“Kaaak, tolong kuncirin rambutku.” Bagas, anak laki-laki berusia 7 tahun itu tiba-tiba menghampiri dan meminta rambutnya dikuncir. Ia anak Bu Kos satu-satunya. Sangat cerdas dan periang, hampir tidak bisa diam dan terus bermain. Kupenuhi permintaannya tersebut meski agak sulit menguncir rambut yang pendek. Setelahnya Ia menghampiri Ibunya dan berkata, “Bu liat! Cantik kan aku!” Ibunya menjawab dengan suara agak keras, “Halah! Jelek kayak cewek, lepasin kuncirnya.”

Mendengar ungkapan Bagas yang spontan itu membuat saya terdiam dan berpikir tentang bagaimana Bagas melihat dirinya. Saya hanya bisa tersenyum dan membatin, Bagas merasa dirinya cantik. Namun saya agak kecewa mendengar respon Ibunya yang tidak menjelaskan apa-apa dan hanya mengungkapkan pelarangan. Cara mendidik anak yang umum kita temukan dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari dan saya tahu Ibunya pasti mengkuatirkan sesuatu.

Di lain waktu, seperti biasa semua orang dirumah kos saling berinteraksi dan juga sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sibuk dengan gadgetnya sendiri, menonton TV di kamar, atau saling menyapa setelah pulang dari bekerja. Saya menyapa Bagas setelah pulang dari makan di luar, “Woii... Udah makan belum, Gas?”

Bagas merespon setiap interaksi dari orang-orang di sekitarnya dengan pembawaan yang riang. “Udah dong! Ini perutku udah gede.” Jawabnya sambil mengelus perutnya dan menunjukkan kalau dia sudah makan dan sudah kenyang.

“Hahaha, apaan tuh isinya. Makan apa tadi?” Saya bertanya lagi dengan maksud ingin tahu Bagas makan apa. Tapi jawabannya lagi-lagi spontan dan mengejutkan, “Isinya adek bayi dong!” Sambil tertawa Bagas menjawab pertanyaan saya dan dengan lugu saya balik bertanya, “Hah? Emang Bagas bisa hamil?” “Bisa dong!”, jawabnya lagi.

Saya terdiam kebingungan sambil berpikir agak keras harus menjawab apa lagi, “Hehehe, Bagas kan masih kecil. Kalau udah gede, baru deh nanti tahu bisa hamil atau tidak.” “Iya, kalau udah gede Bagas bisa punya adek bayi di sini (perutnya). Sekarang masih kecil jadi gak bisa,” jawabnya lagi.

Matilah saya. Saking bingungnya, saya menjawab dengan jawaban yang salah. Saya bermaksud ingin memberitahu Bagas jika kehamilan terjadi pada orang yang sudah dewasa. Namun ungkapan-ungkapan yang mengarah pada perbedaan identitas gender ini sering sekali saya dengar. Tapi saya belum berani menyimpulkan bahwa Bagas adalah seorang transgender bahkan sejak Ia masih kecil. Meski hal itu mungkin saja terjadi.

Bagas juga sering sekali mengatakan bahwa dirinya perempuan. “Aku kan cewek! Aku kan cewek!”, saya sering mendengar itu ketika Ia bermain dengan teman-temannya. Namun keluarga dan orang-orang di sekitarnya menekankan jika Bagas adalah laki-laki. Keesokan harinya ketika saya bertanya tentang kuncir rambutnya yang sudah dilepas itu Ia menjawab, "udah dilepas, kata Ibu aku kayak cewek, kan aku cowok."

Mungkin Bagas sendiri justru belum paham bagaimana memaknai identitas laki-laki maupun perempuan, serta kenapa Ia merasa dirinya perempuan dan keluarganya mengatakan Ia adalah laki-laki.

Ada satu kejadian yang sebetulnya bisa menjawab keheranan saya pada peristiwa-peristiwa tersebut. Suatu ketika Ibunya bercerita, saat Bagas masih dalam kandungan dan diperiksa melalui USG, jenis kelamin Bagas teridentifikasi sebagai bayi perempuan. Setelah melihat hasil USG tersebut, orang tuanya langsung membelikan baju dan mainan yang serba bercirikan perempuan. Dari model hingga warna yang mayoritas pink.

Hingga Bagas lahir, pakaian dan mainan yang sudah terlanjur dibeli tetap dipakai meski akhirnya dipilah-pilah lagi. Membeli pakaian dan mainan yang berbeda dari sebelumnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk orang tua Bagas.

Bagi saya, ini adalah satu contoh di antara sekian peristiwa pengalaman langsung yang terjadi di masyarakat. Bahwa kejadian seperti cerita Bagas memang terjadi dan ada disekeliling kita. Tapi, apakah kita harus mendidik anak dengan cara-cara kekerasan tanpa menjelaskan apapun? Apakah kita harus menjadi orang tua yang tidak memberi kesempatan pada anak untuk mengenali dirinya sendiri?

Pada akhirnya, ketika anak kita sudah besar dan bisa memilih menjadi dirinya sendiri, kita hanya bisa mendukung pilihan tersebut. Belajar untuk mengabaikan segala kebisingan yang terjadi diluar sana. Menjadi orang tua dan keluarga yang benar-benar hadir untuk anaknya.

Sebagai masyarakat yang menemukan peristiwa tersebut, saya justru semakin belajar tentang apa itu identitas gender. Sesuatu yang ternyata bisa teridentifikasi sejak kecil dan bukan sebuah tren yang biasa dituduhkan oleh masyarakat akhir-akhir ini.

Saya juga tidak akan terburu-buru menyimpulkan apakah Bagas nantinya memang tumbuh menjadi seorang transgender perempuan. Saya lebih memilih menjadi masyarakat yang memberi kesempatan pada anak-anak untuk menjadi diri mereka sendiri. Mendukung dengan rendah hati dan memberikan perlakukan yang baik - agar mereka tidak merasa menjadi individu yang diperlakukan berbeda.

Seandainya Bagas memang tumbuh menjadi seorang transgender perempuan dan menjalani masa-masa transisinya ketika sudah dewasa, saya jelas akan mendukung pilihannya tersebut dan bercerita kepadanya, betapa lucu dan cerdasnya Ia ketika masih kecil. Ia bahkan sudah bisa memahami identitas dirinya.

(Ditulis dari inspirasi cerita nyata. Tulisan yang bergaris miring diambil dari dialog aslinya)

 


trans·gen·der

/transˈjendər,tranzˈjendər/

adjective: transgender; adjective: transgendered

Transgender is an umbrella term for persons whose gender identity, gender expression or behavior does not conform to that typically associated with the sex to which they were assigned at birth.