67042_35976.jpg
tribunnews.com
Budaya · 3 menit baca

Menjadi Penceramah Itu Tidak Mudah

Menjadi seorang penceramah itu tidak mudah karena harus menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada umat dengan santun dan mudah dipahami agar pesan yang tersampaikan tepat sasaran. Syarat untuk menjadi penceramah, yaitu mendalami ilmu yang memadai, memahami ilmu komunikasi, dan memberikan contoh yang baik. 

Sehingga pesan yang disampaikan akan tepat pada sasaran dan kebanyakan umat tidak hanya menginginkan nasehat atau tausiah secara lisan tetapi dengan perbuatan. Masyarakat juga harus dapat memilah-milah dan mendengarkan ceramah yang menekankan pada konten dan substansi, bukan hiburan, banyolan, dan tampilan saja.

Sekarang ini banyak masyarakat yang sudah cerdas. Mereka sudah tahu mana ceramah yang menggunakan ujaran kebencian dan mana yang tidak. Menurut Ustaz Abdul Somad yang pada waktu itu mengisi ceramah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat bahwa di Indonesia jumlah penceramah yang kerap menyebarkan ujaran kebencian hanyalah sedikit. Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat boleh memprotes jika ceramah yang disampaikan memuat ujaran kebencian.

Namun di zaman sekarang ini ada beberapa penceramah yang menyampaikan ceramahnya dengan menggunakan kata yang tidak pantas untuk diucapkan dan dengan nada seperti orang marah. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak kepada masyarakat yang mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang disampaikan dikhawatirkan akan memprovokasi masyarakat dan justru akan meningkatkan kebencian.

Ujaran kebencian atau ucapan kebencian merupakan tindakan komunikasi oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan atau hinaan kepada individu ataupun kelompok lain. Dengan berbagai hal, yaitu ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama dan lain sebagainya.

Contohnya, media sosial saat ini sedang digegerkan oleh ceramah Habib Bahar bin Smith yang diduga menyebarkan ujaran kebencian. Pada ceramahnya, Habib Bahar bin Smith mengatakan “Jokowi kayaknya banci” yang menjadi viral di media sosial sekarang ini. Hal tersebut membuat Jokowi Mania dan Cyber Indonesia melaporkan Habib Bahar bin Smith ke polisi.

Ketika Habib Bahar bin Smith mengatakan kata yang seharusnya tidak dikatakan, bukankah itu merupakan suatu hal yang tidak pantas untuk diucapkan? Apalagi oleh seorang ustaz. Tindakannya berpotensi ditiru oleh masyarakat lainnya. 

Tentu ini sangat kita sesalkan karena hari ini kita mengidam-idamkan suatu kedamaian. Hal ini malah dirusak oleh seseorang yang berkata tidak pantas untuk diucapkan dan dikhawatirkan akan meningkatkan kebencian suatu umat. Padahal Islam merupakan agama yang santun dan damai.

Kamis (29/11), Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan bahwa laporan polisi sudah diterima dan akan ditangani oleh Direktorat Siber Bareskrim Polri. Kini video ceramah Habib Bahar bin Smith pun menjadi viral di media sosial.

Setiap orang memiliki gaya penyampaian masing-masing. Ada yang santun dan bertutur kata dalam menyampaikan pendapat, ada juga yang arogan dalam menyampaikan pendapatnya. Akan tetapi, kita sebagai seorang muslim hendaknya mengikuti ajaran Rasulullah dan apa yang Rasulullah teladankan kepada kita. Salah satunya, yaitu gaya bicara ketika bertutur kata kepada kawan serta lawan.

Rasulullah SAW selalu berbicara dengan mudah dan sopan serta lemah lembut kepada semua kawan dan lawannya. Itu karena Beliau Rasulullah SAW menginginkan agar mereka memahami arah pembicaraannya. Beliau sangat menjaga segala perbedaan di antara umatnya sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Rasulullah SAW memiliki kelembutan bicara yang membuat banyak orang termasuk orang kafir menjadi terpesona oleh akhlak beliau. Sehingga banyak dari mereka yang masuk Islam karena melihat keagungan budi pekerti Rasulullah SAW yang berbeda dengan kebanyakan pemimpin. 

Seharusnya para pemimpin negeri mencontoh, meneladani, dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Sehingga apa yang dibicarakan tidak membuat banyak orang tersakiti hatinya.

Jadi mulailah berbicara dengan lembut, sopan, dan santun kepada siapa pun. Contohlah Rasulullah SAW dengan gaya bicaranya yang lembut dan sopan. Gaya berbicara seseorang akan berpengaruh terhadap sosialisasi kita di dalam masyarakat. Apabila kita berkata atau bertutur dengan gaya bicara yang lembut, santun, dan mudah dimengerti, pasti akan banyak yang suka kepada kita. Tapi jika sebaliknya, maka akan banyak orang yang tidak menyukai kita.

Islam itu merupakan agama yang lembut, santun, dan penuh dengan kasih sayang serta mengajarkan tentang kedamaian. Sehingga kita perlu mencontoh sikap Rasulullah SAW ketika menyampaikan sesuatu. 

Penyampaian yang baik akan diterima dengan baik pula. Jadi sampaikanlah sesuatu hal dengan tutur kata yang lembut, sopan, dan santun. Agar mudah di mengerti dan mudah diterima oleh berbagai masyarakat. Tidak dengan penyampaian yang bermuatan ujaran kebencian.

Dengan penyampaian suatu hal secara sopan dan santun itu berarti mengajak masyarakat untuk berbuat sopan. Tetapi ketika kita menypamaikan dengan nada tinggi seperti orang marah dan disertai dengan ujaran kebencian, maka dikhawatirkan akan mengajak masyarakat melakukan hal yang sama.