3 minggu lalu · 53 view · 3 min baca · Lingkungan 25584_87878.jpg

Menjaga Alam Tanpa Jentikan Thanos

Demi menciptakan keseimbangan, Thanos berniat melenyapkan separuh kehidupan di alam semesta. Begitu kira-kira gambaran krisis terjadi di Marvel Cinematic Universe yang berujung pada perseteruan seru antara Tony Stark CS versus The Inevitable Thanos.

Sayangnya, krisis semacam itu tidak hanya karangan fiksi yang bisa kita nikmati dalam kemewahan bioskop belaka, tetapi juga mengancam kehidupan kita di dunia nyata. Pertambahan populasi dan tingkah polah manusia yang seenak udel-nya telah mengancam kelesetarian alam, rumah manusia itu sendiri

Salah satu krisis besar yang mengancam alam kita adalah kenaikan suhu global yang diprediksi akan melebihi ambang batas 1,5 derajat celcius pada tahun 2030. 

Meski sebenarnya negara-negara di dunia yang berkumpul pada Perjanjian Paris menetapkan batas kenaikan suhu pada 2 derajat celcius, tetapi kerusakannya akan jauh lebih parah dibandingkan kenaikan suhu di ambang batas 1,5 derajat C.

Perbedaan besar di antara dua batas tersebut diuraikan oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia dengan merujuk pada laporan yang diterbitkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2018 yang berjudul “Special Report of Global Warming on 1.5C”. 

Perbedaan signifikan jika kenaikan suhu mencapai batas 2 derajat C dibandingkan 1,5 derajat C antara lain pemanasan global 2,6 kali lebih parah, kepunahan spesies 2 - 3 kali lebih tinggi, terdapat satu musim panas tanpa lautan es di setiap 10 tahun sekali (100 tahun sekali pada batas 1,5 derajat C), dan berbagai dampak buruk lainnya.


Foto: akamaized.net

Maka prediksi kenaikan suhu global di atas ambang batas 1,5 derajat C perlu mendapatkan perhatian serius. Beberapa solusi yang diajukan sering kali menyasar pada upaya pemangkasan dan pembatasan emisi karbon. Namun, penerapan upaya tersebut masih sulit terlaksana secara optimal, khususnya di Indonesia.

Upaya penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), misalnya, masih berada di bawah 10%. Sangat jauh dari target Indonesia pada tahun 2025, yaitu sebesar 23%. Apalagi penerapan EBT cenderung mengancam PLTU yang belum mampu beradaptasi dengan baik. 

Selain itu, pemangkasan emisi karbon juga terhambat dengan industri penerbangan yang makin masif, mengakibatkan industri penerbangan menjadi salah satu industri penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar.

Kenyataan tersebut menunjukkan perlunya upaya baru agar jumlah emisi karbon dapat benar-benar dipangkas. 

Masalahnya, bagaimana? 

Ide Thanos menghilangkan separuh populasi manusia mungkin terdengar praktis, tetapi tidak solutif. Karena selain terkesan putus asa, kita tidak memiliki Infinity Gauntlet untuk melakukannya tanpa pertumpahan darah.

Namun kita tidak perlu putus asa. Ialah usulan Sonny Mumbunan -peneliti senior di Research Center for Climate Change (RCCC) UI dan World Resources Institute (WRI) Indonesia- mengenai Ecological Fiscal Transfers (EFT) yang kiranya bisa menjadi alternatif solusi lebih mudah dan minim hambatan. 

EFT yang diajukan oleh Sonny Mumbunan juga lebih minim konflik jika dibandingkan dengan meregulasi sekian banyak industri penghasil emisi karbon, khususnya di sektor berbasis lahan seperti perkebunan dan kehutanan, dan tentu jauh lebih masuk akal ketimbang ide Thanos.

EFT yang diusulkan oleh Sonny Mumbunan dan kawan-kawan WRI Indonesia berupa mekanisme transfer fiskal dari negara kepada daerah-daerah berdasarkan luas tutupan hutannya.


Tujuannya secara garis besar adalah untuk mencegah deforestasi hutan. Logikanya, kalau emisi karbon belum bisa dibatasi secara optimal, setidaknya dengan hutan bumi kita masih mampu menyerapnya dan meniupkannya kembali sebagai udara kehidupan.

Hal tersebut sangatlah penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu jantung dunia. Perlindungan terhadap hutan Indonesia merupakan langkah strategis menjaga emisi karbon tetap rendah sehingga kenaikan suhu global tetap pada batas wajarnya.

Usulan mengenai EFT ini didasarkan pada kesenjangan bagi daerah-daerah dengan tutupan hutan yang luas. 

Kesenjangan tersebut sebab daerah-daerah tersebut tidak diperkenankan mengolah lahan tutupan hutan tersebut -untuk kebun sawit atau tambang misalnya- sehingga makin luas tutupan hutannya, makin sempit kesempatan untuk memanfaatkan lahan. 

Kondisi semacam ini membuat kemampuan fiskal daerah-daerah dengan tutupan hutan yang luas terpaut cukup jauh dengan kebutuhan fiskalnya. Di sinilah peran EFT menjadi sangat vital.

EFT juga rencananya akan dimasukkan dalam sistem Dana Alokasi Umum (DAU). Jika berhasil, maka daerah-daerah kaya hutan akan mendapatkan DAU lebih besar yang berakibat pada kemampuan mereka. 

Mekanisme EFT ini akan memberikan insentif yang cukup besar dan adil bagi daerah-daerah kaya hutan atas komitmen mereka menjaga jantung dunia.

Karenanya, usulan ini patut diperjuangkan sebagai langkah strategis sekaligus alternatif lain menjaga keseimbangan alam. Ah, seandainya para Avengers tahu, mungkin Iron Man dan Black Widow tidak perlu mengorbankan nyawanya demi melawan Thanos dengan niat mulianya!

Artikel Terkait