Victor Hugo, seorang sastrawan ternama Prancis, pernah berkata, “Belajar membaca bagaikan menyalakan api; setiap suku kata yang dieja akan menjadi percik yang menerangi.”

Sejatinya, pernyataan tersebut adalah pesan tentang meruahnya manfaat yang dapat diraup melalui kegiatan membaca. Manfaat-manfaat itu di antaranya ialah mampu meningkatkan kadar intelektual dan kognisi, menajamkan daya intuisi dan analisis, meruncingkan sensibilitas emosi, serta memacu daya kreativitas, yang semua itu bermuara pada satu hilir, yakni pembentukan manusia yang arif dan bijaksana dengan fondasi ilmu pengetahuan. 

Sehingga tidak hiperbolis bila disimpulkan bahwa membaca merupakan kendaraan yang dapat mengantarkan umat manusia dari lembah kejahilan menuju daratan berpengetahuan. Adalah tali yang mampu menarik umat manusia dari jurang kebiadaban menuju puncak kebijaksanaan.

Catatan-catatan sejarah menunjukkan bahwa awal mula perintisan peradaban atau kemerdekaan suatu bangsa dan negara senantiasa diawali dengan semangat literasi yang mendalam di lubuk hati founding fathers-nya, seperti di negeri tercinta ini, Indonesia. 

Sebagaimana maklumat bersama bahwa founding fathers negeri ini adalah deretan insan-insan yang kecintaannya tidak lagi diragukan terhadap budaya baca tulis atau yang kerap kali berdengung di telinga kita dengan sebutan literasi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya koleksi buku yang bersandar di dipan perpustakaan-perpustakaan pribadi mereka. Sehingga muara dari kecintaan inilah yang mengantarkan mereka menjadi insan-insan yang cendekia. 

Mereka memiliki keunggulan dan penguasaan keilmuaan masing-masing. Soekarno adalah seorang insinyur, Drs. Mohammad Hatta adalah ekonom, Soepomo adalah ahli hukum dan tatanegara, serta Ki Hadjar Dewantara ialah seorang pakar pendidikan. 

Dengan bekal ilmu pengetahun inilah mereka mampu mengantarkan bangsa dan negara ini lepas dari pedihnya cengkraman penjajahan. Bahkan, saking dalamnya kecintaan mereka terhadap buku hingga suatu ketika Drs. Mohammad Hatta mengatakan, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, dengan buku aku bebas.” Demikianlah manifestasi kecintaan beliau yang begitu dalam terhadap buku.

Namun, kecintaan tersebut nampaknya tidak lagi diwarisi dan dihayati dengan baik oleh para generasi zaman now. Hal itu tercermin lewat rendahnya minat baca mereka yang kian menggalaukan. 

Hasil studi Most Littered Nation in the World tahun 2016 oleh Central Connecticut State Univesity, sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, menempatkan Indonesia di urutan ke- 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia bertengger tepat satu tangkai di bawah Thailand (59) dan hanya setingkat lebih baik dari Botswana (61), sebuah negara marjinal di benua Afrika sana.

Selain itu, hasil riset UNESCO menunjukkan bahwa posisi membaca Indonesia berada pada angka 0.001%. Artinya, dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang saja yang memiliki minat baca. 

Maka, apabila mengacu pada rasio ini, berarti dari 250 juta penduduk Indonesia, hanya terdapat 250.000 penduduk saja yang mengantongi minat baca di saku hati mereka. Kondisi minat baca yang kian memasygulkan ini tentu menjadi masalah serius bagi bangsa Indonesia, khususnya yang kini mewabah di dunia kampus yang notabenenya adalah ladang mahasiswa untuk bertumbuh.

Perkembangan literasi dalam wajah institusi kampus dewasa ini kian mencemaskan. Hal ini seirama dengan hasil penelitian Siswati tentang Minat Membaca Pada Mahasiswa tahun 2010, yang menunjukkan bahwa minat baca mahasiswa UNDIP Semester 1 masih rendah. 

Hal itu dibuktikan oleh minimnya waktu yang mereka luangkan untuk membaca, yaitu hanya satu jam saja dalam sehari. Hal tersebut justru berbanding terbalik dengan waktu yang mereka luangkan untuk menonton, di mana 40% koresponden meluangkan waktu selama >180 menit dalam sehari untuk menonton televisi.

Selain itu, hasil studi kasus oleh Deni Hardianto tentang Studi Tentang Minat Baca Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Yogyakarta juga mengatakan bahwa minat baca mahasiswa di kampus tersebut pun masih rendah. Hanya 19.50% mahasiswa saja yang memiliki minat baca. Sedangkan, 79.20% mahasiswa hanya kadang-kadang memiliki keinginan untuk membaca. 

Bahkan, menurut Deni, jawaban kadang-kadang tersebut justru lebih mengarah pada kategori “kurang berminat”. Hal itu tergambar dari beberapa pernyataan koresponden, salah duanya adalah yang berinisial HZ dan MI yang menuturkan, “Membaca biasanya karena ada tugas dari dosen atau menjelang ujian.” Sungguh memilukan.

Data di atas adalah miniatur mini dari kondisi minat baca mahasiswa yang semakin mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, permasalahan ini harus segera ditangani dengan serius oleh semua pihak. Karena hal ini dapat berdampak pada pencapaian misi dan tujuan bangsa. Sebab, kita menyadari bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada moral dan ilmu pengetahuan generasi bangsanya.

Maka, setelah melalui proses kajian dan analisis, ditemukan beberapa faktor dominan penyebab rendahnya minat baca mahasiswa. Faktor-faktor tersebut di antaranya ialah sebagai berikut:

Pertama, cara pandang mahasiswa. Selama ini, mahasiswa hanya memandang buku sebatas media untuk menggugurkan tugas dan tidak ada upaya menginternalisasi urgensitas buku tersebut ke dalam diri mereka secara sadar.

Mahasiswa semestinya memandang buku sebagai investasi yang penting bagi kehidupan mereka. Mereka sejamaknya memandang dirinya laiknya sebuah pohon, sementara buku adalah pupuknya. Pohon hanya dapat tumbuh dengan subur jika diberi pupuk yang cukup sebagai asupan nutrisi terbaik. 

Pemberian pupuk yang cukup dan rutin mampu menjaga kekuatan pohon hingga ke akar-akarnya. Kekokohan akar pohon dapat mencegah tumbangnya pohon dari terpaan angin. Dan seperti inilah hubungan yang diharapkan antara mahasiswa dengan buku. Sebab buku menjadi suplemen utama bagi mahasiswa untuk mengembangkan daya nalar, pola pikir, dan kekritisannya.

Kedua, paradigma klasik pustawakan terhadap perpustakaan yang harus segera ditransformasi dari paradigma pemahaman literasi sebatas wadah untuk menggugurkan kewajiban.

Pustakawan sewajarnya memandang perpustakaan ibaratnya dapur di kala mahasiswa lapar. Perpustakaan sebagai dapur seyogianya menyediakan makanan-makanan yang bergizi baik. Di sana, semestinya tersaji variasi menu-menu makanan (buku-buku) yang mengandung protein, kalsium, zat besi, vitamin A, B, C, D dan seterusnya untuk menunjang pertumbuhan dan kesehatan kognisi, intuisi dan emosi serta daya kreativitas seorang mahasiswa.

Ketiga, kurangnya sarana dan prasarana buku. Nampaknya, birokrasi kampus perlu belajar dari sejarah peradaban dunia, khususnya peradaban Islam di Spanyol tentang upaya besar seorang khalifah untuk menyediakan sarana dan prasarana buku bagi masyarakatnya.

Upaya besar peradaban Islam dalam bidang sains atau yang kita kenal dengan sebutan The Golden Age of Science mencapai puncaknya pada masa kekhalifaan Al-Ma’mun.  Khalifah Al-Ma’mun (786-833) adalah seorang pemimpin yang religius, rasionalis dan sangat cinta dunia literasi.

Beliau berusaha mencari ilmu pengetahuan ke seluruh penjuru dunia dengan mengirimkan sarjana-sarjana terbaik untuk belajar maupun membeli ribuan manuskrip ilmu pengetahuan. Beliau juga menyuruh para penerjemahnya untuk menerjemahkan beribu buku terbaik berbahasa Yunani, Persia, dan Sanskerta ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari. Bahkan Beliau mengapresiasi penerjemahnya dengan bayaran emas seberat buku yang diterjemahkannya itu.

Selain itu, Beliau juga memajukan pendidikan, mendirikan sekolah-sekolah, perpustakaan-perpustakaan dan memberikan posisi istimewa bagi para sarjana. Beliau mendirikan pusat pembelajaran megah bernama Bayt Al-Hikmah atau Gedung Kebijaksanaan. 

Di akademi yang besar ini, para intelektual dari seluurh negeri berkumpul dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan. Di sana juga terdapat perpustakaan yang luas dengan koleksi bacaan dan referensi yang sangat lengkap yang bersumber dari buku-buku terbaik di seluruh dunia.

Demikianlah patahan sejarah di atas yang semoga dapat menjadi motivasi bagi birokrasi kampus untuk berusaha menyediakan sarana dan prasarana buku yang memadai dan bervariasi sebagai daya pemantik untuk membangunkan semangat berliterasi mahasiswa.

Keempat, teknologi handphone yang memabukkan mahasiswa. Memang tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi handphone semakin menumbangkan minat baca mahasiswa. Sebab, waktu mereka lebih banyak disita oleh gadget daripada buku. 

Hal ini senada dengan sebuah penelitian tentang Pengaruh Komunikasi terhadap Minat Baca Peserta Didik di Perpustakaan yang menyimpulkan bahwa perkembangan teknologi handphone turut menyebabkan semakin layunya minat baca mahasiswa. Hal itu disebabkan oleh kemudahan akses internet yang membuat mereka lebih memilih belajar via e-book karena dianggap lebih praktis­

Padahal, belajar melalui e-book sangat tidak efektif dan sehat. Sebab ketersediaan materi dalam bentuk e-book yang sangat minim, gangguan aplikasi-palikasi handphone yang menggoda kefokusan belajar, serta radiasi pencahayaan handphone yang berbahaya bagi kesehatan mata sehingga sangat minim mahasiswa yang dapat belajar via e-book hinga berjam-jam lamanya sebagaimana yang dapat dilakukan dengan buku. 

Admin Javanicabooks pernah berkata, “Kesulitan menciptakan orang kuat. Orang kuat menciptakan kemudahan. Kemudahan menciptakan orang lemah.”

Oleh sebab itu, mahasiswa harus berpikir dengan baik tentang kepraktisan-kepraktisan yang disuguhkan oleh teknologi yang “diklaim” memudahkan proses pembelajaran tersebut. Mereka harus bertanya pada diri mereka bahwa benarkah teknologi-teknologi tersebut tepat dan sehat untuk berliterasi? Apakah mereka juga perlu beralih dari media kertas menuju proses digitalisasi literasi? Ataukah bagaimana? 

Ray Bradbury berkata, “Tidak usah membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa. Buat saja orang-orangnya berhenti membaca."

Maka dari itu, seorang mahasiswa harus menyadari bahwa dunia literasi adalah investasi yang sangat penting bagi mereka. Sebab, mereka adalah barisan pemuda yang notabenenya pemegang estafet perjalanan bangsa dan negaranya. Di tangan merekalah tampuk kepemimpinan itu akan diulurkan. 

Pramoedya Ananta Toer berkata, “Sampai kapan pun dan di mana pun, angkatan muda akan terus menjadi pelopor perubahan.” Oleh sebab itu, sebelum waktu itu datang, para mahasiswa harus berbekal diri untuk mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya.

Bersebab musabab itu, maka kesadaran dalam diri mahasiswa dan juga pada diri pustakawan dan birokrasi kampus perlu dibangunkan guna bersama membina dan menghidupkan semangat berliterasi di dalam lubuk hati mahasiswa. Pepatah Cina mengatakan, “Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih. Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon. Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia.” 

Menanam literasi, tumbuh narasi. Tumbuh narasi, semakin semangat dan bergelorah sebuah aksi. Literasi, narasi, dan aksi, semuanya hadir untuk sebuah dedikasi. Berdedikasi untuk diri pribadi, bangsa, dan negara yang terkasih.