Selagi kita berusaha mengajarkan segala sesuatu tentang hidup kepada anak-anak, anak-anak mengajari kita mengenai hidup itu. -Angela Schwindt

Juni 2020, saya teringat harapan sekaligus doa yang saya panjatkan di malam tahun baru. Saya katakan resolusi tahun ini ingin membaca yang sebanyak-banyaknya. Tentu yang saya pilih bukan sembarang buku bacaan, melainkan yang memang saya sukai.

Satu per satu buku masuk dalam keranjang Shopee. Tidak henti-hentinya saya mengecek dan melacak keberadaan barang pesanan. Selang beberapa hari kemudian, tukang kurir JNE datang membawakan paket yang tak lain isinya adalah buku.

Tibalah saya pada halaman buku yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Di dalamnya dikatakan, "tanda kedewasaan dan kependekaran adalah kalau seseorang sudah rela melakukan sesuatu yang dia tidak sukai atau rela tidak melakukan sesuatu yang dia sukai."

Kalimat tersebut membuat saya berpikir. Setiap hari seorang bocah berusia lima tahun selalu menceritakan superhero idolanya sambil memperagakan gerakan mereka di hadapan saya. Jujur, imaji saya tidak dapat menjangkau, tetapi saya letakkan pekerjaan dan berusaha mendengar, menghargai usahanya. Terlebih lagi, si bocah menambahkan, "aku ingin jadi Ultraman biar bisa melindungi Unda! (panggilan sayang untuk ibunya)".

Pikiran saya tidak mampu menjangkau bila itu benar terjadi. Tetapi jika boleh menyimpulkan, antara dia dan orang dewasa memiliki kesamaan ingin melindungi orang yang dikasihi walau dalam horizon pengetahuan yang berbeda.

Sama halnya saat saya menjalani masa KKN (Kuliah Kerja Nyata), seorang anak SD mengatakan, "cita-citaku ingin menjadi anak KKN!"

Ya! Terdengar lucu memang, tetapi menarik untuk digali. Cara pandang orang dewasa memang sering kali tidak meleset tapi sebenarnya menyempit. Orang dewasa lebih sering mendapati kebuntuan. Mengapa? Karena pikiran kita, orang dewasa, telah terpengaruh oleh toksik seperti halnya berbagai informasi yang masuk ke otak kita.

Sementara itu, mengutip kalimat dari Gobind Vashdev bahwa “kita sebagai orang dewasa lebih suka meracuni pikiran murni (anak-anak) itu dan ironisnya, kita bangga akan racun itu”.

Lain cerita datang dari bocah sebelumnya (usia lima tahun). Suatu hari saya menceritakan masalah saya tentang rasa malu untuk mengatakan rindu pada teman lelaki. Lalu saya katakan pula bahwa dia berada di tempat yang jauh.

Si bocah lalu berceletup, "Kan sekarang ada HP, kan? Ya udah tinggal bilang." Saya jelaskan lagi padanya bahwa ini bukan hanya soal jarak, tetapi juga perasaan malu karena kami adalah laki-laki dan perempuan.

Solusi kembali ia lontarkan, "ah! Gimana kalo seluruh badan dicat termasuk mata juga? Kan nggak kelihatan!”

Saya makin gemas. Itu terdengar seolah bukan solusi yang tepat, tetapi siapa yang akan berpikir sampai di situ. Bukankah itu juga bisa dilakukan (seandainya mau tetapi tidak dengan mata sekaligus)?

Tanpa sadar tidak sedikit dari kita sering meremehkan pendapat anak kecil dan menganggap sebagai suatu omongan yang tidak berguna. Menurut pendapat saya, sejatinya pikiran orang dewasalah yang telah keruh sementara pikiran mereka itulah yang lebih jernih dalam melihat semesta, seolah apa pun bisa dilakukan.

Dalam ingatan masa kecil, ayah saya bukanlah seorang pendengar yang baik. Ia tidak pernah berkenan mendengar kata dan cerita yang keluar dari imajinasi saya sendiri.

Setelah beranjak dewasa, pencarian jati diri mulai tumbuh sehingga memunculkan banyak pertanyaan apa yang salah dan apa yang perlu diperbaiki. Satu hal yang mengganjal dan sering saya keluhkan adalah rasa tidak percaya diri dan takut salah seolah mengakar di dalam diri saya.

Pada mulanya saya hanya berspekulasi sendiri, mungkin hal ini memiliki keterkaitan dengan perlakuan orang tua di usia perkembangan tetapi kemudian, seorang kawan yang juga ahli Psikologi membenarkannya.

Dikatakannya pula, ”rata-rata sifat tidak percaya diri muncul akibat lingkungan termasuk orang tua yang tidak mendengarkan sang anak di usia perkembangannya. Hal ini bisa juga terjadi jika orang tua merendahkannya atau membela orang lain di depan si anak”.

Tidak ada rasa kecewa terhadap orang tua setelah saya mengetahui pembenaran itu. Mereka adalah sosok guru yang berarti bagi pemikiran saya saat ini bahwa setiap anak berhak didengar cerita dan diterima imajinasinya, setiap anak memiliki jiwa yang unik, dan setiap anak berhak mendapatkan penghargaan dengan dihargai ceritanya oleh orang dewasa.

Dan orang dewasa yang (sebenarnya) tidak ingin mendengarkan namun memaksa dirinya untuk mendengar celoteh anak adalah pendekar sejati.

Saya tidak menyalahkan masa lalu. Tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi saat itu. Saya mempercayai ungkapan, tidak ada yang kebetulan, jika bukan blessing ya learning. Kata blessing merujuk pada suatu kejadian yang bersifat positif sementara kata learning merujuk pada sifat yang sebaliknya, negatif.

Saya pribadi menganggap bahwa kesalahan perlakuan orang tua saya mencangkup dua hal tersebut, blessing dan learning. Learning karena saya belajar dari kesalahan mereka dan blessing karena saya pada akhirnya mengetahui letak kesalahannya dan berusaha memperbaiki untuk memutus rantai kesalahan masa lalu.

Jalan hidup menuntun saya menjadi pribadi saat ini. Setidaknya sekarang saya mengerti apa yang bocah-bocah itu katakan walau tidak benar-benar memahami dan setidaknya kini saya lebih peka terhadap mereka yang memiliki sifat rendah diri dan takut akan kesalahan. Mereka tidak selalu memiliki latar belakang yang sama namun mereka pasti punya cerita di balik itu semua.

Saya yakin mereka sedang berusaha yang terbaik sesuai dengan tingkat kesadarannya masing-masing. Menurut studi tentang hubungan sebab-akibat atau dalam istilahnya disebut etiologi bahwa kita (akibat) adalah hasil dari kejadian di masa lalu (sebab). Dalam hal ini saya sangat setuju. Apakah anda juga demikian?

Mengutip dari platform School of Parenting, mendengar dan didengar merupakan suatu proses komunikasi efektif agar dapat menciptakan komunikasi dua arah dan mencegah terjadinya salah paham. Dengan mendengar berarti kita mengakui perasaan anak.

Bila mendengar menjadi suatu kebiasaan, anak akan mudah menceritakan masalahnya kepada kita sehingga kita tahu banyak hal tentang kondisi anak. Akan tetapi, di berbagai kasus, orang tua lebih senang didengar daripada mendengar karena merasa memiliki pengalaman yang lebih banyak dari pada si anak sehingga tanpa sadar orang tua mendominasi komunikasi keduanya.

Di masa pandemi, orang tua yang memiliki anak usia perkembangan harus mendampingi belajar dari rumah. Tentu hal ini menjadikan orang tua lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Sebagai dampaknya, tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan kegiatan rutin yang berlangsung terus-menerus seperti bermain bersama, belajar bersama dan kegiatan serupa yang lainnya karena dianggap menjenuhkan.

Bila kesadaran orang tua akan pentingnya perkembangan anak tidak diperhatikan, anak akan tumbuh sesuai dampak yang ditanamkan. Saya berharap para orang tua membaca pesan singkat ini dan memulai menjalin interaksi yang baik dengan anak, minimal dengan mendengarkan cerita atau imajinasi  yang mereka sampaikan.

Tidak ada yang sia-sia dengan meletakkan pekerjaan dan meluangkan waktu sejenak untuk sekedar mendengarkan cerita dari anak. Bila mampu berpikir jernih, kita akan takjub melihat luasnya semesta yang tercipta dalam keunikan imajinasi mereka. Cobalah!