Belakangan ini isu pelecehan seksual sedang marak diperbincangkan kembali. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa isu pelecehan seksual ini memang benar-benar butuh perhatian lebih dari masyarakat luas.

Pelecehan seksual sebenarnya tidak melulu dalam bentuk sentuhan fisik langsung. Ada bentuk pelecehan seksual lain yang tidak banyak orang sadari bahwa sebenarnya itu juga melecehkan. Salah satu bentuk pelecehan yang sering kali diabaikan yaitu komentar atau guyonan seksis.

Pelecehan seksual dalam bentuk komentar atau guyonan seksis bisa ditemui di mana saja, baik di ruang publik maupun di media sosial yang punya akses luas. 

Sebenarnya, bentuk pelecehan ini bisa terjadi kepada siapa saja. Meski begitu, tak dapat dielak lagi bahwa perempuanlah yang menjadi sasaran utama. Menganggap guyonan seksis hanya sebatas humor tidak serta-merta menjadikannya lebih bisa diterima.

Bukan Sekadar Lelucon

Pelecehan dalam bentuk guyonan memang ada dan nyata, bukan hanya di ruang publik, tapi juga di dunia maya. Namun sayangnya, guyonan seksis masih dianggap wajar oleh banyak orang karena dirasa lucu dan menghibur. Padahal, seharusnya pelecehan seksual dalam bentuk humor sekalipun tetap tidak bisa ditoleransi.

Sebuah penelitian dari Western California University menunjukkan bahwa orang yang kerap terpapar humor seksis dapat menyebabkan orang tersebut menoleransi perilaku memusuhi, merendahkan, dan mendiskriminasi perempuan.

Sama seperti bentuk guyonan lainnya, efek guyonan seksis itu juga tergantung pada kesesuaiannya dengan serangkaian cara pandang masyarakat. Jika banyak yang menganggapnya lucu, maka guyonan itu tetap lucu dan wajar walaupun merendahkan pihak lain. Nyatanya, humor yang merendakan sebenarnya berpengaruh terhadap target pendengar, yang umum dalam kasus ini adalah perempuan.

Jika dilihat lebih teliti, guyonan seksis ini juga dapat mencemarkan nama baik target. Namun, pencemaran semacam ini sering dianggap bebas dari niat prasangka jahat karena menggunakan embel-embel humor dan dimaksudkan untuk menghibur saja.

Jika guyonan seksis ini tetap dianggap menyenangkan dan dapat ditoleransi, maka ini akan semakin membuat pelecehan seksual menjadi hal lumrah. Pelecehan seksual dalam bentuk guyonan seksis yang dianggap lumrah akan semakin membuat martabat perempuan semakin rendah. Penindasan terhadap harkat dan martabat perempuan pun akan sulit berakhir.

Menganggap guyonan seksis sebagai hal biasa sangatlah salah. Jika pelecehan itu dianggap lumrah, maka akan menimbulkan pemikiran bahwa korban pelecehan sebenarnya hanya terlalu terbawa perasaan berlebihan saja. Bayangkan, bila seorang perempuan merasa benar-benar dilecehkan, namun orang di sekitarnya malah hanya menenangkan dia dengan mengatakan bahwa itu hanya bergurau tanpa ada maksud serius.

Ironi seperti ini disebabkan oleh krisis identitas gender. Gender para partisipan (kebanyakan masyarakat) mempengaruhi cara pandang mereka terhadap guyonan seksis. Kebanyakan dari mereka akan mudah menerima bentuk lontaran pelecehan seperti ini karena ada cara pandang tertentu yang mereka punya terhadap sebuah golongan.

Tiada ada rasa takut dan gelisah akan sanksi atau hukuman yang akan diterima, itulah alasan mengapa humor digunakan sebagai tameng atas pernyataan-pernyataan seksis mereka terhadap suatu gender. Setiap prasangka yang sudah mereka bangun, dengan bebasnya diekspresikan tanpa segan.

Sungguh banyak contoh ucapan dan guyonan dalam percakapan sehari-hari yang termasuk dalam kategori pelecehan secara verbal ini. Meskipun banyak, namun tetap dianggap biasa karena dinilai hanya sebatas humor belaka. Padahal ucapan atau candaan yang melecehkan bisa muncul dari pikiran atau perilaku individu yang seksis.

Menurut Sakdiyah dalam akun twitter UN Women Indonesia, guyonan seksis mungkin tidak terlihat membahayakan namun pada kenyataannya, guyonan seksis pun menciptakan lingkungan yang tidak aman untuk perempuan dan bahkan bisa mendorong perilaku kekerasan seksual terjadi.

Thomas E.Ford, Professor of Social Psychology Western California University, pun mempunyai anggapan yang sama dengan Sakdiyah. Ia menyampaikan bahwa sejumlah peniliti melihat bahwa laki-laki yang terbiasa dengan paparan guyonan seksis dan menoleransinya akan cenderung melakukan kejahatan seksual terhadap perempuan.

Humor soal pemerkosaan yang dianggap biasa akan membentuk suatu budaya pemerkosa (rape culture). Budaya ini mendukung kekerasan terhadap perempuan, di mana perempuan dilihat sebagai obyek dan komentar serta lelucon seksual yang mendiskriminasi dan menyakitkan dianggap lucu.

Akhiri Guyonan Itu

Hasil survei dari  Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyatakan, 64% dari responden perempuan pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik dan 7% diantaranya dalam bentuk komentar atau guyonan seksis. Riset yang dilakukan oleh firma keamanan digital, Norton, pun mengungkap bahwa 76% dari 1.000 reponden perempuan pernah mengalami pelecehan seksual secara online dalam bentuk teks, komentar, maupun gambar.

Angka-angka yang terpampang diatas bukanlah jumlah yang kecil. Bahkan ada kemungkinan untuk semakin beranak pinak jika kesadaran dan empati kita sebagai sesama manusia masih kurang. Tidak peduli jenis kelaminnya, berasal dari darimana, atau berapa umur sesorang, kesetaraan harus tetap ditinggikan.

Guyonan seksis sebagai salah satu bentuk pelecehan verbal, menjadi hal paling kurang bisa diperhatikan. Mungkin saja karena bentuk kalimat atau kata yang mengisyaratkan pelecehan seksual secara verbal itu memang sangat banyak, sehingga membuat malas untuk mengingatnya dan bahkan membuat seolah jadi tidak ikut merasakan bahkan tak ada untungnya jika bertindak.

Meski mungkin hanya sekedar humor atau lelucon, namun ada waktunya humor dan lelucon itu tidak dianggap menjadi lucu lagi. Apalagi bila humor tersebut sudah melampaui batas dari etika dalam bermasyarakat, ya walaupun tidak tertera dalam peraturan maupun undang-undang hukum.

Ironi menjadikan perilaku seksis menjadi sebuah humor akan sulit berakhir, jika hal itu masih dianggap wajar, tidak ada maksud tertentu, atau bahkan masih ditertawakan bersama. Ingat, pelecehan seksual tidak selalu tentang kontak fisik. Mulut dan jari kita pun bisa dengan mudah melakukan pelecehan itu.

Peka, kendalikan, dan berpikir kembali sebelum memberikan komentar, entah secara lisan maupun tulisan. Guyonan mungkin terlihat sepele, namun punya dampak besar terhadap si penerima. Jika masih ditertawakan, kapan guyonan seksis yang melecehkan ini akan berakhir?

Memang akan sangat sulit untuk menimbang dan menangkal budaya guyon seksis ini. Namun, masih tetap ada cara lain untuk setidaknya meminimalisir agar guyonan tidak terkesan melecehkan.

Cara untuk menghindari dan menghentikan guyonan yang seksis adalah dengan menjauhi circle pertemanan yang sering sekali mengguraukan hal-hal seksis atau seksual. Jika sudah mengingatkan, namun tetap sama, maka circle seperti itu haruslah dihindari.

Cara lain yang lebih mudah yang datangnya dari diri kita sendiri adalah, dengan berhenti merespons nyaman pada guyonan semacam itu. Sebagai korban guyonan seksis, harus berani untuk menunjukkan rasa atau respon tidak nyaman. Agar mereka yang melecehkan bisa mulai menyadari apa yang salah.

Cara paling mendasar adalah mengedukasi. Edukasi sedari dini dari orang sekitar, terutama keluarga sangatlah penting. Bahkan seorang anak kecil harus tahu hal-hal yang dianggap tabu seperti isu ini. Anak-anak harus diberi pengertian apa yang benar dan tidak tentang diri mereka sendiri, dan juga gender lain. Agar mereka bukan hanya bisa melindungi diri sendiri, tapi juga orang lain.