Kita hidup di zaman banjir informasi. Akses informasi, tak seperti di masa lampau, dapat dikatakan mudah dan murah. Media, baik media massa yang hijrah ke digital ataupun media sosial, memanjakan kita dengan informasi yang seakan mendatangi kita. Memberikan bahan untuk bergosip di warung kopi.

Melontarkan opini yang kerap terkesan tak matang. Terasa tergesa-gesa. Prematur karena hanya memerhatikan dari satu sisi. Mudah diterka. Pula, tentu saja seperti terasa diprovokasi oleh pihak tertentu. Inilah sungguh merupakan ironi di zaman seperti ini.

Sebagai bangsa yang memang suka mendengar suatu perihal hal yang simpang siur dan terkesan sungguh spontan, hal ini jelas menjadi hal yang menggelikan sesungguhnya. Bangsa ini memiliki minat rendah terhadap literasi itu sendiri. Sementara budaya berkomentar itu seakan terus meninggi.

Washington Post dalam tahun ini pernah mencantumkan negara paling aktif dalam literatur di dunia. Indonesia hanya ada satu tingkat di bawah Boswana, yang menjadi peringkat 60 dalam daftar ini. Maka, mudahlah kita dijerat dengan arus media. Kita tak memiliki opini yang kuat.

Kita hanya terjerat dalam agenda-setting milik media tanpa merasa perlu melakukan resistensi. Kita terbuai dengan berita sepotong dan percaya kita telah tahu sepenuhnya. Kita percaya bahwa opini dan apa yang diyakini dan menjadi nilai secara komunal adalah suatu hal yang sepatutnya benar.

Dalam sebuah esainya yang berjudul "Mencari Dia" yang kemudian dibukukan menjadi sebuah buku berjudul Pandangan Hidup Muslim, Buya Hamka sempat memperhatikan sebuah perilaku serupa di zamannya. Ia sendiri mengkritisi bagaimana ada banyak sufi yang kemudian muncul namun tak melakukan apa-apa selain pembodohan.

Ulama-ulama yang ia sebut melakukan korupsi tasawuf, melakukan distorsi nilai-nilai agama, dan mempersempit pandangan dengan satu perspektif: agama sebagai atraksi. Maka, tumbuhlah mereka membudaya dan dikotori dengan berbagai nilai, mulai dari kendaraan politik, hingga sekadar untuk mengelu-elukan seorang ulama ‘korup’ sehingga dapat terus menjual dagangannya: azimat.

Beberapa masa setelah zaman Hamka, jelas tak jauh berbeda perubahan ini. Meski berbeda subjek dan objek, namun konsep memengaruhi model ini tetap dipelihara. Padahal, apakah yang diyakini sebuah nilai komunal itu benar adanya?

Inilah yang sempat dikritisi oleh Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and Evil. Buku ini menjelaskan apa yang dipandang Nietzsche tentang nilai-nilai yang dianut masyarakat. Ia mengkritisi cara pandang orang-orang Jerman yang saat itu mayoritasnya Platonist. Hidup dengan satu tujuan, menyembah causa prima – Tuhan yang Maha Esa – adalah sebuah celah. Celah tersebut bukan pada Tuhan, namun pada agama itu sendiri.

Jelas, Nietzche dikritisi habis-habisan. Dalam Bab kronologi versi Cambridge yang saya baca, Nietzsche sampai-sampai mengatakan begini, I’d rather go to the hell with a good taste. Ia dianggap antichrist di zamannya.

Kendati demikian, yang saya lihat tentu saja bagaimana Nietzche sesungguhnya mengkritisi bagaimana opini mampu dikendalikan pemuka agama dan membuat orang-orang percaya bahwa apa yang dikatakan pemuka agama adalah sabda Tuhan. Padahal, nalar yang benar sangat diperlukan dalam beriman, sebagaimana iman itu perlu dalam bernalar, sehingga pola pikir kita tak sesat.

Hal ini tentu menggambarkan bagaimana kita tak beranjak dari pikiran zaman feodal ini di masa sekarang. Dalam tahun ini misalnya, selain upaya membakar buku, propaganda mengenai kiri itu sesat terus disampaikan. Segala upaya membedah terus digagalkan. Padahal, negara seperti Jerman saja tak melakukan hal macam ini.

Alih-alih membakarnya, buku Mein Kampf yang berisi ideologi Nazi itu bahkan sampai di rak-rak toko buku di Indonesia. Sementara di Indonesia, masih banyak yang meraba bagaimana kiri itu sendiri. Mereka langsung memfatwakan sesat. Dan itu didukung oleh media yang ada dan kian berbahaya karena keviralannya.

Atau ketabuan terhadap isu LGBT juga merupakan suatu hal yang lucu. Banyak media yang terus menggambarkan hal ini dengan penuh ironi. Kejijikan kita terhadap dan bangga menjadi homofobia adalah suatu hal yang sebenarnya menggelikan. Karena sudah sampai di mana kita menjadi paranoid dan takut akan hal-hal yang belum terjadi.

Singkatnya, kita selalu menemui artikel pembelaan di berita-berita di berbagai media mengapa LGBT harus dimusnahkan alih-alih ditemukan sebabnya mengapa dan bagaimana kita harus menerimanya.

Akses informasi yang berlimpah itu, sayangnya, gagal kita terapkan. Di linimasa kita misalnya, sering muncul para jagoan beropini dengan pesan “mohon suka lalu bagikan”. Lalu mereka tumbuh dan membagikan opini mereka untuk ditularkan kepada orang lain. Mereka, yang tak gemar membaca itu, kemudian mengiyakan dan lalu membagikan ke orang lain.

Satu yang cukup kontroversial dan sangat mengibakan hati adalah saat ada sebuah akun beropini sangat pendek dengan mengguyonkan cangkul dengan tak berhijab. Itu tentu adalah sesat pikir yang hakiki. Pemikiran yang tak jauh dangkalnya dan bahkan lebih kejam daripada Galileo yang dipenjara oleh pihak gereja karena mengatakan bumi itu bulat.

Terutama mengingat urusan kelamin terkadang memang gila, hal ini jelas tak ada hubungannya dengan hijab. Keberengsekan memang tak mengenal waktu, tempat, apalagi hijab. Untungnya, hal ini masih merupakan propaganda yang kasar dari mereka yang mendaku sebagai media islam itu sendiri sehingga masih bisa dikenali.

Ini adalah segelintir kisah bagaimana kita malah menjadi malas setelah diberkahi dengan akses informasi yang berlimpah. Percaya dengan gosip dan memilih memercayainya. Tersebar dalam guyonan warung kopi saat membahas isu terkini. Menjadi bangsa penggibah.

Meminjam apa yang dikatakan Zen RS, apa yang berbahaya dari minat membaca yang menurun adalah naiknya minat berkomentar. Maka berkoar-koarlah kita selayaknya moralis, yang sayangnya, hanya bersifat reaktif dan minim perspektif. Memaksakan kebenaran, dan menjadi kaum intoleran.

Padahal, untuk hidup menjadi seorang toleran dan menjadi selaras dengan apa yang kita jual kepada turis—negeri yang kaya, beragam, dan bergandengan dengan penuh harmoni—tak perlu cara yang berbeda. Perlu menimbun buku dalam kepalanya, dan membagikannya dengan pena dan ketikan-ketikan keyboard-nya.

Perlu menjadi seorang yang membaca dan membagikannya, tentu saja hal ini bukan berarti kita harus mutlak memiliki buku. Berbagi dan bercerita dalam perpustakaan adalah suatu hal yang patut dilaksanakan. Dan menceritakan hasil bagian itu dengan penuh sukarela adalah yang patut dilakukan.

Jelas, saya sadar, menarasikan ide mengenai bangsa yang toleran karena gemar membaca adalah sebuah ide yang, selain akan membuat saya tampak seperti seorang moralis, sungguh utopis. 

Meski kemudian, ada beberapa perpustakaan yang mewakili nafas yang utopis itu semisal Perpustakaan Batoe Api di Jatinangor dan Katakerja di Makassar. Perpustakaan yang tak hanya hidup dalam menyajikan literasi, namun mendiskusikannya.