27498_63734.jpg
Ilustrasi: seekershub.org
Agama · 3 menit baca

Menjadi Neraka demi Surga

Anda tentu pernah mendengar sebuah cerita kiasan tentang seorang pengusaha sukses yang mencoba meyakinkan seorang nelayan miskin untuk beralih profesi dan menjalani hidup seperti dirinya. Ia sudah kepalang yakin, hanya dengan menjadi seperti dirinya, kebahagiaan adalah ujungnya.

Kepada si nelayan, sang pengusaha meyakinkan bahwa hanya dengan menjadi pengusaha, maka semua yang diinginkan oleh si nelayan akan terkabulkan.

“Coba kalau Anda mau jadi pengusaha, Anda tentu bisa memiliki hari tua yang menyenangkan,” katanya penuh bangga.

“Apa maksudmu hari tua yang menyenangkan?”

“Dengan menjadi pengusaha, Anda bisa santai di hari tua,” katanya sambil berusaha menyembunyikan perut yang membuncah sombong menerjang sabuk di celana mahalnya.

“Tapi saya sudah santai sekarang,” sela nelayan.

“Tapi, kebahagiaan Anda belum sempurna. Kalau jadi pengusaha, Anda bisa pensiun di usia 50 tahun. Anda bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Bermain gitar di sore hari, tidur tenang di siang hari, dan seterusnya.”

“Untuk apa?"

“Tentu untuk menikmati hidup.”

“Bukan, maksud saya, untuk apa saya harus bersusah payah hingga usia 50 tahun demi mendapat segala kenikmatan yang bisa saya dapatkan sekarang?”

Kali ini, si pengusaha diam sejenak. Sebelum ia sempat menjawab, si nelayan melanjutkan kata-katanya.

“Saat ini, saya bisa tidur siang dengan tenang, bermain gitar di sore hari, dan tentu saja, saya punya banyak waktu untuk keluarga.”

“Tapi, Anda bukan pengusaha! Hanya pengusaha yang tahu makna santai,” tegas si pengusaha tak terima.

Setiap kali saya ingat cerita di atas, setiap kali itu pula saya ingat betapa banyak penyiar agama yang ngeyel dan bandel seperti si pengusaha di atas. Dengan berbagai cara, mereka meyakinkan banyak orang bahwa mereka belum ada di surga.

Di kepalanya, surga yang berisi segala macam keindahan itu hanya bisa digapai usai kematian. Artinya, selama Anda masih hidup, selama itu pula Anda tak akan pernah tahu rasanya surga.

Di surga, para penyiar agama kerap menyebut ada banyak kebahagiaan. Ada sungai yang terus mengalir, airnya bersih, tak berbau, tak hitam, dan karenanya tak memerlukan waring atau cat warna-warni untuk menutupinya. 

Di surga, konon ada pula buah-buahan segar yang selalu siap disantap kapan saja. Di surga, ada banyak keindahan yang katanya, tak ada di dunia ini.

Sama seperti si pengusaha dalam cerita di atas, tak sedikit penyiar agama yang mengajak kita bersusah payah untuk melupakan surga yang telah ada di depan mata demi sebuah gambaran surga yang entah ada di mana.

Jika hanya untuk mendapat buah-buahan segar dan sungai yang mengalir lancar, kenapa kita harus menunggu hidup usai kematian? Sama seperti pertanyaan si nelayan, hanya agar bisa tidur tenang di siang hari dan main gitar di sore hari, kenapa harus jadi pengusaha dan pensiun di usia 50 tahun? Toh, sekarang ia sudah bisa mendapatkan semua gambaran kebahagiaan itu.

Bagaimana jika surga yang dibayangkan baru ada di kehidupan setelah kematian itu ternyata sudah ada sekarang? Tepat di depan mata kita. Bagaimana jika kita tak perlu menunggu mati hanya demi merasakan surga?

Jika Anda tipe nelayan seperti cerita di atas, Anda tentu akan meninggalkan si pengusaha lengkap dengan semua bualannya tentang pensiun dan hari tua yang santai. Anda tahu, surga sudah ada di sini, tak perlu menunggu mati. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menikmati surga yang sudah ada, jangan merusaknya.

Namun, jika Anda tipe pengusaha seperti cerita di atas, Anda akan menutup mata terhadap surga yang sudah ada di depan mata dan memilih bersusah payah demi bisa ‘santai’ di kemudian hari, setelah mati.

Tak jarang, demi mendapat surga seperti yang dibayangkan, tipe-tipe pengusaha rela menjadi neraka, tak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain di sekitarnya. Ia akan menyalahkan siapa saja yang tak mau beralih profesi dan menjalani hidup seperti dirinya. Baginya, tak ada jalan menuju surga selain dengan menjadi pengusaha.

Tak jarang pula, hubungan baik dengan orang lain diabaikan demi surga yang diidamkan. Kebahagiaan yang ada di depan mata tak pernah dirasakan dengan seksama, semua ini dianggap hanya sementara dan tak sesuai dengan prinsip ala ‘pengusaha’. Tak boleh bahagia sekarang; harus ditunda, demi kebahagiaan di hari tua.

Bagi yang tak sabar ingin segera menjemput surga dengan cara instan, kesehatan mental dan keseimbangan otak kerap mengalami kerusakan. Tak bisa berpikir waras, kepala terlalu mendongak ke atas.  

Tipe-tipe ala pengusaha mental pensiunan juga cenderung bahagia atas penderitaan atau musibah yang dialami orang lain yang bukan pengusaha. Karenanya tak heran, orang-orang tipe ini sering tak waras. Menyebut penderitaan orang lain sebagai azab, namun meyakini bom bunuh diri dan kebiasaan mengkafirkan sebagai jihad.

Berhentilah jadi neraka, surga sudah ada di depan mata.