Mari kita berbicara tentang materi dan menjadi kaya. Akan tetapi mari kita melihat fenomena di pedesaan akhir-akhir ini. 

Terkadang di pedesaan aspek materialisme lebih kuat mempengaruhi. Orang tidak ingin membeli traktor untuk membajak sawah (motif agriculture). Tidak lagi ingin lagi membeli caping sebagai atribut dan perlindungan (pun juga motif agriculture) atau membangun kembali pabrik untuk mengolah biji kedelai. Misal menjadi tahu atau tempe. Lalu meraup untung dari kegiatan produksi tersebut. Lalu membeli alat produksi yang lebih besar dan membesarkan usaha.

Orang-orang lebih ingin membeli banyak motor dan lebih banyak kendaraan bermotor yang lainnya. Orang-orang ingin membeli mobil. Memiliki banyak sekali uang dari pekerjaan yang tidak dijalani sehari-hari sebagai petani dan buruh tani.

Kebutuhan untuk menjadi kaya dalam perspektif yang baru ini dan tidak lagi mainstream ditandai dengan kepemilikan kendaraan bermotor dan roda empat. Aspek materialisme, dalam bentuk motif seperti ini, justru mungkin tidak terjadi di kota besar. 

Mobil menjadi skala priorotas bagi beberapa masyarakat pedesaan masa kini. Dalam interaksi sosial hal ini menjadi penting dan menentukan status sosial baru. Hal ini pun akan mempengaruhi gaya bergaul dan menggeser pilihan tutur. Body languange adalah ketika ia menaiki mobilnya di jalanan, meski untuk keperluan yang sebenarnya tidak penting-penting amat.  

Hal lain adalah kepemilikan barang-barang seperti tas dan suara sepatu heels. Semakin ke sini, untuk kalangan perempuan, seberapa gelap, lebar, dan tebal kain kerudung juga turut menentukan "status sosial" seorang perempuan di kelompok tersebut.  Apakah ia sudah dapat dikatakan kaya atau belum. 

Sekali lagi di perkotaan, aspek material semacam ini terkadang justru tidak mempengaruhi dan tidak menentukan apa yang disebut sebagai status sosial. 

Lantas beberapa pertanyaan muncul dari fenomena ini. Apakah ada perang konotasi yang lebih dulu terjadi di dalam barang-barang dan atribut itu, di dalam kerudung dan atau jilbab? Sehingga kemudian hasilnya menjadi konsensus. Lebih jauh kemudian menjadi mainstream baru alat ukur status sosial sebagian masyarakat pedesaan kekinian. 

Manakah yang terlihat lebih "salihah" jika dikenakan antara a) Rabbani, b) Umama, dan c) merek lain yang dibeli di pasar tradisional? Manakah yang mampu memberi kesan "kaya"?

Di dalam mainstream kelompok orang kaya baru pedesaan ini, sekiranya ada ukuran-ukuran. Lantas memunculkan efek hegemonik yang kuat? Akan tetapi justru digunakan untuk menunjukkan kesan superioritas dan bukan lagi kesenangan berbusana semata. 

Pun dengan sarung. Dalam konteks ini, fungsi sarung tetap sama. Secara harfiah dan literal. Akan tetapi di antara motif sarung katun berikut: 

a. kotak-kotak 

b. polos

c. batik, dan

e. motif lain

Manakah yang lebih mendapat beban makan spiritual-religius dalam konteks orang kaya baru pedesaan? Mana yang mungkin lebih tampak "superior"? Sebab alasan kekinian pun sebab konotasi. 

Kerudung/jilbab/ hijab produk modernitas. Pun mungkin dengan sarung. Lantas dalam konstruksi kuasa yang mana ia bekerja? Apakah agama, media, pendidikan, tradisi, dan regulasi?

Bagaimana jika ia sebagai atribut keseharian digunakan oleh masyarakat pedesaan yang mulanya agriculture menjadi kelompok masyarakat baru yang memutuskan pilihan-pilihannya tidak lagi atas motif agriculture tersebut. Intinya terjadi pergeseran. 

Seperti yang disebut di atas. Munculnya "tambahan jadwal" untuk aktualisasi dalam bentuk yang itu. Bukankah ini sebuah kebutuhan eksistensial yang semu sebab hasil dari perang konotasi dan pilihan yang didasarkan pada hasil konsensus kelompoknya saja?

Bagaimana jika mengalami benturan dengan kelompok lain yang tidak mengusung konsensus serupa? Bukankah akan menjadi sebuah persoalan baru di masyarakat ketika konsensus itu tidak diakui di kelompok yang ingin ditunjukkan eksistensinya. 

Selain sebentuk pilihan yang didasarkan pada kebutuhan tidak primer dalam pemutaran alat produksi. Kesimpulan lain pun juga muncul, bukankah Orang Kaya Baru Pedesaan (OKBP) mari kita sebut saja begitu, adalah paling tidak kontekstual. 

Terlepas dari masalah perebutan ruang atas kebutuhan eksistensi. Saya meyakini bahwa meski perebutan ruang itu ada dan terjadi, akan tetapi, saya yakin ruang itu sebenarnya lebih luas dan lebih luas lagi dari yang sanggup dibayangkan. Sehingga bentuk aktualisasi diri dan pemebentukan kelompok Orang Kaya Baru Pedesaan (OKBP) dalam bentuk ini mestinya tidak membentur kelompok-kelompok lain yang tidak satu konsensus. Lalu tetap tercipta harmoni yang secara maenstream kita gadang-gadang dalam masyarakat Tunggal Ika ini. 

Slowbalisasi memberi kesempatan itu. Setelah pandemi dan resesi akan datang era baru yang menggeser selenuhnya globalisasi sebab kita dituntut melambat. Kemajuan tidak diukur lagi dengan kecepatan. Apalagi kecepatan cahaya.

Mobil adalah kecepatan. Kita naik mobil sebab ingin cepat sampai di tujuan. Ia sebuah simbol. Pun juga sebagai antitesis adalah sepeda pancal. Antara globalisasi dan slowbalisasi bisa diibaratkan seperti itu. 

Dalam bentuk era yang akan datang ini, menjadi kaya mungkin tidak berarti lagi memiliki kendaraan roda empat. Pun apakah Orang Kaya Baru Pedesaan juga akan mengambil tempat? Mungkin, menjadi kaya adalah berarti kembali memiliki tanah dan sawah, yakni barang paling statis, diam, dan "paling lambat".

Referensi

1) Slowbalisasi. Dalam The Economist. 2019. Slowbalisation, The Future of Global Commerce

2) Pidato Kebudayaan. 2019. Seno Gumira Ajidarma. Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi.