Agama dan politik adalah dua hal yang terpisah namun terikat satu sama lain. Mereka terpisah karena secara nature cara tentang Tuhan dan manusia. 

Politik berbicara mengenai kemanusiaan dan pelayanan publik yang terintegrasi dalam pemerintah yang ada. Sedangkan agama berbicara tentang relasi vertikal antara manusia dengan penciptanya.

Di dalam dunia ketimuran, khususnya, agama dan politik dianggap sebagai satu hal yang saling berkesinambungan. Kesinambungan yang ada tercermin dari bagaimana mereka para politisi menggunakan strategi-strategi agama di dalam berpolitik. Salah satu contohnya adalah Pemilukada DKI Jakarta yang begitu sarat dengan isu-isu yang berbau dengan agama.

Politik yang ditunggangi oleh penyalahgunaan agama merupakan sebuah tragedi. Bukan agamanya yang menjadi racun bagi politik di DKI Jakarta, melainkan interpretasi dan tafsiran-tafsiran sesat dari agama yang merusak politik dan kontestasi yang sehat.

Mereka menggunakan kata-kata untuk memberikan ketakutan dan menebarkan teror kepada rakyat. Salah satu contoh yang paling nyata dan tidak bisa kita bantah lagi adalah saat nenek bernama Hindun jenazahnya tidak disalatkan. 

Karena apa? Karena nek Hindun ini selama hidupnya menjadi pendukung Ahok. Saya tidak tahu juga bagaimana tetangganya bereaksi terhadap kejadian ini. Tapi itulah realitas yang terjadi saat itu. 

Seharusnya, sebagai pemimpin atau calon pemimpin, politisi-politisi tersebut bisa memberikan edukasi kepada pendukungnya untuk tidak bermain-main dengan isu yang berbau SARA seperti ini.

Agak disayangkan jika hal ini berlarut-larut dan membuat perpecahan makin terasa begitu kuat. Sikap resistensi masyarakat terhadap orang yang berbeda secara agama maupun pemikiran sudah sangat mengkhawatirkan. 

Meskipun pada akhirnya Jokowi dan Prabowo sudah bersatu di dalam satu kabinet. sayangnya residu-residu atau sampah dari pemikiran Pemilukada di DKI Jakarta masih ada dan begitu kuat menyengat baunya. 

Itu sudah terjadi sekitar 2 tahun yang lalu dan masyarakat yang tersakiti ataupun yang menyakiti sering kali masih berseteru satu sama lain. Makanya saya sebut tadi sebagai sampah yang tidak terurai lagi. 

Jujur saja, saya pribadi yang sulit melupakan apa yang terjadi di DKI Jakarta itu tidak berhubungan langsung dengan saya secara pribadi. Isu yang digelontorkan oleh para politisi yang menggunakan mulut-mulut dan tangan-tangan para pendukungnya sangat mengkhawatirkan sampai saat ini. 

Mereka yang tidak paham politik terjebak di dalam agama yang disalahgunakan.

Secara nature atau etimologi, agama adalah satu hal yang seharusnya membawa ketertiban. Bukan malah membawa ancaman dan ketakutan.

Banyak dari rekan-rekan saya yang mengatakan bahwa mereka sebenarnya tahu siapa pemimpin yang lebih baik. Namun sesimple mereka tidak bisa memilihnya hanya karena perbedaan kepercayaan. Agama sudah merenggut posisi orang-orang hebat meski mereka tidak satu agama dengan mayoritas. 

Sungguh miris tentunya ketika kita melihat orang hebat itu tidak bisa memimpin hanya karena politik agama yang disalahartikan.

Seharusnya politik dan agama bisa bersatu dan bukan isu identitas yang dibawa, melainkan isu mengenai keberagaman yang bisa dikembangkan terus-menerus sampai ke depannya.

Indonesia adalah negara yang begitu maju sekaligus begitu terbelakang di dalam pemahaman mereka mengenai agama dan politik beserta dengan kaitan-kaitannya.

Hidup ini tidak melulu berbicara tentang politik maupun agama. Hidup ini berbicara bagaimana kita menjadi manusia di dalam berpolitik, beragama, bernegara, berekonomi, dan juga hal-hal lain. 

Melihat situasi yang terjadi saat ini, rasanya harapan itu makin menipis. Harapan memanusiakan manusia menjadi makin sulit kita lihat dan makin buram.

Galau dan bagi saya sulit sekali untuk memahami bagaimana Indonesia ke depannya. Solusi paling klise yang bisa ditawarkan adalah jangan pernah kaitkan antara penafsiran agamamu terhadap kehidupan politik bangsa ini.

Semua orang tahu bahwa kita di Indonesia adalah negara yang beragama dan berketuhanan. Hanya saja, agama dan ketuhanan itu dilepas dari kehidupan kita sebagai manusia.

Bukankah yang benar adalah agama membangkitkan kemanusiaan kita? Dan kemanusiaan kita membentuk bagaimana cara kita beragama? Lagi-lagi, it's all about politics it's not about religion. Religion is just a tool for someone the gain their ambitions. 

Melepaskan manusia dan unsur sosial di dalam politik dan agama akan membuat kedua hal ini mati. Berbahaya dan tidak ada bagus-bagusnya untuk kita mengikutinya.

Akhir kata, izinkan saya untuk menutup pembahasan mengenai hal ini dengan satu pemikiran kuno yang sudah hidup ribuan tahun. Seorang filsuf bernama Aristoteles mengatakan bahwa demokrasi adalah suara rakyat. 

Rakyat yang bodoh menghasilkan pemimpin yang bodoh, sedangkan rakyat cerdas menghasilkan pemimpin yang cerdas.

Maka hal yang paling benar dikerjakan adalah bagaimana rakyat itu dicerdaskan agar mereka boleh dipimpin dan boleh merasa puas karena atasan mereka atau orang-orang pemerintahan adalah orang-orang yang cerdas. 

Salah satu caranya adalah dengan membaca. Cerdas saja tidak cukup, maka butuh pengabdian dan kejujuran.