Lecturer
3 tahun lalu · 816 view · 5 menit baca · Perempuan 2222466851_581e6ae5f6_z-1.jpg

Menjadi Perempuan Bagi Kartini

Setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini. Pada hari itu tahun 1879, telah lahir seorang pahlawan bagi kaum perempuan yang dalam perkembangan jaman, dimana pun di seluruh dunia, sering dinomorduakan. Dialah Raden Ajeng Kartini yang sontak menggegerkan pemerintah kolonial Hindia Belanda karena perjuangannya melawan diskriminasi terhadap kaumnya.

Belanda bingung, mengapa seseorang yang dibesarkan oleh kultur budaya patriarki dan berada dibawah jajahannya, bisa memiliki pemikiran semodern itu? Tapi, itulah Kartini.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

Kebanyakan definisi-definisi feminisme berpusat pada tuntutan kesetaraan jenis kelamin. Akan tetapi, definisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kekayaan dan luasnya cakupan pemikiran yang ditawarkan feminisme. Isu-isu kesetaraan dan persamaan hak bukanlah merupakan satu-satunya perhatian dalam ideologi yang satu ini.

Istilah feminisme selama ini sering menimbulkan prasangka, stigma dan stereotype akibat dari kurangnya pemahaman mengenai arti sesungguhnya dari kata ini. Di Indonesia, sejarah perjuangan kaum feminis telah dimulai sejak abad 18 oleh RA Kartini melalui upaya pemenuhan hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Karena itu, apabila dikatakan Kartini terpengaruh ide-ide feminisme, saya cenderung sependapat. Tapi apakah Kartini sepenuhnya mengadopsi konsep feminisme an sich? Apa arti menjadi perempuan bagi Kartini? Kita akan lihat berikut ini.

Feminisme di Indonesia. Feminisme sebagai sebuah gerakan pada mulanya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi, sehingga perlu adanya usaha (gerakan) untuk mengakhiri dua hal tersebut.

Meskipun terjadi perbedaan pandangan antar feminis mengenai apa, mengapa dan bagaimana penindasan dan eksploitasi itu terjadi, namun mereka sepaham bahwa hakikat perjuangan feminis adalah demi kesetaraan, martabat dan kebebasan untuk mengontrol badan dan kehidupan kaum perempuan, baik di dalam maupun di luar rumah.

Feminisme bukanlah perjuangan emansipasi perempuan melawan kaum laki-laki —karena mereka juga sadar bahwa laki-laki (terutama kaum proletar) juga mengalami penderitaan yang diakibatkan oleh dominasi, eksploitasi serta represi dari sistem yang tidak adil.

Gerakan feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur yang tidak adil, menuju ke sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki. Dengan kata lain, hakikat feminisme adalah gerakan transformasi sosial, dalam arti tidak selalu memperjuangkan soal perempuan belaka.

Dengan demikian strategi perjuangan jangka panjang gerakan feminisme tidak sekadar upaya pemenuhan kebutuhan praktis kondisi kaum perempuan, atau hanya dalam rangka mengakhiri dominasi gender dan manifestasinya seperti: eksploitasi, marginalisasi, subordinasi, pelekatan stereotip, kekerasan dan penjinakan belaka, melainkan perjuangan transformasi sosial ke arah penciptaan stuktur yang secara fundamental baru dan lebih baik.

Feminisme Kartini sendiri adalah sebuah sintesis dari patriarki dan feminisme barat, yang kemudian diperkenalkan di Indonesia sebagai sebuah bentuk oposisi terhadap budaya dan otoritas politik (sebelum ada negara ketika itu) yang melakukan penindasan secara sistematis kepada kaum perempuan.

Feminisme Kartini penekanannya ada pada budaya “breakthrough” yang diperjuangkan beliau pada sebuah era dimana budaya patriarki dilegalkan baik oleh budaya (Jawa), maupun otoritas politik (pemerintahan Hindia Belanda).

Ia bergerak secara komunal, diawali oleh kapasitas individu. Bukan karena sifatnya yang feodal, tetapi karena perlunya pemahaman kolektif untuk mendobrak sebuah rezim yang diskriminatif.

Feminisme Kartini juga lebih menekankan pada tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai, menaikkan derajat perempuan yang kurang dihargai pada masyarakat Jawa, dan kebebasan dalam berpendapat serta mengutarakan pikiran.

Pada masa itu tuntutan tersebut, khususnya pada masyarakat Jawa, adalah lompatan besar bagi perempuan yang disuarakan oleh perempuan juga. Kartini, yang semasa hidupnya dibesarkan oleh kebiasaan-kebiasaan feodal karena berasal dari kalangan priyayi dan berayahkan seorang Bupati, sudah memiliki courage untuk stand up melawan budayanya sendiri, bahkan jamannya. Itu arti perempuan baginya.

Tetapi, banyak yang tidak memperhatikan bahwa karena budaya partiarki itulah sebenarnya Kartini dapat menjadi seorang Kartini yang kita kenal sekarang; sebagai pahlawan bagi kaum perempuan. Karena ia berasal dari keluarga priyayi, maka kehidupan Kartini sebetulnya bisa dibilang baik.

Ia tidak mengalami kesulitan seperti banyak perempuan lain yang pada masa itu masih terjerat kemiskinan dan kebodohan. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda itulah ia mulai membaca dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, terutama Belanda.

Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Bahkan, dalam Sebuah buku kumpulan suratnya kepada Stella Zeehandelaar berjudul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme, Kartini banyak bicara masalah yang dewasa ini menjadi perbincangan kita semua, yaitu masalah sosial, budaya, agama, sampai korupsi.

Kartini melihat perjuangan wanita untuk memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Ini inti dari Feminisme Kartini yang tidak terfokus pada perempuan saja.

Quo Vadis Gerakan Feminisme. Menjadi perempuan saat itu adalah menjadi objek pembangunan (woman in development), bukan sebagai subjek pembangunan (woman and development). Hal ini yang secara substansif diperjuangkan oleh Kartini, walaupun mungkin masih dengan bahasa dan konteks yang berbeda ketika itu.

Tetapi permasalahan yang justru muncul bukan terletak pada sikap apologetik dan permisif pria terhadap keterlibatan perempuan, akan tetapi perempuan an sich. Apakah kesadaran untuk memperjuangkan hak-haknya dan hasrat untuk memperbaiki citranya yang selama ini dianggap sebatas teman di ranjang, pelipur stress pria, ibu yang mengurusi anak-anaknya, telah benar-benar dilakukan perempuan untuk memperoleh kesetaraannya?

Bukan tidak mungkin, upaya-upaya gerakan feminisme yang selama ini masih menjadi perbincangan hangat di semua kalangan hanya cerita dan citra eksklusif para perempuan yang sudah "tercerahkan" dari kehidupan rumah tangga saja.

Eksklusif artinya, untuk menunjukkan sejumlah minoritas perempuan yang benar-benar getol mempromosikan dirinya sebagai orang yang kuat secara kognitif-psikologis dan punya pengaruh besar dalam rimba laki-laki.

Tidak ada yang salah dengan hal ini. Hanya saja konsep kesetaraan gender tidak bermain disini. Yang bermain adalah superioritas individu sebuah gender tertentu. Jika pembangunan dirumuskan sebagai proses pembangunan masyarakat seutuhnya, di mana laki-laki dan perempuan menjadi sasaran pembangunan, seyogianya kedua unsur tersebut dapat berpartisipasi secara equal.

Sensitivitas gender dan altruisme merupakan strategi yang diperlukan dalam upaya peningkatan citra dan status perempuan. Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah kesadaran untuk mengadopsi seoptimal mungkin segala potensi serta terlepas dari kendala struktural, nilai-nilai budaya dan interpretasi ajaran agama yang bias gender dan bias nilai-nilai patriakhi.

Dengan kata lain, tanpa harus mereduksi peran perempuan sejatinya, ketika sebuah pembongkaran wacana feminisme menjadi sebuah keharusan yang niscaya bagi sebuah peradaban bangsa, feminisme ala Kartini menjadi efektif karena ia muncul dari semangat komunal untuk mendobrak sebuah sistematisasi yang bergerak secara diskriminatif. Bukan dari nafsu individu untuk memperoleh penghargaan hanya dari modal “kebebasannya”. Itulah arti dari menjadi seorang perempuan bagi Kartini. Selamat berjuang Kartini-Kartini muda!