Kebosanan itu sering datang menghampiri kita apalagi dalam situasi tidak bisa keluar dari rumah. Diri sendiri dikurung berhari-hari demi memutus rantai pandemi yang kian menyebar. Hal ini dirasakan oleh semua orang termasuk beberapa anak rantau yang sampai hari ini belum bisa menginjakkan kakinya di kampung halaman.

Bersumber dari Kemdikbud.go.id dalam surat edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 17 Maret 2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran covid 19, yang berisi masa belajar paling lama bagi mahasiswa yang seharusnya berakhir pada semester genap 2019/2020 dapat diperpanjang satu semester dan pengaturannya diserahkan kepada pimpinan perguruan tinggi sesuai dengan kondisi dan situasi setempat.

Setelah surat tersebut beredar, beberapa Universitas di Indonesia mengeluarkan surat imbauan untuk kegiatan belajar mengajarnya dialihkan ke rumah masing-masing alias kuliah online sampai Agustus 2020. Secara otomatis, perkuliahan tatap muka ditiadakan sampai menunggu kondisi lebih baik dan aman dari pemerintah.

Kebijakan tersebut juga dilakukan oleh kampus tempat saya kuliah sehingga mahasiswa sudah ada yang pulang ke rumah masing-masing, setelah mengetahui surat edaran resmi sudah dikeluarkan rektor. Tentunya ada juga mahasiswa yang belum pulang karena terkait kondisi di kampung halaman dalam menangani wabah corona ini.

Seperti adanya pengecekan di beberapa batas kota, mulai dari angkutan luar dilarang masuk, pemeriksaan suhu badan kemudian penganjuran untuk mengisolasi diri sendiri selama 14 hari ketika sudah berada di rumah. Tujuan diberlakukannya itu untuk mengantisipasi apakah kita sebagai mahasiswa rantau terpapar virus atau tidak.

Namun bagaimana dengan mahasiswa rantau yang belum pulang ke kampung halamannya? Tentunya harus karantina diri sendiri di kos, membeli kebutuhan untuk beberapa hari ke depan dan lebih menjaga kesehatan seperti sering cuci tangan, memakai masker ketika keluar untuk kepentingan genting. Mungkin dengan cara seperti itu mampu meminimalisir penyebaran.

Banyak yang bisa dilakukan oleh mahasiswa rantau ketika belum berani untuk pulang ke kampung halaman. Kuliah online sesuai dengan arahan dosen, mengerjakan tugas-tugas yang deadlinenya barengan karena online, kemudian olahraga di dalam kamar, video call dengan beberapa teman dan keluarga untuk mendengar atau melihat kondisi mereka secara jarak jauh.

Mungkin jika itu dilakukan terus menerus kita akan sangat jenuh, sampai akhirnya bingung apalagi yang harus dilakukan saat hashtag dirumahaja memang harus dipatuhi.

Dalam situasi seperti ini kita mahasiswa rantau pasti merindukan sosok keluarga hadir di tengah kita. Karena wabah sudah menyebar di mana-mana kebutuhan yang dulunya bisa mudah didapatkan kini agak sulit karena kedai makan atau minum memilih tutup.

Keluar dari kos rasanya takut dan berbahaya untuk diambil, pulang membeli sesuatu pun dari luar sampai di kos rasanya seperti membawa banyak virus yang nempel di badan sehingga mau tidak mau harus mandi dan mengganti baju. Segitunya langkah untuk diambil agar tidak tertular.

Apa saja benda yang dipegang ditangan, entah itu membuka atau menutup sesuatu setelah itu langsung cuci tangan. Bisa dibilang hari-hari kerjaan lebih banyak mencuci tangan. 

Di awal mendengar kampus ditutup sementara karena ada dua mahasiswa yang suspect corona pada saat itu membuat saya cukup waspada karena lokasi kampus dengan kos tidaklah terlalu jauh.

Orang tua di rumah menghubungi saya untuk menanyakan kabar, mereka khawatir namun tidak menyuruh saya untuk pulang. Mereka tahu jika saya masihlah harus kuliah online dan banyak kerjaan yang harus diselesaikan jadinya mereka hanya berusaha meyakini saya untuk tetap tinggal di kos dan tidak keluar rumah.

Ibu saya pun berinisiatif untuk mengirimkan paket barang untuk beberapa hari meski kadang saya suka bandel juga keluar tapi memang kondisinya darurat yakni ketika persediaan makanan sudah habis. Sebenarnya ketika tinggal di rantau dengan kondisi seperti ini tidaklah apa-apa.

karena Work From Home sudah diberlakukan tapi itu semua tidak menghalangi kita untuk melakukan sesuatu. Malahan orang-orang menikmati karena ada pengalaman bekerja dari rumah, jadi makin timbul ide cemerlang untuk menghasilkan suatu karya seperti bermain musik secara virtual berkolaborasi dengan musisi tanah air seperti yang kita lihat di sosial media, kemudian adanya konser musik #dirumahaja yang dibuat tim Narasi Tv Najwa Shihab, main games lewat video call bareng teman-teman, menulis buku dan beberapa artikel, membuat podcast dan lainnya.

Namun bekerja dari rumah tidak semua orang yang bisa mengerjakannya. Work From Home tidak berlaku bagi pedagang di kedai, jalanan, toko-toko, driver online dan lainnya. Karena apa nantinya yang akan mereka hasilkan jika tidak berjualan dan bekerja. 

Jadi mereka tetap seperti hari-hari biasa berjualan meski pembeli yang datang tidak seramai biasanya. Namun meski begitu tetap menjaga kesehatan adalah kunci utama.

Di kota di tempat saya tinggal ini sesekali saya keluar dari kos untuk membeli keperluan sekalian melihat kondisi lalu lintas di jalan besar. Apakah masih ramai atau tidak? Apakah warganya mendengar imbauan untuk tetap stay di rumah? Sejauh ini warga cukup mendengar imbauan dari pemerintah setempat untuk tidak berada di kerumunan, membuat acara yang sifatnya mengundang banyak orang.

Saat saya menyebrang jalan pun rasanya sepi, perempatan jalan yang biasanya penuh bahkan macet oleh kendaran kini tak semacet dulu. Meski pandemi ini sudah banyak menelan korban di dunia, satu-satunya yang bisa diharapkan adalah berdoa sebanyak-banyaknya agar wabah ini cepat berakhir dan manusia yang ada di bumi bisa beraktivitas seperti biasa.

Bagi mahasiswa rantau tetap kerjakan tugas dengan baik, buatlah diri senyaman mungkin dalam situasi seperti ini. Kalau rasanya berani untuk pulang, pulanglah ke rumah tapi karantikan diri di rumah, jangan bermain dan bertemu teman dulu. Apapun yang sedang kita hadapi saat ini hanya perlu satu kekuatan yakni saling menguatkan satu sama lain.