Akhir-akhir ini, kita sering di hadapkan dengan emosi negative. Emosi-emosi tersebut muncul dari hal sederhana seperti rasa susah, marah, khawatir, sedih, kecewa, iri hati, cemas, kaget dan lain-lain. Kadang penyebab dari emosi-emosi itu datang dari pikiran/persepsi kita yang terjadi di luar kendali kita (eksternal).

Ngomong-ngomong tentang emosi, masih banyak yang masih bingung ketika di tanya emang emosi itu apa? Nah sebelum kita lanjut, biar saya beritahu apa itu emosi ? Yok simak dulu…

Kata emosi berasal dari bahasa latin yang artinya adalah bergerak. Kalau dalam bahasa Inggris emosi itu emotion. Kenapa dinamakan emotion? Karena kata motion artinya bergerak. Arti kata ini menunjukan bahwa emosi itu punya andil mendorong manusia untuk melakukan sesuatu. Tanpa emosi manusia tidak akan terdorong untuk melakukan sesuatu baik itu hal simpel seperti makan atau yang kompleks seperti bekerja.

Emosi adalah pola reaksi kita terhadap sesuatu kejadian yang spesifik. Dalam hal setiap ada kejadian tertentu yang cukup spesifik pola reaksi kita cenderung bakalan sama.

Di sekitaran kita, emosi yang dialami oleh generasi Z memiliki banyak sebab semisalnya nih, “Kalau kamu di putusin sama si doi, kamu bakal ngerasain emosi sedih. Atau pacar  salah sebut nama mantannya terus kamu ngerasain emosi marah”. Nah ini sifatnya universal, artinya semua orang cenderung bakal bereaksi sama kalau lagi di picu sama suatu emosi.

Perlu di ingat, walaupun semua orang mempunya emosi dan reaksi yang cukup serupa bukan berarti perilaku yang dilakukan bakalan sama. Why? Karena emosi juga dipengaruhi oleh pengalaman, latar belakang, dan budaya.

Selain emosi ada juga namanya mood dan perasaan. Pasti pada bingung kan? apa perbedaan emosi, perasaan dan mood?. Nih, bedanya kalau emosi itu reaksi spontan terhadap suatu rangsangan dari luar kendali kita (eksternal), yang hanya bertahan beberapa detik atau sebentar.

Misalnya ada ibu-ibu yang bawah motor terus lampu sennya ke kiri tapi ibu-ibunya belok ke kanan nah terus dari belakang pengendara lain kaget karena hampir menabraki ibu-ibu tadi. Kaget ini cuman sebentar beberapa detik habis itu ya udah reaksinya berlalu.

Tapi, ketika kita merasakan suatu emosi yang berhubungan sama pengalaman kita, munculah perasaan. Perasaan diartikan sebagai tindakan yang kita lakukan dengan penuh kesadaran. Sementara  mood adalah campuran emosi dan perasaan yang bisa bertahan lama, misalnya selama beberapa menit, jam bahkan berhari-hari. Biasanya bukan muncul karena satu kejadian saja.

Emosi ini ada di setiap aspek dalam kehidupan kita, salah satu contohnya nih mau ke kampus terus kena macet dan saat itu kita merasakan emosi marah, dan emosi takut karena terlambat. Dan masih ada banyak kejadian-kejadian lain.

Saya pernah membaca bukunya Hendri Manampiring yang mengutip nasihat dari Marcus Aurelius yang menyatakan “jika kamu bersusah hati karena hal eksternal, perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan, kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapan pun juga.”

Kutipan di atas sebenarnya memberitahukan kita, bahwa kita punya kekuatan untuk mengubah emosi yang kita hadapi kapan pun juga!. Dan kita sebenarnya dapat mengubah pikiran/persepsi kita (tanpa harus mengubah kejadian yang terjadi di luar kendali kita “eksternal”).

Kita sebenarnya memiliki kendali terhadap rasa cemas, khawatir, takut dan emosi-emosi negatif lainnya, dengan cara kita bisa mengendalikan interpretasi secara aktif. Dan kita bisa menginterpretasi suatu kejadian secara rasional. Jika tidak menggunakan nalar kita tidak ada bedanya dengan binatang.

Emosi-emosi ini dapat kita kendalikan. Stoikisme mengistilahkan sebagai dikotomi kendali seperti kata Epictetus “Some things are up to us, some things are not up to us.”  Prinsip ini disebut “dikotomi kendali” (dichotomy of control). Bisa dibilang, semua Filsuf Stoa sepakat dengan prinsip fundamental ini, bahwa ada kejadian-kejadian di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak bisa dikendalikan.

Dalam filosofi teras interpretasi kita akan suatu kejadian tidak harus terjadi secara spontan tanpa mengantisipasi terlebih dahulu. Jikalau diinginkan, sebenarnya kita mampu memeriksa suatu kejadian dan kemudian memberikan keputusan makna apa yang ingin kita lakukan atau berikan.

Untuk mengendalikannya, ada beberapa tips hih dari Hendri Manampiring dengan istilah akronim S-T-A-R. Langkah-langkah yang bisa di ambil saat kita mulai merasa emosi negatif semisalnya (sedih, baper, frustrasi, putus asa, mau mengamuk dan lain-lain) dapat disingkat dengan S-T-A-R yang di mana kepanjangan STAR adalah (Stop, Think & Assess, Respond).

Pasti pada penasaran kan STAR itu kek gimana sih. Yok langsung aja nih kita bahas satu persatu.

STOP (berhenti)

Ketika kita merasakan emosi negatif, secara sadar kita harus berhenti dahulu. Jangan kita terlalu ralut dalam perasaan tersebut. Anggap saja kita berteriak “time out!” dalam hati aja deh. Cara ini bisa dilatih dari semua emosi negatif begitu mulai merasakan, seperti takut, khawatir, marah, cemburu, curiga, stres, sedih frustasi dan lain-lain.

Walau kadang terdengar aneh atau mustahil untuk “menghentikan” emosi yang selama ini muncul begitu spontan. Hemat Hendri Manampiring dari pengalamannya ini sangat bisa dilakukan. Semakin sering kita dilakukan, akan menjadi lebih efektif melakukannya.

THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai)

Sesudah menghentikan proses emosi sejenak, sebisanya aktif berpikir. Memaksakan diri untuk berpikir secara rasional saja sudah mampu mengalihkan kita dari kebebasan untuk menuruti emosi. Kemudian mulailah menilai (assess), apakah perasaan saya ini bisa dibenarkan atau tidak? Apakah kita telah memisahkan fakta objektif dari  value judgement kita sendiri? Bertanya pada diri sendiri. “

Apakah emosi saya ini terjadi karena suatu yang di dalam kendali saya atau di luar kendali saya?” contohnya nih terkena macet yang tidak biasanya. Ini di luar kendali kita, why? toh ngamuk-ngamuk tidak bisa mengubah situasi.

RESPOND

Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati situasi, barulah kita memikirkan respons apa yang akan kita berikan. Respons bisa dalam bentuk ucapan atau tindakan.

  • Karena pemilihan respons tersebut datang sesudah kita memikirkan situasinya baik-baik, diharapkan ucapan dan tindakan respons ini adalah hasil pengginaan nalar/rasio yang sebaik-baiknya, dengan berprinsip bijak, adil (fair), menahan diri (tidak terbawa perasaan/emosi), dan berani (courage).

Kerangka STAR ini bisa dipakai di situasi apapun. Yah APA PUN. Tidak ada keadaan yang terlalu berat sampai kita tidak mampu mengendalikan interpretasi pribadi.

Kapan kita tahu kita harus melakukan STAR? Begitu kita merasakan adanya emosi negatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Seperti kampus, pacaran, karier, bisnis, keluarga, jalan raya dan lain-lain, rasanya tidak ada skenario hidup apa pun yang tidak bisa merasakan manfaat kerangka S-T-A-R ini.

Memberikan diri kita kesempatan untuk berpikir rasional hampir selalu lebih baik dibandingkan terus menerus membiarkannya ditarik ke sana kemari oleh emosi.

Maka dari Discourses, epictetus said, “jangan biarkan peristiwa yang ada dalam pikiran (di depanmu) menggoyahkan dirimu. Katakanlah (kepada kejadian itu), tunggu dulu; biar saya memeriksamu sungguh-sungguh. Saya akan mengujimu terlebih dahulu” dan inilah yang dimaksud teknik STAR.

Kita bisa menjadikan disiplin STAR ini menjadi kebiasaan sehat. Maybe pada awalnya pasti terasa menantang, apalagi selama bertahun-tahun hidup dengan emosi yang sangat reaktif dan spontan terhadap apa pun yang menimpa hidup kita.

Menurut banyak penelitian, kemampuan mental kita memang mirip dengan otot. Kebiasaan kita dalam berpikir bisa dilatih semisalnya nih mengangkat barbell atau lari maraton. Semakin sering dilatih, maka semakin kuat (strong dong).

So, be consistent for your mental health.