2 tahun lalu · 174 view · 3 min baca · Agama 31872.jpg
ilustrasi google image

Menjadi Tuhan di Era Millennial

Era millennium ditandai dengan berkembang pesatnya sains dan tekhnologi. Abad ke-20 menjadi awal dimulainya era ini. Kemajuan sains ditandai dengan manusia yang mampu menembus tata surya, meneliti genetika bahkan merekayasa penciptaan. Hal ini pun terjadi dalam dunia komunikasi. Tidak ada batasan lagi dalam kehidupan bersosial manusia. Ras, suku, agama yang berbeda tidak lagi menjadi penghalang dalam kehidupan sosial masyarakat dunia.

Tidak hanya bersosialisasi, pertukaran informasi pun begitu cepat terjadi. Untuk masyarakat timur, tidak perlu menunggu 1x24 jam untuk mengetahui kabar dari belahan barat bumi. Cukup dalam hitungan detik, orang-orang millennial bisa mengetahui informasi terbaru. Karena kemampuan untuk berinteraksi dengan banyak orang di belahan mana pun di bumi, kini semain maju.

Hal ini memang seperti dua mata pisau, bisa digunakan untuk memotong sekaligus juga memutilasi. Ketika kemampuan menyebar informasi dibarengi dengan pengetahuan yang mumpuni, maka jadilah tekhnologi informasi sebagai mata pisau yang digunakan untuk memotong daging.

Tetapi sebaliknya, ketika tidak dibarengi dengan pengetahuan yang jauh dari mumpuni, justru kemajuan tekhnologi informasi ini seperti pisau daging yang digunakan untuk memutilasi tubuh manusia. Satu hal yang tidak akan pernah dilakukan oleh manusia waras mana pun di bumi ini. Tidak sedikit dalam 1x24 jam, berita hoax yang beredar.

Sayangnya, hal seperti ini merambah ke ranah agama yang menjadi salah satu hal sangat sensitif dalam kehidupan manusia. Terjadi atau tidak di kalangan pemeluk agam lain, justru di kalangan pemeluk agama Islam hal ini cenderung tidak terbendung.

Menggunakan kemajuan tekhnologi tanpa pengetahuan agama yang mumpuni. Kemajuan tekhnologi informasi yang digunakan sebagai media dakwah, sangatlah tepat. Karena sebagian besar umat muslim, khususnya di Negara kita ini, menikmati fasilitas yang disediakan oleh kemajuan tekhnologi informasi.

Dakwah melalui sosial media, salah satu contoh kemajuan tekhnologi, saya ibaratkan seperti pisau daging yang digunakan untuk memotong daging. Efektif dan efisien, tepat sasaran dan sesuai, tidak melanggar fungsi dari sosial media tadi. Banyak orang yang awalnya tidak tahu, menjadi tahu. Mereka yang awalnya awam, menjadi paham. Mereka yang awalnya jahil, menjadi alim. Bahkan mereka yang awalnya thalib, bisa tiba-tiba menjadi ustadz, kiyai, bahkan ‘Tuhan’.

Saya katakan demikian, karena tidak semua yang berdakwah melalui sosial media benar-benar faham dan mempunyai pengetahuan yang mumpuni di bidang agama. Semangat mereka yang menggebu-gebu justru membawa kemunduran bagi kemajuan dakwah yang telah puluhan atau ratusan tahun dibangun oleh ulama terdahulu.

Tidak jarang, orang yang menggebu-gebu dalam berdakwah, namun minim dalam ilmu amaliah, malah menciderai nilai dakwah itu sendiri. Sedikit banyak, mereka menyalahkan orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka dalam hal pandangan beragama. Lebih dari itu, tidak sedikit yang berani mengkafirkan sesama saudaranya yang muslim.

Tidak sedikit dari mereka yang berani mengatakan bahwa A versi orang lain adalah salah, dan A versi mereka adalah versi yang paling benar. Lebih dari itu, mereka seolah-olah menjadi ‘Tuhan’, yang berani mengatakan bahwa A versi orang lain tidak sah, tidak akan diterima Tuhan, bahkan akan berujung pada neraka jahanam.

Mereka yang seperti itu seperti mengambil hak prerogatif yang dimiliki oleh Tuhan. Mereka berbicara kebenaran Tuhan yang kemudian mereka konversikan hanya dalam melalui sudut pandang mereka. Hal ini tentu sangat mengerikan.

Jika dulu seorang ulama harus berjalan berkilo-kilo meter untuk menuntut ilmu pada guru mereka, lalu berpikir ribuan kali, melakukan istikharah bermalam-malam untuk menentukan satu perkara, itu tidak terjadi saat ini. Sekarang, siapapun bisa mengakses dalil-dalil agama melalui internet, tanpa perlu mencari penjelasan dari seorang guru, lalu dapat mengatakan pada orang lain bahwa yang biasa dilakukan orang adalah salah dan jauh dari koridor agama.

Hal inilah yang perlu dikhawatirkan oleh semua orang. Perlu dikhawatirkan karena dapat memecah persatuan ummat itu sendiri. Semangat yang menggebu-gebu tanpa pengetahuan yang mumpuni, yang akhirnya menajamkan perbedaan yang sudah lama dibuat indah, menjadi perpecahan yang diinginkan satu kelompok lain.

Untuk menutup tulisan ini, penulis ingin mengutip salah satu kutipan yang sempat menjadi viral. Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan mereka berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar. Manusia hanya perlu bekerja, berlaku baik, dan terus beramal baik seperti yang Allah perintahkan dalam Surat At Taubah ayat 105:

Dan katakanlah “bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga dengan Rasul-Nya dan orang-orang yang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” . Wallahu a’lam.

Artikel Terkait