Pandemi Covid-19 tentu tidak mengenakkan bagi banyak orang. Masyarakat tidak lagi bebas untuk beraktivitas yang melibatkan banyak orang. Karena larangan berkerumun, kita tidak bisa berwisata ke tempat ramai. Kita juga tidak bisa nongkrong di kafe untuk bersosialisasi dengan kerabat dan sahabat. Intinya pandemi mengharuskan kita untuk menghabiskan banyak waktu di rumah dan sebisa mungkin tidak bertemu dengan orang banyak.

Tidak hanya itu, wabah Covid-19 juga mengganggu aktivitas ekonomi. Saya merasa di depan rumah saya menjadi lebih berisik karena para penjual jajanan yang tidak bisa berjualan di SD harus terus berkeliling sampai habis. Sebelum pandemi mereka hanya lewat satu atau dua kali, kini mereka sering sekali lewat. Mungkin orang juga agak enggan untuk keluar rumah untuk membeli karena membatasi interaksi dengan orang lain. 

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat hingga saat ini ada lebih dari 6,4 juta orang yang kehilangan pekerjaannya karena dirumahkan. Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat sebanyak 5 juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dirumahkan. Survei yang dilakukan Jobstreet juga mengungkap hal yang sama. Sebanyak 35% pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 19% pekerja dirumahkan sementara. Pekerja yang justru paling banyak terdampak, adalah mereka yang cenderung merupakan usia produktif atau dengan usia 18-24 tahun dengan persentase 67%.Pagebluk ini tidak hanya membatasi cara kita mencari hiburan, tetapi juga mengurangi penghasilan banyak orang.


Mungkin ini terdengar tidak mengenakkan, tetapi sepertinya pandemi ini akan berlangsung lama. Proses vaksinasi untuk sebagian besar masyarakat Indonesia tidak bisa berlangsung dalam satu dua tahun. Ketika vaksinasi selesai, paling tidak dunia membutuhkan waktu jeda untuk pulih. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita masih harus menghadapi kondisi ini untuk beberapa tahun ke depan.

Dalam kondisi kurangnya penghasilan dan bertambahnya waktu luang, saya kira ini waktu yang tepat untuk belajar hal baru. Setidaknya kita harus mengubah cara pandang kita terhadap krisis ini menjadi sebuah peluang. Seiring bertambahnya waktu luang, kita bisa menggunakannya untuk belajar keterampilan baru. Sekarang kita bisa belajar di manapun dan kapan pun asal ada koneksi internet. Syukur jika keterampilan baru yang kita pelajari itu bisa menambah pundi-pundi pemasukan di kemudian hari. 

Maka, pandemi ini bisa kita jadikan momentum untuk memaksa kita agar belajar keterampilan baru. Meskipun alasan pentingnya sebenarnya adalah perubahan zaman yang menuntut kita untuk selalu belajar hal-hal baru. Kita diharuskan untuk beradaptasi dengan perubahan. Seperti halnya kata Alvin Toffler, buta huruf pada abad ke-21 tidak hanya soal mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi juga soal siapa yang tidak bisa belajar hal-hal baru.

Seiring dunia yang semakin terhubung, kompleks, dinamis, dan tidak menentu, spesialisasi kita tidak lagi dapat menjawab persoalan yang semakin rumit. Semakin terhubungnya sektor-sektor pekerjaan, disiplin ilmu, dan semakin rumitnya masalah, semakin pula dibutuhkan manusia-manusia multispesialis. Mereka yang memiliki kemampuan di beberapa bidang lebih kreatif dan holistik dalam memandang masalah.

Sayangnya kita terlalu lama didoktrin untuk menjadi seorang spesialis. Sejak kecil kita dibentuk menjadi I-shape. Jika ingin sukses kita harus kompeten di satu bidang tertentu. Ini tidak lain adalah warisan revolusi industri yang memang cocok dengan spesialisasi. Padahal di abad informasi kita dituntut untuk menjadi multispesialis atau M-shape. Meskipun tidak sangat ahli, paling tidak kita menguasai beberapa bidang yang saling berhubungan.

Seorang ahli politik misalnya, kini harus juga belajar ilmu multidisiplin lain seperti psikologi politik dan komunikasi politik untuk bisa memahami  fenomena politik hari ini. Kemudian, munculnya politik virtual di media sosial juga mengharuskan mereka untuk melakukan riset dengan bahan-bahan digital. Mau tidak mau mereka harus belajar riset kualitatif digital seperti etnografi digital, analisis sentimen, atau analisis jaringan sosial. Ahli politik juga harus belajar data spasial sehingga akan lebih baik jika mereka paling tidak bisa menggunakan sains data spasial untuk memetakan pemilih misalnya.  

Maka cara pandang kita mesti lebih fleksibel dan lincah (agile) dalam belajar hal-hal baru. Kita mesti terbuka dengan bidang-bidang baru. Kita mesti bisa keluar dari kultur akademik yang semakin lama semakin tersekat-sekat dalam satu disiplin ilmu yang kaku. Dengan paradigma multidisipliner, kita dapat menyelesaikan masalah dengan lebih holistik. Kita dapat akan lebih peka untuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. 

Dalam konteks pandemi, dengan waktu luang yang bertambah kita bisa memanfaatkannya dengan belajar melalui platform-platform daring. Jadi sebenarnya tidak ada alasan tidak punya uang untuk tidak belajar. Bahkan beberapa platform juga menyediakan tawaran pekerjaan paruh waktu jika sudah bisa menguasai keterampilan tertentu. 

Semoga pandemi ini menjadi titik balik yang memaksa kita keluar dari zona nyaman. Kita menjadi terdesak untuk belajar hal-hal baru. Ketika pandemi ini selesai, semoga kita terlahir kembali sebagai insan baru yang lebih kuat daya sintasnya.