Saat ini mendaki gunung sudah menjadi gaya hidup bagi banyak orang. Ya.. gaya hidup yang gaya-gayaan. Belakangan ini banyak orang yang berbondong-bondong mendaki gunung. Kalau anda tidak percaya coba saja datang ke gunung ke Gede atau cek websitenya. Kuotanya cepat sekali habis. Atau coba saja datang ke gunung Prau, Papandayan & Ranukumbolo disaat akhir pekan/liburan panjang, MasyaAllah! Itu orang banyaknya bukan main.

Saya yakin mayoritas dari mereka adalah bukan pendaki yang sebenarnya alias pendaki jadi-jadian, karbitan atau pendaki ala-ala korban media sosial & film layar lebar sebut saja 5cm. Kehadiran pendaki-pendaki karbitan tentu saja membuat geram kami para pendaki sejati yang sudah menganggap gunung sebagai rumah kedua kami.

Gue pernah mengalami kejadian di tahun 2012, saat itu gue dan 3 orang teman gue hendak bepergian ke Bromo, kami bertiga menumpang truk sayur dari Pasar Tumpang menuju Kampung Wadas. Kami menumpang truk bersama sekelompok remaja dari Jakarta, mereka ingin tracking ke Ranukumbolo.

Didalam perbincangan kami diketahuilah bahwa para bocah ini tidak membawa peralatan mendaki & logistik yang cukup. Tenda tidak bawa, kantung tidur, matras, kompor juga tidak bawa & mereka juga hanya membawa perbekalan berupa pop mie beberapa gelas.

Dan yang lebih parah lagi bocah-bocah tengik ini ingin pergi ke ranu Kumbolo karena menonton film layar lebar para pendaki karbitan alias 5cm. Tentu saja melihat kondisi itu para bocah tengik itu kami omeli & kami sarankan untuk menyewa perlatan pendakian di Ranu Pani.

Di gunung Papandayan ada kasus berbeda lagi saya pernah melihat seorang pendaki. Dari Gears yang dikenakan oleh orang tersebut sih sudah oke dengan menggunakan backpack, celana panjang, & sepatu merk kenamaan EIGER setelannya sudah pas lah.

Namun yang memalukannnya adalah dengan mudahnya dia membuang bungkus permen sembarangan, gue yakin seyakinnya itu bungkus permen sengaja dibuang, bukan terjatuh dari kantung celananya. Ya spontan lah gue tegur tuh pendaki ba*gs*t (cuma negurnya halus) gue minta dia ambil tuh bungkus permen & dia pun meminta maaf.

Entah apa yang ada di otak orang macam itu, percuma lo dari kecil belajar PPKN omong kosong itu semua kalo gak bisa diamalkan.

Di danau gunung tujuh juga gue pernah nemuin sekelompok bocah alay tengik lagi nyuci Nesting didanau pake sabun Cahaya Matahari (merek disamarkan). Ya jelas gue tegur lah, alasannnya mereka bilang mereka buru-buru. Ya kalo buru-buru mah gak usah lo cuci go*lok.

Mendaki gunung adalah kegiatan ekstrem atau memiliki risiko tingkat tinggi. Faktor keselamatan adalah yang utama dalam melakukan kegiatan pendakian. Kebugaran fisik, jadwal pendakian, peta pendakian, peralatan yang memadai, kesediaan logistik dan yang kedua adalah lingkungan itu sendiri, dan faktor yang ketiga adalah etika pendakian. Sayangya ketiga faktor ini diabaikan dan lebih parah lagi tidak diketahui oleh para pendaki karbitan (yah namanya juga karbitan).

Keberadaan pendaki karbitan ini membuat gunung kini bukan lagi menjadi tempat bagi penikmat alam-alam yang benar-benar mensyukuri kekuasaan Tuhan, melainkan menjadi tempat untuk sekedar berselfie ria & memenuhi akun instagram. Dan berikut ciri-ciri dari pendaki karbitan:

Tidak bisa menjaga tutur kata

Para pendaki jadi-jadian ini kerap kali masih membawa gaya bahasa-nya yang nyebut binatang & kotoran saat mereka di gunung. Kalo belom kena celaka orang-orang macam ini pasti belom kapok.

Mengeluh

Namanya juga naik gunung, kalo gak mau capek & susah-susah ya dirumah aja tidur dikasur yang empuk atau traveling-traveling cantik seperti para petualang cantik. Mengeluh adalah tindakan yang sia-sia ketika kita melakukan pendakian gunung karena akan memberikan sugesti negatif kepada diri kita sendiri. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan pendakian gunung itu sendiri adalah dengan cara menyelesaikannya. Finish it!

Tidak memakai sepatu gunung

Ini yang paling sering ditemui yaitu naik gunung pake sandal. Mereka yang naik gunung pake sandal masih belum menyadari kegunaan sepatu gunung, padahal sepatu gunung berfungsi untuk melindungi kaki dari benturan batu & akar pohon, serta meminimalisir risiko cedera engkel karena memiliki gaya pegas. Ya pilihan ada dikamu. Sayang sama kakimu sendiri atau enggak?

Membawa makanan & air seadanya

Kebutuhan kalori manusia per hari adalah 1000 kalori, namun ketika melakukan pendakiankebutuhan kalori manusia bisa meningkat sampai dua kali lipat. Kalo makanannya cuma indomie & popmie yang bungkusnya gak ramah lingkungan sama aja merusak badan kita sendiri.

Air juga memiliki peranan yang penting untuk minum & memasak. Kalo gunungnya memiliki sumber air yang tumpah ruah seperti Semeru, Gede, Rinjani sih gak masalah. Coba naik Ceremai jalur Linggajati yang setiap orang harus membawa setidaknya 8 liter air. Mereka yang karbitan lebih memilih membawa air pas-pasan atau kurang daripada repot-repot membawa air dalam jumlah yang mencukupi.

Beristirahat di tengah jalur

Pendaki karbitan memiliki tipikal mendaki yang cepat namun banyak melakukan istrirahat. Dan yang lebih parahnya lagi karena mereka tidak tahu etika mereka beristirahat ditengah jalur, padahal aktivitas mereka ini menggangu para pendaki lainnya.

Tidak bertegur sapa

Carrier adalah identitas kami para pendaki gunung. Tegur sapa dan perbincangan hangat akan terjalin diantara kami para pendaki meskipun belum saling mengenal. Namun hal ini tidak terjadi pada pendaki karbitan. kini sudah tidak ada lagi tegur sapa & perbincangan diantara pendaki.

Karena memiliki uang pendaki karbitan ini mengeksklusifkan dirinya dengan pendaki lain. Pernah suatu kali gue berlima hendak naik ke Slamet. Gue dan temen gue si Kiki menjadi leader dalam pendakian ini, sisanya Hanya ngekor saja. Kiki terbilang masih baru dalam pendakian gunung tapi dia adalah pecinta alam yang baik fisiknya pun tangguh sedang tiga kawan gue lainnya bener-bener pemula..la..la..la..la..laaaaa.

Di stasiun Purwokerto gue ketemu rombongan lain jumlahnya 3 orang mau naik ke Argopuro. Cuma gue & Kiki yang bertegur sapa & berbincang dengan rombongan ini yang ternyata berasal dari Tangerang, sisanya gak mau join, mereka cuma mau ngekor gue aje.

Mengabaikan keberadaan pendaki lain

Buat karbitan yang penting foto & berselfie ria. Mereka tidak mengindahkan keberadaan pendaki lain. Pernah suatu kali teman saya mendapati ada pendaki berselfie ria didepan tendanya tanpa mengucapkan permisi.

Hal-hal seperti diatas akan sering kita temui digunung saat ini terutama di lokasi gunung-gunung favorit & pasti tidak akan bisa dihindari. Pastinya sebagai pendaki sejati kita merindukan suasana pendakian seperti sebelum era sosial media seperti saat ini. Pendaki adalah sebuah identitas, walapun era sudah berubah setidaknya keidentitasan pendaki sejati itu jangan sampai hilang. Jika diuraikan kita sebagai pendaki sejati kita bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

Rutin melatih fisik

Pendaki sejati dikenal dengan memiliki fisik yang kuat karena jam terbangnya digunung. Meskipun sedang tidak mendaki sebaiknya kita tetap rutin berlatih fisik (kardio & power). Fisik kuat pendaki sangat berguna jika terjadi kecelakaan digunung untuk membantu proses evakuasi & SAR.

Mendaki tidak saat libur panjang

Jika kita melalui jalur yang paling umum pada saat liburan panjang sudah dipastikan jalur tersebut pasti akan ramai dikunjungi dan jumlah karbitan pun pasti sangat banyak. Mendakilah disaat weekday (siapin cuti) agar kita benar-benar bisa menikmati pendakian.

Cobalah jalur baru

Jika opsi kedua tidak bisa dilakukan mendakilah melewati jalur yang paling tidak umum. Karbitan cenderung tidak mengetahui jalur ini & biasanya jalur ini lebih sulit seperti Gede via Salabintana, Slamet via Baturaden, Sindoro via Bansari, Merbabu via Swanting.

Kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa dengan membludaknya jumlah pendaki karbitan. namun sebagai pendaki kita wajib mengedukasi para pendaki karbitan, namun banyak juga pendaki karbitan yang tambeng (ngeyel) kebanyakan dari pendaki karbitan ini adalah mengabaikan keselamatan. Kalo udah dikasih tau tapi masih ngeyel ya ceburin aja kejurang. Hahaha, tapi jangan extreme juga kaya begitu. Nanti kamu jadi Artis Patroli kan bahaya.

Pencinta alam pun kini makin jauh dari konteksnya. Kebanyakan dari mereka sebenarnya hanya mencintai background alam yang Indah. Tanpa memandang unsur-unsur lain. Padahal tindakan kita hampir selalu dituntut oleh sudut pandang yang Lokal-Partikular-Fragmentatif.

Ketika kita melihat pohon, kita melupakan unsur Air-Tanah-Udara-Matahari yang telah menumbuhkannya. Karena hanya berkepentingan pada pohon, maka kita Cuma wajib berurusan dengan unsur yang langsung berkaitan seperti. Akar-Batang-Ranting dan daun saja. Kita tak merasa berhutang pada topangan air-tanah-udara dan matahari.

Bisa juga kalau kesadaran kita sedikit lebih luas, kita masih merasa berhutang dengan air dan tanah tempat tumbuhnya. Tapi tetap abai akan peran udara juga matahari. Lebih buruk lagi saat kita hanya terpaku pada buah. Sehingga abai pada peran akar-batang-ranting dan daun yang menopangnya. Kita hanya perlu peduli dengan buah, jadi tak perlu perduli pada akar-batang-ranting dan daun. Apalagi membina kepedulian dengan air-tanah-udara dan matahari

Inilah tipe pendaki ala-ala, atau type orang yang hanya menggunakan pola Kacamata Kuda . Karena pola ini hanya berorientasikan pada kepentingan diri atau kelompok saja. Dan celakanya, sadar atau tidak . pola ini yang sering kita terapkan, sehingga kita nyaris buta terhadap banyak kerusakan langsung atau tak langsung dari setiap tindakan juga kebijakan yang kita buat.

Seperti saat anda hendak mengambil gambar dengan background bagus. Mungkin anda senang dan berterimakasih pada situasi disana, tapi coba dilihat kembali. Apa cukup berterimakasih pada hal yang anda dapat dan fokuskan saja? Tanpa harus membaur dan berbagi rasa dengan lingkungan sekitar?

Membaur pun bukan berarti anda adalah tipikal orang yang supel lho. Alam sendiri bisa menjadi saksi bisu atas ketidak-supelan atau amat sangat tak bersahabat anda dengan dirinya. Coba saja lihat, banyak sampah di gunung, laut, dalam gua,sungai apalagi di Ibukota. Aduh, pecah kepala bisa kalau mikirin hal seperti itu.

Dulu saling sapa saat bersebelahan tenda, sekarang numpang foto di depan tenda orang saja nggak permisi. Dulu uang tak ada artinya di atas, lebih berarti sebuah kebersamaan. Sekarang naik gunung bawa duit semua beres, barang dibawain, masak dimasakin, tenda disediain, air diambilin, cuma buang air saja yang nggak dicebokin. Mungkin, beberapa purnama nanti . Akan ada fasilitas pijat refleksi di atas sana. Atau bahkan sudah ada delivery makanan yang datang kesana. Entahlah, mudah-mudahan nggak ada.

Dulu ke gunung buat cari inspirasi, merenung, berdoa, bertapa, mencari arti hidup. Sekarang ke gunung buat menuh-menuhin instagram, dan mirisnya cuma buat nyampah sama buat corat-coret batu.

Nah, sekarang tinggal kamu pilih mau jadi seperti apa? Kalau bisa jangan yang karbitan ya. Artis karbitan saja cepat menghilang. Apalagi pendaki juga pencinta alam Karbitan?
Salam Lestari guys!!