan merasa tenang dan lebih dapat memegang kendali.

Beberapa orang juga berpikiran melakukan cutting bisa sebagai bentuk menghukum diri sendiri ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Bisa juga karena mereka mengalami trauma atau pengalaman buruk yang sangat membekas dipikiran mereka.

Dukungan orang-orang di sekitar sangat berperan penting bagi seseorang yang mengalami gangguan mental dan kejiwaan. Masukan dan hiburan orang di sekitar akan membuat kita berpikiran bahwa masih ada orang lain dan kita tidak sendiri. Masih banyak orang yang peduli dan sayang dengan kita.

Banyak juga dokter kejiwaan seperti psikiater atau psikolog yang menangani kasus kesehatan mental terutama pada remaja. Seorang psikolog atau psikiater akan mendengarkan keluh kesah pasiennya kemudian akan diberikan penyelesaiannya. Misalnya dengan upaya pencegahan, kuratif, dan rehabilitatif dengan pemberian konseling, psikoterapi, atau dengan obat-obatan.

Mulai dari diri kita bisa memulai untuk menjaga kesehatan mental kita masing-masing. Misalnya dengan bisa menerima dan mencintai diri kita masing-masing baik kekurangan maupun kelebihan kita. Selain itu, kita juga bisa memilih pertemanan yang cocok dengan diri kita tidak membuat kita tertekan atau bahkan membawa kita terjerumus ke dalam hal yang negatif.