Pelajar
3 minggu lalu · 177 view · 5 min baca menit baca · Tips & Trick 92591_33829.jpg
Foto: Pixabay

Menjadi Pendengar yang Baik

Manusia sebagai makhluk sosial yang setiap hari berkutat dengan kegiatan monoton tak pernah lepas dari masalah. Masalah besar atau kecil rasa-rasanya selalu mengikuti seperti sekumpulan lebah madu yang sarangnya diusik. 

Sebagai makhluk sosial juga, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita memerlukan teman untuk mengarungi bahtera kehidupan duniawi.

Namun, ada masa ketika teman yang kita sayangi, orang yang begitu dekat sedang dirundung masalah. Sehingga, selayaknya teman yang baik, kita punya naluri untuk bertanya dalam hati kecil kita: kenapa dia terlihat sedih, ada masalah, apakah ada yang bisa kubantu, apa yang harus kulakukan?

Meski begitu, ada saat di mana kita merasa terlalu bimbang untuk menanyakan semua itu—bukan karena tak acuh, tetapi karena terlalu takut menjadi seorang pendengar yang buruk hingga malah membuatnya makin terpuruk.

Pikiran-pikiran semacam itu sering terjadi di kalangan remaja, bahkan aku sendiri pernah mengalaminya. Tetapi setelah melawati semuanya, kini aku sudah tidak takut lagi. Jadi, dalam utas ini, aku akan membagikan kiat-kiat menjadi seorang pendengar yang baik berdasarkan pada pengalamanku.

Dengarkan dengan saksama

Hal pertama yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pendengar yang baik adalah mendengar semua yang ingin ia katakan. Jangan sekali-sekali memotong ketika temanmu sedang bercerita. 

Oh ya, pastikan kamu jangan sekali-sekali mengatakan, “Aku paham apa masalahmu” sebelum kamu benar-benar mendengar semuanya. Itu akan membuat rasa percayanya padamu jadi berkurang. Daripada melakukan itu, ada baiknya mengucapkan kalimat simpatik kepadanya.

Jangan menyalahkan atau menghakimi

Tahan dulu jika ingin mengeluarkan aji pamungkas menasihati dengan cara menghakimi. Sebesar apa pun kesalahannya menurutmu, itu tidak berarti dia bersalah. 


Tidak bijak menasihati orang yang sedang merasa terpuruk dengan cara seperti itu. Bukannya merasa lebih baik, dia malah akan makin terpuruk. Ingatlah bahwa salah dan benar adalah hal yang subjektif. Cobalah untuk bersikap bodoh amat dengan kesalahannya dan tetap fokus untuk mendengarkan keluh-kesahnya.

Jangan melakukan hal bodoh

Jangan coba-coba membuat lelucon aneh dalam bentuk apa pun, termasuk dengan ucapan, gambar, tulisan, tindakan, ekspresi wajah, atau yang lainnya.

Beberapa orang hanya ingin didengar, beberapa lainnya ingin mendengar saran

Setelah paham betul apa masalahnya, cobalah untuk bertanya apa yang mungkin bisa kamu bantu untuk meringankan masalahnya. Apakah dia hanya ingin didengar atau butuh saran-saran bijak dari seorang teman. 

Jika dia membutuhkan saran, lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Untuk itu, aku punya beberapa saran kegiatan untuk meringankan beban:

a. Menulis

Menulis bisa menjadi sarana tepat untuk meredakan stres. Semua orang bisa menulis. Coba ajak dia untuk menulis apa pun yang dia suka pada sebuah buku kosong.

b. Menjauh dari tempat yang membuatnya stres

Bepergian ke tempat baru akan membuat pikiran menjadi lebih rileks, segar. Pergi ke alam bebas, seperti pegunungan, sawah, sungai sangat disarankan untuk mengisi energi setelah sumpek dengan semua kegiatan monoton itu. Bisa juga melupakan sejenak masalah apa pun yang sedang dihadapi.

c. Berhenti sejenak dari kehidupan sehari-hari


Yakinkan dia bahwa tidak ada salahnya berhenti selangkah untuk maju beberapa langkah. Menjadi tidak produktif sehari untuk menenangkan diri lebih baik ketimbang harus terus berkutat dengan stres hingga berlarut-larut.

d. Lakukan hobi

Jika berhenti dari rutinitas sehari-hari dirasa kurang memberikan hasil yang optimal, coba keluar sejenak dari rutinitas sehari-hari untuk melakukan hobi. Berjemur di pantai, menikmati air sungai, menghirup udara segar perdesaan, atau berkunjung ke peternakan di tengah desa. Itu pasti menyenangkan.

e. Mendengarkan musik.

Jangan menceritakan pengalaman pribadi yang tidak relevan hanya untuk pamer

Ada kalanya pengalaman pribadi kita bisa membantu agar orang lain tidak terjebak dalam lubang yang sama, tapi tidak dengan cara memamerkannya. 

Perlu diperhatikan juga relevansi dan kata-kata yang dipakai. Jangan sampai menceritakan pengalaman yang tidak relevan, apalagi sampai menggunakan kalimat yang menyinggung.

Katakan bahwa kamu akan selalu berada di sampingnya

Sebentar, jangan salah paham dulu. Mengatakan kalimat ini bukan berarti boleh mencari-cari kesempatan dalam kesempitan. Jadi, ada baiknya buatlah kalimat simpatik yang tidak mendramatisasi.

Tanyakan kembali keadaannya

Terakhir, setelah ia bercerita banyak tentang masalahnya, ada baiknya kamu tanya keadaannya sekarang. Jika belum, coba tanyakan kembali apa yang bisa kamu bantu untuknya.

Saran di luar itu

Setelah membaca soal cara menjadi pendengar yang baik, ada baiknya kita mengasah kemampuan kita dalam memahami orang lain. Berikut adalah beberapa cara agar tingkat pemahamanmu terhadap orang lain bisa meningkat:

1. Banyak bergaul dengan orang baru

Bertemu dengan banyak orang, mengobrol, bagi sebagian orang—atau mungkin teman-teman sendiri merasakan hal sama? Tidak masalah. 

Kalau begitu, kamu hanya perlu untuk pergi bersama orang yang pandai bicara. Biarkan ia mengobrol, sedangkan kamu hanya tinggal memperhatikan. Tidak sulit, bukan?

2. Membaca buku

Membaca buku akan memperluas sudut pandang kita dalam melihat dunia. Membaca juga bisa menjadi alternatif pengganti bagi teman-teman yang tidak terbiasa mengobrol dengan orang baru. 


Jika belum terbiasa membaca buku nonfiksi yang membosankan, atau buku motivasi yang dirasa terlalu bertele-tele, tidak masalah. Toh membaca fiksi juga tetap memperluas sudut pandang kita dalam melihat dunia. 

Ada yang bilang fiksi itu adalah representasi kehidupan nyata yang terlalu pahit untuk diungkapkan. Jadi, jangan sungkan untuk membaca fiksi. Buku-buku rekomendasi untuk membuatmu lebih bijaksana: My Grandmother Asked me to Tell You She’s so Sorry karya Fredrik Backman, Dunia Sophie karya Jostein Gaarder.

3. Batasi mulutmu, perluas pemikiranmu

Oke, mungkin ini adalah saran yang sedikit rumit untuk dijelaskan, tetapi aku akan coba menerangkan dengan cara sederhana. 

Kiat ketiga adalah kamu harus mencoba menyelesaikan masalah orang di sekitarmu tanpa memberitahunya—tapi ingat, jangan mencari masalah; kita hanya harus melihat masalah yang sudah terjadi. Misalnya saat tetanggamu terlilit utang, cobalah posisikan dirimu berada di posisinya, apa yang kamu lakukan jika mendapat masalah seperti itu?

4. Miliki teman dengan latar belakang beragam

Memiliki teman dengan latar belalang berbeda dari segi pengalaman, lingkungan, hingga pekerjaan membuatmu belajar banyak hal yang tidak ada di lingkunganmu. Jadi, jangan takut bergaul dengan teman yang punya latar belakang berbeda. 

Baiklah, mungkin hanya itu yang bisa kusarankan untuk membantu teman yang sedang dalam kesulitan. Aku sangat berharap tulisan ini membantu teman-teman sekalian.

Untuk cara menasihati mungkin akan dibahas di artikel yang berbeda, agar tidak terlalu panjang hingga terkesan bertele-tele. Tapi untuk tulisan tentang cara mendengar ini, harus berakhir sekarang.

Tetapi sebelum berakhir, izinkan aku memberi sebuah pesan: ingatlah bahwa selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap masalah, tetapi ada kalanya masalah itu tidak bisa kamu selesaikan sendiri atau bersama teman sekali pun; jadi jangan ragu untuk menghubungi profesional (psikolog) jika masalahmu terus berlarut-larut hingga mengganggu kehidupanmu.

Artikel Terkait