Sudahkah hari ini kamu menikmati pemandangan alam sekitar? Bagaimana perasaanmu? atau mungkin melalui hidup dengan kegiatan rutinitas, fokus satu arah sehingga tak sempat meluangkan sedikit waktu untuk itu? 

Keresahan diri akan partisipasi sebagai manusia yang hidup di alam tampaknya pernah setidaknya sekali kita sadari dan rasakan. 

Terdapat sebuah buku yang isinya seakan-akan mengajak untuk melihat alam secara menyeluruh, bahwa di sana ada banyak hal yang mungkin belum pernah kita temui. Buku tersebut berjudul WALDEN milik seorang filsuf naturalis Henry David Thoreau. 

Berdiri di bawah lengkungan pelangi, memancing ke Fair Haven melewati hutan, merasakan hembusan angin di sekitar danau Walden, melangkahkan kaki di sepanjang pantai yang ditumbuhi rumput lalu menemukan bangkai perahu, hingga memandangi kebun yang sangat luas.

Deskripsi-deskripsi tersebut bukan puisi, bukan kiasan, bukan khayalan megah tapi adalah pengalaman nyata saat Henry David Thoreau tinggal di dalam hutan Walden Pond selama dua tahun untuk eksperimen diri mendekati alam dan merenungkan tujuan akhir hidupnya.

Bagi Henry David Thoreau, "memikirkan kehidupannya di hutan adalah inti dari kehidupannya di hutan". Ia memahami alam semesta ini sebagai keseluruhan organik di mana pikiran dan materi tidak dapat dipisahkan.

Yang dimaksudnya adalah bahwa manusia tidak berdiri sebagai kesadaran tanpa tubuh yang terpisah dari dunia mekanisme mati. Sama seperti pada teori etika lingkungan hidup biosentrisme, alam ini mempunyai nilai pada dirinya sendiri yang mana manusia sering kali tidak sadar akan itu.

Memanfaatkan alam untuk kepentingannya sendiri secara berlebihan dan dengan sengaja menutup mata atas risiko-risiko terburuk yang akan terjadi di kemudian hari. Yang umum sering terjadi, seperti : banjir, tanah longsor, pencemaran udara, hewan-hewan kehilangan habitatnya dan sebagainya.

"... Karena ketamakan dan keegoisan serta karena kebiasaan mendarah daging yang menganggap tanah sebagai properti, atau alat untuk memperoleh properti, bentang alam menjadi rusak..." Walden (1854).

Kebakaran hutan yang sengaja dilakukan untuk perluasan wilayah lahan sawit oleh perusahaan asing di Papua pada tahun 2013, menjadi salah satu contoh nyata. 

Dikutip dari BBC, Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kala itu sangat serius untuk melakukan revitalisasi terhadap kerusakan alam yang selama ini dilakukan oknum perusahaan dalam negeri maupun luar negeri, malah dengan sengaja dirusak kembali oleh perusahaan asing demi meraup keuntungan mereka sendiri.

Dampak dan kerugian yang akan dirasakan ketika terjadi kebakaran hutan :

  • Kehilangan wilayah hijau sebagai sumber oksigen dan sumber daya alam,
  • Asap polusi yang menganggu kesehatan masyarakat sekitar bisa menimbulkan penyakit hingga dapat menyebabkan banyaknya generasi muda yang seharusnya meneruskan bangsa meninggal,
  • Aktivitas sosial dan ekonomi terhambat,
  • Kondisi cuaca menjadi kering yang berpotensi menyebabkan titik apa sebelumnya sudah kecil kembali memicu kebakaran hutan dan lahan.
  • dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena di atas, manusia cenderung mengobjekkan alam sebagai sesuatu hal yang bisa digunakan terus menerus, sampai dimana mereka berada di titik 'ketamakan' seperti yang telah ditulis Henry David Thoreau pada buku Walden.

Adanya kewajiban yang harus manusia lakukan menurut teori biosentrime adalah kewajiban moral terhadap alam yang tidak bersumber dari kewajiban manusia terhadap sesamanya (pemenuhan kebutuhan hidup).

Pertimbangan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang bernilai. Tidak hanya kehidupan manusia tetapi juga kehidupan spesies lain. Melihat dan memperlakukan alam secara moral. 

Jika kalian pernah meminjam sesuatu milik temanmu, maka hal selanjutnya yang otomatis dilakukan adalah mengembalikan barang tersebut dalam keadaan baik seperti awal. 

Pada alam juga sama. manusia harus berusaha untuk mengembalikan apa yang sudah digunakan dari alam, baik dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Menerapkan prinsip untuk menjaga alam seperti itu merupakan keseimbangan dari hidup manusia.

Memulai dari hal-hal kecil, mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar yang mana kita hidup di sana. Bukan hanya untuk mencari tahu bagaimana cara memanfaatkannya tapi juga bagaimana keberadaan alam itu ada dan memiliki nilai dalam dirinya.

Memiliki keyakinan bahwa kita sebagai manusia tidak lebih unggul dari makhluk hidup lain yang ada di bumi ini, termasuk alam. 

Jika tidak ada pohon, kita akan kekurangan pasokan oksigen, hidup dengan udara panas terkena sengatan matahari secara langsung, tidak ada rumah bagi satwa liar, tidak bisa mendapatkan bahan baku tekstil, dan masih banyak lagi fungsi dari pohon.

Perlu diketahui bahwa alam ini begitu luas. Tidak hanya pohon, masih banyak lagi yang seperti telah dijelaskan di awal, banyak mungkin belum kita lihat secara nyata yang mana itu juga perlu dijaga. Karena kita sebagai manusia mendiami bumi yang sama dengan makhluk hidup lain.

"... musim dingin berikutnya, saya menggunakan tungku kecil demi berhemat, karena hutan bukanlah milik saya; tetapi api di tungku ini tidak menyala dengan baik sebagaimana di perapian terbuka..." Walden (1854).

Ada baiknya, kita menyediakan waktu khusus untuk membiasakan diri melakukan upaya dalam menjaga lingkungan hidup demi kelestarian alam yang mana akan membawa kita pada kebahagiaan.