Jam 06.00 tepat. Kami harus berkumpul di depan ruang yang kusebut sebagai kelas. Hari ini, kami akan pergi mengunjungi Yayasan Buddha Tzu Chi, di daerah jalan Pantai Indah Kapuk Boulevard, Jakarta Utara. 

Kami adalah peserta dari Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Buya Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) periode 3 tahun 2019, yang dikarantina kurang lebih selama seminggu untuk mendapatkan ilmu dan materi dari pemikiran Buya itu sendiri, dan orang-orang, profesional, dan akademisi yang "sealiran" dengan Buya.

Sebelum tiba di tempat tujuan, kami sempat diberikan sarapan pagi yang "praktis" yang buka 24 jam, makanan atau food masa kini. Sesuatu yang memang masih susah dihindarkan.

Kami tiba setelah sekitar dua jam dari perjalanan berada dalam bis rombongan. Dari luar terlihat Yayasan ini sangat besar, dan luas. Sebelum masuk, kami harus membuka alas kaki kita, digantikan dengan sandal karet merek DAA berwarna cokelat milik mereka. Dan alas kaki kami, kebenaran saya memakai sepatu yang harus saya masukkan dalam kantong khusus.

Baru masuk saja, kami langsung merasakan aura damai. Bagaimana tidak? Gedungnya yang terlihat sangat besar itu masih menyiapkan satu tempat untuk botol bekas. Kami melihat banyak botol-botol plastik yang dibentuk menjadi gabungan botol yang bermodel bundaran besar. Terlihat bagaimana yayasan Buddha Tzu Chi concern menjaga pelestarian lingkungan. 

Kami disambut dengan hangat oleh pengurus Yayasan ini, kami duduk bersama untuk saling berdialog. Di awal, kami mendengarkan penjelasan tentang Yayasan dari pak Andre yang mengatakan yayasan ini ingin menolong orang-orang untuk menghilangkan penderitaannya. Misalnya, karena lapar dan sakit. Sehingga, Tzu Chi bisa memberikan kebahagiaan. Bukan karena materi, tapi pendampingan kekeluargaan dan  kebahagiaan.

Apalagi logo Tzu Chi yaitu bunga teratai yang maksudnya menanam kebajikan. Bunga teratai bisa tumbuh di lumpur tapi tidak rusak dan kotor. Juga logo yang lain, yaitu Perahu cinta kasih, menyeberang pada pantai  kebahagiaan. Organisasi kemanusian ini berdiri di tahun 196 di bawah PBB.

Di Indonesia, yayasan  ini ada di tahun 1993 oleh Master Cheng Yen, Guru suci. Para biksuni mempunyai prinsip kemandirian, mereka mempunyai kegiatan enterpreneurship, yaitu membuat lilin, sepatu bayi, dan bertani.

Mereka mengajak orang-orang berbuat baik dengan "membuat" celengan, maksudnya menyisihkan uang untuk beramal membantu orang lain. Namun, tidak mengganggu ekonomi keluarga, menyisihkan uang sebelum belanja, berbuat baik dulu.

Yayasan ini juga prinsip cinta kasih melalui program lintas agama, lintas iman. Mereka juga menyebutnya jalinan jodoh lintas iman. Mereka bekerja sama dengan NU. Kiai Aqil Siradj bertemu dengan master Cheng Yen untuk urusan kemanusiaan. Bukan hanya program lintas imam, namun juga lintas ras, lintas suku bangsa.

Dengan visi menyucikan hati manusia. Dimulai dari diri sendiri membebaskan diri dari prasangka. Lalu terjun ke masyarakat dengan harmonis. Dunia bebas bencana, karena berbuat baik dan jahat. Sedangkan misi mereka adalah amal sosial, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis dengan sinergi pada pembangunan yang berkelanjutan yang peduli lingkungan.

Semuanya dibangun dengan prinsip cinta kasih dengan nilai kemanusiaan universal. Mereka mengutip kata-kata dari Kiai Aqil Siradj; silaturahmi, silatur amal, program untuk masyarakat, silatur ruh berbuat baik. Dengan berkomitmen nyata, menciptakan pendidikan yang inklusif, bekerja sama membangun kampus NU bagi masyarakat yang mau belajar Islam nusantara. 

Jalinan jodoh juga dilakukan dengan pihak Katolik, dalam hal ini, kampus Sanata Darma. Di mana, kumpulan pastor-pastor muda, frater, ke sana untuk belajar cinta kasih, dan pluralisme.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif Maarif Institute, bapak Abdur Rahim Ghazaly mengatakan ingin mengucapkan terima kasih atas diterimanya peserta SKK -ASM di yayasan Buddha Tzu Chi. Menurutnya, yayasan Buddha Tzu Chi dan Maarif Institute mempunyai nilai-nilai yang sama, prinsip-prinsip dasar yang sama, yaitu humanis.

Dia juga mengapresiasi yayasan yang sudah besar dan bagaimana menjalin kerja sama lebih lanjut. Apalagi kedua tokoh, baik dari Buya Ahmad Syafii Maarif (ASM) dan master Cheng Yen, adalah sebaya. Buya berumur 84 tahun, sedangkan master berusia 83 tahun. "Kami ingin mempertemukan kedua tokoh ini," katanya di akhir.

Berkeliling di Yayasan Buddha Tzu Chi

Kami berkeliling di Yayasan Buddha Tzu Chi tersebut. Penjelasan tentang kegiatan yayasan ini terangkum dalam sebuah museum atau galeri yang sangat besar. Kegiatan-kegiatan mereka yang dititikberatkan pada kemanusiaan dan cinta kasih.

Setelah berkeliling, kami diajak makan siang, walau sebelumnya kami telah mendapat minuman teh dan kue gemblong. Sebelum makan, pemandu kami memberikan "wejangan" agar kami menghabiskan makanan yang telah kami ambil.

Selama ini, kita (harus) miris betapa banyaknya makanan yang dibuang setelah makan. Apalagi, Indonesia termasuk negara kedua pembuang makanan di dunia. Padahal, di luar sana, masih banyak orang yang kelaparan (alangkah jahatnya kita selama ini). 

Setelah makan pun, kita diajak untuk mencuci piring sendiri. Di tempat mencuci piring, terlihat makanan sisa yang hari ke hari makin sedikit.

Betapa berharganya pengalaman hari ini. Apalagi menurut mereka, mereka mempunyai sekolah yang mengajarkan budi pekerti, menanamkan cinta kasih untuk kehidupan yang humanis.