“Wah, kalau kalian semua jadi Youtuber, yang akan menghasilkan uang siapa dong?”

Teman saya bercerita sambil tertawa lepas. Kami sedang makan siang bersama. Dia baru saja pulang dari liburan di kampungnya. Katanya, ketika acara kumpul keluarga, semua keponakannya yang jumlahnya lebih dari 20 orang itu cita-citanya seragam. Kepingin jadi Youtuber. 

Saya tersenyum geli mendengarnya. Kebetulan kedua anak saya juga waktu ditanya cita-citanya kurang lebih jawabannya sama. Jadi Youtuber.

Kenapa demikian? Konon potensi penghasilannya cukup fantastis. Menurut data hitung-hitungan di berbagai media, Baim Wong yang merupakan Youtuber terkaya di Indonesia katanya penghasilannya mencapai Rp 13 miliar per bulan. Ryan Kaji, bocah Amerika yang berusia 8 tahun adalah Youtuber dengan penghasilan terbesar di tahun 2019. Penghasilannya? Satu miliar rupiah per hari.

Pekerjaan ini memang terlihat mudah. Dengan modal handphone dan sedikit editing, Anda sudah bisa mengunggah video di Youtube, dan voila! Anda resmi jadi Youtuber. 

Youtuber reviewer kuliner dengan tagline “Ikan hiu makan tomat” adalah salah satu contoh. Bermodalkan kamera seadanya, kemampuan berpantun ngasal yang diramu dengan deraian makian berbahasa lokal, beliau ternyata sukses mengocok perut netizen. Viral!

***

Namun apakah benar semudah itu?

Menurut data yang dirilis oleh Youtube pada bulan Oktober 2020, setiap menit perusahaan ini mendapatkan 500 jam konten baru yang berasal dari 31 juta channel. Jika Anda iseng ingin menonton semua konten tersebut, maka Anda akan butuh kurang lebih 80 tahun hanya untuk menonton semua konten yang diunggah di hari itu saja.

Dengan persaingan yang luar biasa ketat, tentu tidak mudah bagi pemula untuk mendapatkan uang dari Youtube. Anda baru bisa mendapatkan uang dari Youtube apabila banyak orang yang menyaksikan video Anda. Upahnya kurang lebih US$ 3 - 5 per 1000 tayangan. 

Ya, Rp 70.000-lah kira-kira. Lumayan buat ngopi. Kalau video Anda mencapai 1 juta tayangan, maka angka tadi tinggal dikali seribu. Rp. 71 juta. Lumayannya sekarang pake banget.

Masalahnya, untuk mencapai angka sekian itu tentu tidak mudah. Mungkin Anda bisa minta semua kenalan Anda untuk menonton video Anda, lalu meminta kenalan mereka juga untuk menonton video Anda lewat media sosial. Mirip MLM-lah. Tapi iya kalau mereka mau. Teman-teman kita ini, kan, kadang hanya iya-iya saja, tapi belum tentu melakukan apa yang dijanjikan. 

Oke, cara lain. Mungkin Anda bisa pake fasilitas iklan. Tapi, kan, bayar lagi. 

Beberapa situs yang menawarkan tips sukses untuk menjadi Youtuber rata-rata menganjurkan hal yang sama. Buatlah video secara berkala, dan lakukan dengan konsisten. Tetaplah di bidang yang sama. Kalau Anda senang video memasak, buatlah channel memasak. Kalau Anda senang membuat video review film, channel Anda sebaiknya tentang itu. Bangun brand Anda.

Contohnya PewDiePie. Ini adalah nama beken Felix Kjellberg, anak muda asal Swedia yang merupakan Youtuber tersukses di dunia. Dia memulai Youtube channel-nya pada tahun 2010. Setahun kemudian, PewDiePie berhasil mendapatkan 2500 subscribers setelah mengunggah 100 video. 

Semua videonya secara konsisten menampilkan PewDiePie bermain video game. Pada masa itu, tak ada orang yang membuat video semacam ini. Namun PewDiePie sukses membawa pemirsa menonton aksinya bermain video games, layaknya kita yang dulu berbondong-bondong menonton tetangga bermain Mario Bros. Dia berhasil membuat genre baru di Youtube.

Berkat kekonsistenannya, personal brand PewDiePie terus berkembang dan YouTube Channel-nya terus mendapatkan subscriber. PewDiePie lalu menjadi orang pertama yang memiliki 100 juta subscriber. Penghasilannya diestimasi sekitar delapan juta dolar per bulan.

Namun tidak semua kisah seindah itu. Pernah dengar Youtuber bernama Logan Paul? Di penghujung tahun 2017, Logan ke hutan Aokigahara di Jepang yang juga dikenal sebagai Suicide Forest. Seolah menegaskan julukan hutan ini, secara kebetulan Logan menemukan jasad seseorang yang tergantung di pohon. Bukannya menghentikan video, dia malah zoom sana sini dan lalu mengunggah video ini ke channel Youtube-nya. 

Penontonnya langsung banyak, dan video ini langsung masuk ke Top 10 minggu itu. Tapi Logan kena semprit oleh Youtube. Partnershipnya dicabut, iklan-iklan dihentikan. Penghasilannya pun menurun drastis. 

Lalu ada saudaranya Logan, Jake Paul. Tak kalah kontroversial, Jake sering menayangkan konten video yang dianggap berbahaya. Misalnya mengendarai mobil dengan mata tertutup, atau membakar berbagai perabot di kolam renang kosong di rumahnya. (Apinya membumbung lebih tinggi dari rumah dan membuat tetangga seluruh komplek ketakutan. Walhasil polisi lalu dipanggil).

Tidak sedikit Youtuber sukses semacam ini yang akhirnya malah depresi. Mereka melakukan hal-hal aneh dan berbahaya demi mengejar view dan iklan. Kehabisan ide untuk konten, malah terjebak dengan aksi kontroversial dan tak etis, lalu ujungnya kena sanksi. Atau malah berurusan dengan polisi. 

Di sisi lain karena banyaknya pemirsa, maka perusahaan besar pun melirik Youtube. Perusahaan-perusahaan ini tentunya punya sumber daya yang jauh lebih banyak daripada Youtuber perorangan. Mereka mampu beriklan dengan masif, menyewa artis top, dan punya tim produksi yang bekerja khusus untuk produksi video. 

Contohnya 5-Minute-Craft yang fokus pada tips dan trik untuk kehidupan sehari-hari. Total view-nya mencapai 18 miliar. Atau perusahaan seperti Vevo yang fokus pada video musik artis papan atas. Tak sulit bagi mereka untuk meraup 500 juta view. 

Dengan tim produksi yang besar, ide-ide konten pun mengalir dengan deras. Tak perlu menempuh jalur kontroversial. Atau depresi. Tentu berbeda dengan Youtuber amatiran yang butuh waktu lama untuk mendapatkan 1000 view pertama mereka. Mereka semua harus bersaing di lahan yang sama dengan perusahaan-perusahaan ini.

***

Kembali ke cerita saya di awal tadi. Kalau begitu apakah salah jika kawula muda tergiur untuk untuk menjadi Youtuber? Ya jelas tidak. Itu sah-sah saja. Banyak yang sudah membuktikan bahwa Youtube bisa menjadi sumber penghasilan yang mumpuni.

Namun, profesi Youtuber bukanlah jalan tol menuju kesuksesan. Tidak seindah ongkang-ongkang terus duit mengalir. Walau terlihat mudah, sesungguhnya para Youtuber itu harus bekerja keras untuk mencapai kesuksesan. Sama saja dengan profesi lain, atau,…yah, mungkin malah harus lebih keras lagi.  

Teman saya tadi bertanya pada para keponakannya, anak-anak muda belasan tahun itu “Jadi siapa di antara kalian yang mau jadi pengacara atau dokter?”

Kompak mereka menggeleng. “Kami mau jadi Youtuber terkenal!”

Ah, semoga saja mereka nanti tabah menghadapi kenyataannya kerasnya kehidupan Youtuber pemula. Seperti istilah anak muda jaman sekarang, “Tidak semudah itu Fulgoso!”