Hidup tidak semudah cocote Mario Teguh. Itulah ungkapan yang dapat dengan mudah ditemui di media sosial akhir-akhir ini, di samping istilah Jarkoni (Jawa: bisa ngajar ra bisa ngelakoni). Ungkapan lama sebenarnya. Entah siapa pengujar pertama dari ungkapan yang amat kasar ini. Saya hanya melihat gambar yang banyak dibagikan oleh netizen, memperlihatkan perempuan yang mengenakan kaos putih bertuliskan ungkapan tersebut.

Ungkapan ini pun mendapatkan momentumnya ketika aib sang motivator terbongkar. Aib yang semestinya ditutup rapat itu begitu saja menyeruak dan menjadi konsumsi publik ketika seorang pria, yang dalam bahasa Mario Teguh disebut “bekas” anak ketika menyampaikan klarifikasi, bernama Ario Kiswinar Teguh diundang ke sebuah acara talkshow stasiun televisi swasta. Pria tersebut membeberkan bukti-bukti bahwa ia anak kandung yang ditelantarkan sang motivator.

Barangkali karena merasa karirnya terancam, atau karena televisi swasta yang menjadi saluran sang motivator menyapa pecintanya dengan salam super itu takut ratingnya turun, sang motivator pun menjawab klaim pria itu secara eksklusive setelah sebelumnya menulis quote berbau apologi di akun media sosial miliknya. Begitulah balada sebuah keluarga yang sampai sekarang saling melontarkan pernyataan yang cenderung memojokkan satu pihak, baik melalui media sosial ataupun televisi.

Saya tidak tertarik untuk terus bergosip tentang rumah tangga sang motivator, apalagi menyimpulkan siapa yang salah siapa yang benar, karena memang bukan itu inti dari tulisan ini. Saya justru lebih tertarik dengan tanggapan netizen terhadap kasus ini.

Memang ada sebagian orang yang sebelumnya mengidolakan sang motivator berbalik kecewa dengan munculnya kasus ini. Tapi bagi sebagian orang yang telah lama “bertahan hidup” dengan mengonsumsi nasihat-nasihat kehidupan sang motivator, agaknya kemunculan kasus ini tak membuat perubahan apa-apa terhadap keyakinan mereka. Mereka bahkan terlihat semakin  gigih membela sang motivator dan menuduh pria itu hanya ingin menumpang tenar.

Karena bagi mereka yang tetap membela sang motivator, kasus ini tak ada apa-apanya dibandingkan energi  dari nasihat sang motivator. Mereka merasakan manfaat luar biasa dari kalimat-kalimat, yang menurut Kang Hasan minim nalar, dilontarkan oleh sang motivator dalam menjalani kesulitan hidup.

 Bagi saya pribadi, mereka ini hanya gerombolan manusia anonim, manusia-manusia tanpa identitas yang hidup dengan mauvaise foi, mereka hidup dalam kepalsuan-kepalsuan seperti pelayan restoran Prancis yang diceritakan Sartre. Bukan manfaat dari nasihat sang motivator yang mereka bela, tapi kepengecutan mereka dalam menghadapi kesukaran hidup sehingga lebih memilih untuk menenggak narkose anestesi dari quote sang motivator. Gerombolan manusia dengan herden moral.

Mereka tak hanya pengecut dan penuh kepalsuan, mereka bahkan manja tak mau belajar tentang dunia secara mandiri. Mereka kalah dengan tokoh Jack, bocah lima tahun, dalam film “Room” yang terus belajar tentang dunia dan kehidupan dengan begitu bersemangat. Jack merasa bangga setiap ia mengenal sebuah objek baru. Ia tak bangga dengan kutipan seolah ia paham hidup!

Jack, sekalipun hidup di dalam kamar sejak ia lahir, dan baru keluar ketika umurnya 5 tahun setelah mencoba melarikan diri beberapa kali dengan ibunya, tak membuat pikirannya sesempit kamar itu. Ia terus berimajinasi tentang segala hal. Kamar yang sempit dan pengap menjadi demikian luas baginya.

Ia juga tak jatuh dalam kesedihan, lalu memimpikan dunia yang lebih luas berikut kenikmatan-kenikmatannya.  Di akhir film ia meminta untuk melihat kamar itu, ia bertanya pada ibunya, apakah kamar itu sudah menyusut. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa ia seorang yang menjadikan Amorfati sebagai cintanya, sekaligus menunjukkan dunianya sudah semakin luas karena membandingkan dunia luar dengan kamar itu.

Ia belajar lebih banyak hal baru ketika kebebasan berpikirnya tergenapi oleh kebebasan fisiknya. Maka tak heran ketika ia baru bebas dari kamar di mana ia disekap. Jack mengatakan:

“Sudah 37 jam aku berada di dunia. Aku telah melihat penekuk dan tangga, burung, jendela, dan ratusan mobil. Dan awan, polisi dan dokter. Dan nenek, dan kakek. Tapi ibu bilang mereka tak tinggal bersama lagi. Sekarang nenek tinggal bersama temannya, Leo. Dan kakek tinggal di tempat yang jauh. Aku telah melihat orang-orang dengan wajah, ukuran, dan bau berbeda saling berbicara.

Dunia sama seperti planet TV pada saat yang bersamaan. Jadi, aku tak tahu harus melihat dan mendengar ke mana. Ada banyak pintu dan pintu lainnya. Dan di balik pintu, ada sisi dalam lainnya, dan sisi luar lainnya. Dan semuanya terus terjadi dan terjadi, tak pernah berhenti. Dan juga, dunia selalu merubah kecerahan dan panasnya. Dan ada kuman tak terlihat melayang di mana-mana. Saat kecil dulu, aku hanya tahu sedikit hal, tapi kini aku lima tahun, aku tahu segalanya.”

Menjadi ironis ketika membandingkan Jack yang disekap di dalam kamar sejak lahir dengan kita yang sudah bebas sejak awal kelahiran tak berani menggunakan kebebasan kita untuk belajar mengenal dunia. Fisik kita bisa berpindah ke mana-mana, tapi kita tak mempelajari apa-apa.  Padahal menurut Goethe, “manusia itu mengetahui dirinya sebanyak pengetahuannya tentang dunia.”

Melalui tesis Goethe, jelas bagi kita bahwa mereka yang menggantungkan hidupnya pada motivator untuk mengenal dunia, di samping tak mengetahui dunia kecuali lewat mulut dan quote motivator, mereka juga tak mengenal diri mereka sendiri. Lebih lanjut Goethe mengatakan, “manusia mengetahui dunia hanya dalam dirinya sendiri dan dia menyadari dirinya sendiri hanya dalam dunia ini. Setiap objek yang benar-benar baru dikenal membuka sebuah organ baru dalam diri kita.”

Namun, tentu berbeda dengan Jack yang masih sekedar mengenal dunia secara subjektif. Goethe ingin manusia yang produktif, manusia yang menyerahkan nafsunya untuk memiliki (having), dan kemudian dirinya terisi dengan ada (being). Sementara itu, Erich Fromm menjelaskannya sebagai manusia yang aktif berhubungan dengan dunia, individu yang berproses memahami dunia secara produktif dan membuat dunia menjadi miliknya.

Ide tentang manusia yang produktif ini juga dapat ditemukan dalam pemikiran Spinoza, Hegel, dan Marx. Spinoza membagi kategori efek menjadi dua, yaitu efek pasif (hasrat), dan efek aktif (aksi). Hasrat bagi Spinoza hanya membuat manusia buntu dengan gagasan tentang realitas, kalau tidak bisa dikatakan membuat manusia menjadi menderita. Sementara aksi membuat manusia menjadi bebas dan produktif.

Karena itu, Spinoza menolak mengakui seseorang sebagai penyair ketika ia hanya mengekspresikan kalimat subjektif. Bagi Spinoza, penyair adalah mereka yang mengetahui bagaimana mengapropriasi dunia untuk dirinya sendiri, dan mengekspresikannya. Dalam kaitannya dengan motivator, saya melihat motivator hanya sebagai penyair subjektif yang ditolak Spinoza, lebih-lebih setelah mengetahui betapa terbaliknya kehidupan beberapa motivator dengan kata-katanya.

Sementara itu, Hegel mengatakan manusia itu subjek yang mewujudkan isinya dengan mentranslasikan isi tersebut dari malam kemungkinan ke siang aktualitas. Hegel seolah ingin mengatakan keluar lah dari keterkungkungan dalam kegelapan yang hanya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan, mulailah warnai dunia! Tampaknya inilah yang juga membuat Marx jatuh cinta pada ide Hegel selain dialektika, sehingga Marx percaya bahwa ciri khas manusia adalah adanya gerakan.

Tapi Erich Fromm mengingatkan untuk tidak memahami prinsip gerakan secara mekanis, tetapi seperti yang dikatakan Marx, merupakan kekuasaan esensial manusia yang mendorong menuju tujuannya secara energetis. Sebuah energi dan vitalitas seperti ketika kita mencintai seorang perempuan. Kita melakukan segalanya untuknya sebagai seorang pecinta. Marx mengejek mereka yang hanya ingin dicintai sebagai orang dengan cinta yang tumpul dan mengenaskan.

Saya percaya bahwa manusia seharusnya terus belajar tentang dunia dengan mandiri. Tak ada alasan untuk tak belajar sendiri karena ia kebutuhan. Kita makhluk yang terlempar butuh untuk mengenal dunia ini sejak kita terlempar tiba-tiba tanpa manual book ke sini, sementara realitas satu orang dengan orang lain tentu berbeda dan tak bisa diseragamkan.

Saya tak mungkin menjawab pertanyaan “how” atau “why” dalam hidup saya berdasarkan jawaban orang lain. Kehidupan kita bukan ujian yang pertanyaan dan jawabannya bisa ditanyakan di kelas sebelah. Dunia dan diri kita sendiri ini terlalu rumit untuk dibuatkan sebuah fixed idea berupa quote-quote lalu percaya itu jawaban hidup, dan terlalu sia-sia jika diisi hanya dengan hasrat yang membara tanpa aksi. Maka resep hidup sebenarnya adalah alami, hadapi, pelajari, hayati, kuasai. Titik.

Ngomong-ngomong, saudara-saudaraku yang baik, ini hari yang indah untuk mendengarkan lagu Breaking All Illusions dari Dream Theater. Buat Pak Mario Teguh, lagu This is the Life sepertinya cocok. Semoga saja para fans manusia bijak, tapi tidak bisa ikut bijak, tidak membully saya karena tulisan ini. Salam super.