Arsiparis
2 bulan lalu · 67 view · 5 menit baca · Ekonomi 50560_63010.jpg

Menjaga Kertas Melestarikan Peradaban

Kita tidak pernah tahu alasan dan latar belakang Ts’ai Lun membuat kertas pada awal masehi. Mungkin untuk dijadikan bungkus makanan atau membuat lampion. Namun bisa jadi ia sendiri tidak menyadari bila barang temuannya pada akhirnya bisa dijadikan media untuk menulis dan mentransfer ide dari satu orang ke orang lain.

Dengan kertas itu, kita bisa melestarikan hasil budaya dan mentrasfer produk peradaban karena dengannya kita bisa merekam segala aktivitas, baik berupa gambar maupun tulisan. Ide dari orang lain pun bisa melanglang buana ke berbagai tempat dengan perantara media kertas.

Memang cara merekam paling awal, yaitu dengan menuliskannya atau menggambarkannya. Dan sebelum adanya kertas, media yang digunakan tidak praktis dan sulit dibawa ke mana-mana.

Mungkin kita sekarang ini harus berterima kasih banyak pada Ts’ai Lun lewat penemuannya. Kertas membuat ilmu pengetahuan menjadi portable pada akhirnya. Sebelumnya kita harus mendatangi sang guru untuk memperoleh ilmu yang ia punya, tapi dengan membaca tulisannya kini kita bisa mempelajari ilmu yang ia punya.

Karena Ingatan Kita Terbatas

Keberadaan kertas menjadi sarana untuk merekam lewat tulisan maupun gambar. Ini memudahkan seseorang untuk mengingat kembali apa yang tersimpan di memorinya. 

Itu semua disebabkan karena memori yang tersimpan di benak seseorang sangat luar biasa banyak, sedangkan daya ingatnya mempunyai keterbatasan. Dengan keterbatasan ini, maka untuk memudahkan menemukan ide kembali apabila terlupa adalah dengan merekamnya.

Sebelum ada kertas, orang merekam, baik dengan tulisan maupun gambar, ditempatkan pada media yang bisa digores, baik itu daun, kulit hewan maupun tumbuhan dan batu-batuan. Semua media itu sulit untuk dibawa ke mana-mana karena tidak praktis.

Saat kertas ditemukan dan bisa dijadikan media untuk menulis dan menggambar, hasil-hasil budaya lebih praktis untuk dibawa dan semua orang menjadi mudah mengakses pengetahuan. Mereka tidak harus berjalan ke rumah cendekiawan karena sang cendekiawan sudah menuliskan ilmunya di kertas yang bisa dibaca siapa saja.

Saat kertas memainkan perannya sebagai alat perekam, eksklusivitas kulit dan prasasti di batu-batu memudar. Kepraktisan kertas sebagai bahan yang bisa menampung informasi, baik tulisan maupun gambar, secara tidak langsung memancing tersebarnya informasi dan pengetahuan ke segala penjuru di mana manusia itu berada.

Mengikis Budaya Lisan


Kebudayaan lisan sedikit terpinggirkan dengan kemunculan kertas karena orang orang lebih suka membaca secara pribadi dan bisa berhenti sekehendak hatinya. Bedakan dengan budaya lisan. Kita tidak bisa menghentikan sang pengkisah untuk menuturkan kisahnya.

Kertas memainkan peran vital menumbuhkan budaya literasi. Ia menstimulasi seseorang untuk menuliskan dan menggambarkan ide-ide yang ia punya agar bisa dimaknai dan diartikan oleh orang lain.

Dunia mendadak terkaget kaget dengan kertas ini, terlebih saat Guttenberg menemukan mesin cetak. Kertas dan mesin cetak seolah kawin dan sepadan untuk menebarkan ilmu pengetahuan secara dispersal karena cetak memungkinkan penggandaan secara berlebihan dan cepat.

Ilmu menyebar ke mana-mana seiring kertas yang telah dicetak secara banyak. Orang tak lagi ingin mendengar kisah, tapi mereka ingin membacanya secara personal; larut dalam imajinasi saat membaca.

Ilmu Pengetahuan pun Makin Mudah Menyebar

Tak ada lagi batas geografis saat budaya tulis mulai menonjol. Melalui tulisan di media kertas ini, transfer budaya menjadi lebih cepat. Kertas yang mudah dibawa ke mana-mana mempercepat berpindahnya pengetahuan dan informasi.

Dunia semakin terbuka karena orang-orang bisa membaca informasi yang di sana. Mereka bisa saling berbagi gambar dalam bercerita. Aspek visual menjadi lebih mudah dengan gambar yang terpampang di media kertas daripada sekadar lisan belaka.

Berbagai disiplin ilmu dimudahkan dengan adanya kertas. Musik kini bisa dibaca secara teknis saat notasi ditemukan dan partitur dituliskan di media kertas. Suara bisa direkam via tulisan dan orang-orang bisa memainkannya dengan teknik sama.

Untuk dunia kedokteran, mempelajari anatomi tidak lagi harus berhadapan dengan mayat. Mereka bisa mempelajarinya via selembar kertas yang telah digambar secara detail tentang anatomi tubuh seseorang.

Aktivitas peristiwa bisa lebih dramatis digambarkan bila hanya sekadar diceritakan saja. Wajah tokoh-tokoh zaman dahulu masih bisa kita kenali dengan adanya sketsa-sketsa wajah di dalam media kertas.


Peradaban menjadi mudah diwariskan via tulisan dalam kertas. Risiko kehilangan produk budaya pun menjadi berkurang karena sudah terekam dalam kertas yang praktis untuk disimpan dan dibawa.

Jejak-jejak budaya dan peradaban manusia yang terekam dalam kertas tak terhitung lagi jumlahnya. Generasi berikutnya menjadi lebih praktis menelisik jejak-jejak peradaban nenek moyang saat peradaban itu telah direkam dalam kertas, baik yang berupa tulisan maupun gambar.

Kertas Masih Menjanjikan Kemudahan di Era Modern

Apa yang telah direkam dalam kertas tak perlu lagi alat untuk membacanya. Meski perkembangan teknologi makin cepat, efek digital dan kemudahannya masih belum bisa mengalahkan kemudahan yang ditawarkan oleh kertas.

Untuk membaca apa yang tertulis di selembar kertas, orang tak perlu memakai sarana bantu kembali. Mereka tinggal membaca apa yang ada di dalamnya. Tak perlu mesin yang ribet dan berisiko rusak serta ketinggalan zaman teknologinya. Mereka tinggal membaca saja. Sederhana dan praktis serta murah.

Teknik digital mempunyai kekurangan untuk selalu update peningkatan sistemnya. Kertas tak perlu di-upgrade agar bisa tetap dibaca. Kepraktisan kertas inilah yang tak ditemukan pada produk digital. Tulisan di beberapa abad lalu masih bisa kita lihat dan memungkinkan untuk bisa kita baca

Produk digital hanya dalam hitungan bulan kadang bisa macet karena harus meng-upgrade sistem yang digunakannya.

Melestarikan Kertas Melestarikan Peradaban

Tantangan baru telah dihadapi oleh kertas. Saat hutan-hutan berkurang dan berimbas pada keberadaan kertas itu sendir,  masih mungkinkah kertas memainkan peranannya?

Kita tak tahu pasti beberapa tahun ke depan apakah kertas masih eksis. Keadaan ini bukan dikarenakan karena orang tak mau lagi memakai kertas sebagai sarana menulis, tapi keberadaan kertas yang hampir sulit untuk dibuat kembali.

Perlu kesadaran bersama untuk melestarikan kertas karena biar bagaimanapun kertas menawarkan kemudahan-kemudahan yang telah terbukti. Kita tak perlu alat untuk membaca tulisan dalam kertas. Namun bila kertas itu sendiri tidak ada karena bahan pembuatnya telah habis, kita bisa apa?

Tantangan untuk melestarikan kertas adalah untuk kita semua. Perambahan hutan yang membabi buta, terutama pada tanaman-tanaman yang menjadi bahan dasar pembuat kertas, adalah kepentingan mendesak di dunia yang mendewakan materialisme sekarang ini.


Jangan sampai kecintaan kita pada uang mengabaikan kelanggengan peradaban yang kita punya. Uang memang segalanya. Tapi tanpa keluhuran budi yang bisa kita pelajari lewat kebudayaan, kita hanyalah mesin atau robot belaka dalam menjalani kehidupan.

Kebudayaan adalah olah rasa dan karsa yang memperkaya nurani. Kertas memainkan peranan tidak kecil dalam melestarikan peradaban. Karena dengan kertas kita merekam segala olah rasa dan laku kita untuk bisa dibaca generasi berikutnya. 

Jejak-jejak informasi pada kertas itulah yang nantinya menelurkan pengetahuan saat dibaca ulang dan diinterpretasikan anak cucu kita kelak. Mari melestarikan kertas karena dengan keberadaan kertas dan budaya tulis yang berpadu kita akan melestarikan peradaban.

Artikel Terkait